Warga Keluhkan Polusi Udara Fly Ash PLTU Suralaya di Cilegon

M Iqbal - detikNews
Selasa, 23 Feb 2021 14:36 WIB
Foto Debu Fly Ash di Suralaya (Dok Istimewa)

Sumber foto dari warga Suralaya, Edi
Debu fly ash di Suralaya (Foto: dok. Istimewa)
Cilegon -

Warga di Kelurahan Suralaya, Cilegon, Banten, mengeluhkan debu sisa pembakaran (fly ash) berwarna hitam yang mengotori rumah-rumah warga. Debu itu diduga berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya.

"Akibat debu tebal, di lantai teras rumah dan jemuran pakaian warga juga terkena dampaknya," kata warga Suralaya, Edi Suriana, saat dimintai konfirmasi, Selasa (23/2/2021).

Edi menyebut debu itu tidak biasa dan mengganggu aktivitas warga. Diketahui, pabrik industri paling dekat dengan permukiman warga Suralaya adalah pembangkit listrik Jawa-Bali tersebut.

"Abunya cukup tebal, aktivitas warga terganggu," kata Edi

Respons PLTU Suralaya

Sementara itu, Manajer SDM Indonesia Power Suralaya PGU Tutang Sodikin meminta maaf atas ketidaknyamanan warga. Tutang mengatakan pihaknya segera mengatasi masalah debu itu.

"Peristiwa yang ramai di kalangan warga Suralaya dan media massa terjadi pada Senin, 22 Februari 2021. Perusahaan langsung mengecek wilayah terdampak untuk mendata dan memberikan bantuan sekaligus keterangan kepada masyarakat, dan menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa tersebut," kata Tutang.

Tutang mengungkapkan penyebab munculnya polusi debu hitam itu. Tutang menyebut debu itu muncul karena ada gangguan dalam mesin PLTU.

"Kami menemukan indikasi gangguan pada induced draft (ID fan) 1B, kabel pengatur bukaan damper ditemukan rantas (hampir putus). Tim teknis turun tangan memperbaiki kabel tersebut dalam kondisi unit beroperasi guna menghindari dampak lebih besar dan mempertahankan pasokan listrik," ujarnya.

Tim teknis PLTU Suralaya langsung memperbaiki temuan kerusakan tersebut. Perbaikan dilakukan dalam kondisi unit tetap beroperasi untuk menjaga keseimbangan pasokan listrik Jawa-Bali.

"Perbaikan dimulai, pengendalian damper dilakukan secara mekanis dan statis, aliran udara menjadi maksimum di atas kemampuan electrostatic precipitator (ESP). ESP berfungsi untuk menangkap debu. Akibatnya, sebagian debu tidak tertangkap oleh ESP," kata dia.

Tutang menyebut keluhan warga Suralaya teratasi. Menurut Tutang, tim berhasil memperbaiki kerusakan itu 1 jam setelah ditemukan kerusakan.

"Pekerjaan perbaikan selesai kurang-lebih 1 jam. Unit dan system pengendali emisi kembali beroperasi normal. Atas peristiwa itu, sekali lagi kami menyampaikan permohonan maaf kepada warga terdampak sebaran debu akibat adanya perbaikan pada unit 1. Kami manajemen PT Indonesia Power Suralaya PGU siap bertanggung jawab," pungkas Tutang.

(zap/jbr)