Jadi Wabup Tasikmalaya 42 Hari, Deni Sagara Belajar Dekat dengan Warga

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Minggu, 28 Feb 2021 10:22 WIB
Wabup Tasikmalaya Deni Sagara saat bertemu warga (Foto: dok pribadi Deni Sagara)
Wabup Tasikmalaya Deni Sagara saat bertemu warga. (Foto: dok Istimewa)

Deni mengatakan tak banyak yang bisa dilakukannya setelah dilantik. Mengingat, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sudah diketok. Hal itu pun membuat dia tak bisa menyusun program yang dikehendakinya.

"Saya berpikir di waktu pelantikan kemarin per tanggal 10 Februari 2021, ketika dulu saya kan dipilihnya oleh DPRD Februari 2020, jadi 1 tahun yang lalu ya. Kemudian ketika saya mau bikin program apa ini di akhir jabatan yang 40 hari, bulan Februari, program APBD sudah disahkan oleh DPRD, sudah dievaluasi oleh gubernur, tinggal realisasi. Maka apa yang bisa saya lakukan, tugas apa, pengawasan, ya itu berjalan normatif ya," kata Deni.

Namun, meski tak bisa memberi banyak sumbangsih program kerja dalam masa kepemimpinannya, Deni tak pantang menyerah. Menurutnya, salah satu hal yang bisa dilakukannya adalah hadir di tengah masyarakat.

"Tapi bagi saya yang paling penting itu bahwa seorang pemimpin itu harus hadir. Jadi nggak banyak yang bisa saya programkan nggak banyak. Tapi kehadiran pemimpin itu lah yang saya, kehadiran pemimpin di tengah-tengah rakyatnya, masyarakat. Mendengar, menyuarakan, memperjuangkan harapan, dan menumbuhkan optimisme," ujarnya.

Wabup Tasikmalaya Deni Sagara saat bertemu warga (Foto: dok pribadi Deni Sagara)Wabup Tasikmalaya Deni Sagara saat bertemu warga. (Foto: dok Istimewa)

Deni mengatakan masa pandemi COVID-19 ini membuat masyarakat kaget. Karena itu, dia ingin menjadi pemimpin yang tak berjarak dengan warganya di tengah perjuangan melawan COVID-19 ini.

"Pada suasana pandemi ini kan semua kaget, dengan adanya seperti ini. Tiba-tiba yang biasanya kerja 7 hari dalam seminggu, sekarang menjadi 3 hari. Produksinya berkurang. Terus dari segi agama, orang yang biasanya salat aja ke mesjid menjadi tidak, karena adanya pandemi dibatasi kan. Padahal kalau di Tasik ya, konteks 1.000 pesantren, banyak santri. Dengan pandemi ini memang kita harus jaga jarak sesama kita. Tapi dengan Tuhan tidak boleh ada jarak. Apalagi pemimpin ya tidak boleh ada jarak. Pemimpin dengan rakyatnya. Jadi program saya nggak banyak, hanya itu saja. Belajar terus dekat dengan rakyat. Saya belajar, selama 40 hari itu belajar dari rakyat," papar Deni.

Halaman

(mae/fjp)