Banding Kasus Jiwasraya: Vonis 4 Terdakwa Disunat, 2 Tetap Seumur Hidup

Andi Saputra - detikNews
Jumat, 12 Mar 2021 16:48 WIB
Palu Hakim Ilustrasi
Ilustrasi Palu Hakim (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta telah memvonis banding enam terdakwa kasus korupsi Rp 16 triliun Jiwasraya. Ada empat terdakwa yang vonisnya disunat.

Berikut ini hasil akhir putusan banding kasus korupsi Jiwasraya yang dirangkum detikcom, Jumat (12/3/2021):

1. Mantan Dirut Jiwasraya, Hendrisman Rahim, dari penjara seumur hidup menjadi 20 tahun penjara.

PT Jakarta belum melansir putusan lengkap Hendrisman sehingga belum diketahui alasan lengkap mengapa menyunat hukuman Hendrisman. Namun PN Jakpus menyatakan Hendrisman bersama-sama dengan Direktur Keuangan Jiwasraya periode Januari 2013-2018 Hary Prasetyo, Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Jiwasraya 2008-2014 Syahmirwan, Direktur Utama PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro, Komisaris Utama PT Trada Alam Minera Tbk Heru Hidayat, dan Direktur PT Maxima Integra Joko Hartomo Tirto melakukan berbagai perbuatan yang mengakibatkan kerugian negara hingga Rp 16,807 triliun dalam pengelolaan dana PT Asuransi Jiwasraya.

Terdakwa kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya yang sudah divonis penjara seumur hidup, Hendrisman Rahim berjalan menuju mobil tahanan usai diperiksa penyidik, di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (17/12/2020). Mantan Direktur Utama Jiwasraya yang sedang mengajukan proses banding tersebut diperiksa penyidik Kejaksaan Agung terkait pengembangan kasus di perusahaan pelat merah itu.  Pekan lalu, Direktur Penyidikan Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah menyatakan akan mengejar target menyelesaikan kasus Jiwasraya pada akhir 2020.Terdakwa kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya yang sudah divonis penjara seumur hidup, Hendrisman Rahim, berjalan menuju mobil tahanan setelah diperiksa penyidik, di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (17/12/2020). (Ari Saputra/detikcom)

2. Mantan Direktur Keuangan Jiwasraya, Hary Prasetyo, dari penjara seumur hidup menjadi 20 tahun penjara.

Sama seperti Hendrisman, Hary juga mendapat sunat hukuman dari PT Jakarta. Menurut PT Jakarta, hukuman penjara seumur hidup ke Hary dinilai menyalahi teori pemidanaan yang dianut dalam sistem hukum di Indonesia. Sebab, dalam tatanan teori pemidanaan ketika seseorang dinyatakan bersalah sehingga yang bersangkutan harus dipidana, tujuan pemidanaan tidak semata-mata merupakan pembalasan dengan segala konsekuensi keterbatasan ruang dan lingkungan, rasa malu, dan pengekangan bagi si terpidana.

"Namun di sisi lain juga untuk memberi pembinaan yang berbasis pada pendidikan moral, intelektual dan kesadaran hukum karena setiap orang harus dipandang sebagai makhluk Tuhan yang berpotensi bisa diperbaiki, dibina, dan dikembalikan kepada kehidupan bermasyarakat dan bersosial serta diharapkan dapat beradaptasi dengan lingkungan sosialnya," papar Haryono.

Simak berita selengkapnya di halaman berikutnya.

3. Mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan AJS Syahmirwan dari penjara seumur hidup menjadi 18 tahun penjara.

Syahmirwan lebih beruntung dari Hendrisman dan Hary. Hukumannya disunat menjadi 18 tahun penjara. PT Jakarta menyatakan, hukuman 18 tahun selain dipandang cukup adil, proporsional, dan memiliki nilai kemanfaatan, juga telah sesuai dengan prinsip aturan hukum dan secara sosiologi dapat mengubah pribadi dan perilaku terdakwa ke arah yang lebih baik lagi.

"Karena setiap orang harus dipandang sebagai makhluk Tuhan yang berpotensi bisa diperbaiki, dibina, dan dikembalikan kepada kehidupan bermasyarakat dan bersosial serta diharapkan dapat beradaptasi dengan lingkungan sosialnya," urai hakim.

4. Direktur PT Maxima Integra, Joko Hartono Tirto, dari seumur hidup menjadi 18 tahun penjara.

Tiga terdakwa lain adalah pihak eksternal Jiwasraya, yaitu Joko, Benny, dan Heru. Di klaster ini, Benny paling beruntung karena hukumannya disunat paling rendah yaitu menjadi 18 tahun penjara.

Namun PT Jakarta belum melansir putusan lengkap Joko sehingga belum diketahui alasan lengkap mengapa menyunat hukuman Joko.

Tersangka kasus korupsi, Komisaris PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro keluar gedung KPK, Jakarta, Selasa (21/1/2020) usai menjalani pemeriksaan tim Kejaksaan Agung. Benny yang merupakan tahanan Kejaksaan Agung menjalani pemeriksaan di KPK untuk kasus dugaan korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi PT Asuransi Jiwasraya.Tersangka kasus korupsi, Komisaris PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro, keluar dari gedung KPK, Jakarta, Selasa (21/1/2020) setelah menjalani pemeriksaan tim Kejaksaan Agung. (Ari Saputra/detikcom)

5. Benny Tjokro tetap dihukum penjara seumur hidup.

PT Jakarta memutuskan Benny Tjokro tetap dipenjara seumur hidup. Selain itu, Benny kembali ditetapkan sebagai tersangka di kasus Asabri. Perlawanan Benny lainnya, yaitu menggugat BPK soal hasil audit investigatif yang menyatakan Jiwasraya merugi Rp 16 triliun. Audit ini yang dipakai jaksa untuk menyeret Benny ke penjara.

6. Heru Hidayat tetap dihukum penjara seumur hidup.

Sama dengan Benny, Heru juga tetap dipenjara seumur hidup. PT Jakarta belum melansir putusan Heru mengapa tetap dihukum penjara seumur hidup.

Sebelumnya, PN Jakpus menilai Joko memanfaatkan kedekatannya dengan mantan Direktur Keuangan Jiwasraya Hary Prasetyo. Menurut majelis hakim, Joko lalu menggunakan cara-cara yang licik seolah ingin membebaskan Jiwasraya dari kebangkrutan. Namun malah menyebabkan kerugian yang semakin besar.

Perbuatan korupsi tersebut sudah dilakukan Joko dalam waktu yang cukup panjang, yaitu 10 tahun. Perbuatan itu baru berhenti setelah adanya pergantian jajaran direksi. Kemudian jabatan Joko sebagai advisor PT Maxima Integra dinilai hanya untuk mempermudah Joko dalam melakukan aksinya.

(asp/haf)