Unik! Petani Demak Basmi Tikus Andalkan Burung Hantu

Angga Laraspati - detikNews
Rabu, 17 Mar 2021 13:22 WIB
burung hantu
Foto: shutterstock
Demak -

Ada yang unik dilakukan oleh beberapa petani di Kabupaten Demak untuk membasmi hama tikus yang kerap menyerang sawahnya. Mereka mengandalkan burung hantu sebagai media pembasmi hama tikus di sawahnya.

Perintis Korporasi Petani Koperasi Serba Usaha (KSU) Citra Kinaraya Herry Sugiartono mengatakan ada beberapa petani di Demak yang menggunakan burung hantu sebagai media pembasmi hama.

Pemakaian burung hantu sebagai media pembasmi hama pertama kali diinisiasi oleh para petani yang berada di Desa Tlogoweru, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Di tempat ini burung hantu jenis serak jawa atau Tyto Alba dibudidayakan dan dikembangbiakkan.

Tyto Alba merupakan predator alami bagi tikus yang kerap ditemukan di lahan persawahan dan perkebunan. Walau punya wajah yang sedikit lucu, namun dia punya badan yang cukup besar dengan rentang sayap bisa mencapai 1,13 meter dan dapat tumbuh dengan berat hingga 580 gram.

Meski begitu, Tyto Alba bukanlah spesies yang dilindungi walaupun jumlahnya sudah semakin berkurang.

"Burung hantu (Tyto Alba) kalau mau dipakai gampang kok itu, asal kita bikin sarangnya pasti ditempati, itu kan soliter itu jenis burung hantu Tyto Alba jadi kalau dia punya anak pasti dia akan nyari sarang," ungkap Tono kepada detikcom beberapa waktu yang lalu.

Untuk membuat satu sarang burung hantu biaya yang dikeluarkan juga tidak terlalu mahal, hanya perlu menyiapkan kayu bekas atau seng untuk membuat sarangnya. Pembuatannya pun cukup mudah, yang harus dibuat adalah kandang sebesar 40x60x60 cm dengan tiang penyangga setinggi lima meter.

"Biasanya harganya itu murah banget, orang cuma kayu doang toh terus kasih seng, kayu, biar gak lapuk. Asal tempatnya gelap. Lumayan efektif banget itu burung hantu, tapi yang jelas secara alami itu efektiflah," tuturnya.

burung hantuburung hantu Foto: angga laraspati

"Hanya untuk mengurangi saja, kalau lagi banyak hamanya juga tidak kuat itu burung hantu. Tapi cukup efektif karena alami," tuturnya.Hasilnya pun cukup efektif, pemanfaatan Tyto Alba sebagai pembasmi hama mampu mengurangi hama tikus di bawah 0,5%. Namun, Tono mengatakan burung hantu tidak akan efektif bila hama yang menyerang cukup banyak.

Beberapa anggota koperasi yang dirintis Herry juga pernah menggunakan burung hantu sebagai pembasmi hama. Namun, rumah-rumah burung hantu yang pernah ada di sawah-sawah mereka sudah roboh dan kini burung-burung hantu tersebut tinggal di rumah-rumah kosong sekitar sawah.

"Itu kalau habis maghrib terdengar itu burung hantu di daerah sini. itu aktifnya malam, dan tikus itu kan aktifnya juga malam," tandasnya.

Selain menggunakan burung hantu, anggota petani dari koperasi yang ia rintis juga menggunakan senapan angin untuk membasmi tikus-tikus perusak tanaman. Bahkan, ketika dirinya menjadi kepala desa beberapa tahun yang lalu, Herry membuka wisata menembak tikus.

"Biasanya untuk mengusir hama kita juga memakai senapan angin kalau pas musim tanam itu air dibersihkan, wah itu tikus pada berhamburan ya kita tembaki semua. Dulu saya malah membuat paket wisata berburu tikus pake senapan, menarik itu. Dulu itu, tapi sekarang udah gak," ujarnya.

Sementara itu, dalam menjaga kesejahteraan anggotanya dalam mengelola sawah Herry juga melakukan inovasi dengan mengawinkan beberapa bibit unggul untuk menghasilkan bibit padi yang kokoh dan kuat. Ini juga yang diakui oleh seorang petani milenial, Sodikin (25).

Menurut Sodikin bibit yang diberikan koperasi dapat membuatnya panen hingga 6 ton di 1 hektar lahan sawah. Ia juga mengatakan walau ada hama tapi padi yang dihasilkan tetap berbuah. Dari hasil penjualan tersebut, Sodikin memakainya untuk menyewa lahan yang akan ditanami padi di musim panen berikutnya.

"Bulan ini ada 2 hektare, tahun kemarin ada 4 hektare, selisihnya itu disewakan sawahnya. Harga sewa per bahu itu Rp 22 juta, kalau sekarang sih karena banyak gagal panen jadi sekitar Rp 17-18 juta pertahun, dan dalam 1 tahun itu ada 3 kali panen," imbuhnya.

Selain itu, sebagian petani yang menjadi anggota koperasi juga meminjam bantuan KUR dari BRI dalam menggeluti usahanya. Hal ini juga yang dilakukan oleh Sodikin (25) seorang petani milenial yang juga anggota dari koperasi.

"Saya ambil KUR BRI yang Rp 20 juta itu baru sih 2020 akhir ini, dulu ibu saya sih sudah duluan sudah lama. Kalau saya digunakan untuk beli sawah ini lah untuk digunakan sebagai modal beli pupuk," pungkasnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.

(mul/mpr)