Nurdin Abdullah dan OTT yang Tak Melulu Tangkap Orang Sedang Terima Suap

Tim detikcom - detikNews
Senin, 01 Mar 2021 12:14 WIB
Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah mengenakan rompi KPK usai dilakukan pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Minggu (28/2/2021). Gubernur yang pernah mendapat penghargaan dari KPK tersebut kini justru menjadi tersangka dalam kasus korupsi.
Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah saat diperlihatkan ke publik berompi oranye tahanan KPK (Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Nurdin Abdullah kini mendekam di rumah tahanan dengan status tersangka. Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) itu diduga menerima suap dari pengusaha berkaitan dengan sejumlah proyek di Sulsel.

Penetapan tersangka untuk Nurdin Abdullah itu melalui serangkaian operasi tangkap tangan atau yang biasa disingkat OTT pada Jumat, 26 Februari 2021 di 3 tempat berbeda yaitu rumah dinas Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (Sekdis PUTR) Sulsel, Jalan Poros Bulukumba, dan rumah jabatan Gubernur Sulsel. Total saat itu ada 6 orang yang diamankan tetapi KPK hanya menetapkan 3 orang tersangka.

Ketiga tersangka itu adalah Edy Rahmat sebagai Sekdis PUTR Sulsel, Agung Sucipto selaku kontraktor, dan Nurdin Abdullah sebagai Gubernur Sulsel. Pengumuman tersangka untuk ketiganya disampaikan langsung oleh Ketua KPK Firli Bahuri pada Minggu (28/2) dini hari.

Firli menyebutkan bila Agung Sucipto yang merupakan Direktur PT Agung Perdana Bulukumba (APB) sudah lama kenal baik dengan Nurdin Abdullah. Agung disebut berkeinginan mendapatkan beberapa proyek pekerjaan infrastruktur di Sulsel, di mana sebelumnya yang bersangkutan telah mengerjakan beberapa proyek di Sulsel beberapa tahun sebelumnya.

"AS (Agung Sucipto) sebelumnya telah mengerjakan beberapa proyek lain di Sulsel di antaranya; Peningkatan Jalan Ruas Palampang - Munte - Bontolempangan di Kab. Sinjai, Bulukumba (DAK) Tahun 2019 dengan nilai Rp 28,9 miliar," kata Firli.

"Rehabilitasi jalan parkiran 1 dan pembangunan jalan parkiran 2 Kawasan Wisata Bira bantuan keuangan Provinsi Sulsel 2020 kepada Kabupaten Bulukumba TA 2020 dengan nilai proyek Rp 7,1 miliar," imbuhnya.

Firli mengatakan sejak bulan ini Agung diketahui berkomunikasi aktif dengan Edy Rahmat yang disebut pula sebagai orang kepercayaan Nurdin Abdullah. Komunikasi itu dijalin agar Agung kembali mendapatkan proyek di Sulsel untuk tahun ini.

"Dalam beberapa komunikasi tersebut, diduga ada tawar-menawar fee untuk penentuan masing-masing dari nilai proyek yang nantinya akan kerjakan oleh AS," kata dia.

Hingga akhirnya Nurdin Abdullah disebut sepakat memberikan pengerjaan sejumlah proyek termasuk di Wisata Bira untuk Agung. Firli mengatakan suap dari Agung untuk Nurdin diserahkan melalui Edy Rahmat.

"AS selanjutnya pada tanggal 26 Februari 2021 diduga menyerahkan uang sebesar Rp 2 miliar kepada NA (Nurdin Abdullah) melalui ER (Edy Rahmat)," sebut Firli.

Firli menyebut Nurdin Abdullah juga menerima uang dari kontraktor lain pada tahun 2020 yaitu Rp 200 juta, Rp 1 miliar, dan Rp 2,2 miliar sehingga total uang yang diduga diterima Nurdin Abdullah sekitar Rp 5,4 miliar. Namun Firli tidak merinci nama kontraktor lainnya itu.

Namun OTT KPK ini sempat dipertanyakan karena Nurdin Abdullah tidak dalam posisi menerima langsung uang itu. Seperti apa ceritanya?

Simak video 'Nurdin Abdullah Klaim Anak Buah Terima Suap Tanpa Sepengetahuannya':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4 5