Warga Cilegon Keluhkan Debu dan Pasir dari Proyek Pabrik Kimia: Mata Pedih

M Iqbal - detikNews
Kamis, 10 Des 2020 17:56 WIB
Debu diduga dari material bahan bangunan proyek pabrik di Cilegon kotori rumah warga
Debu diduga dari material bahan bangunan proyek pabrik di Cilegon kotori rumah warga (M Iqbal/detikcom)
Cilegon -

Warga Kelurahan Rawa Arum, Grogol, Kota Cilegon, Banten, mengeluhkan debu pasir yang mengotori rumah mereka. Butiran halusnya beterbangan dan masuk ke mata sehingga mengganggu kenyamanan warga beraktivitas.

Warga menduga debu itu berasal dari proyek pembangunan pabrik kimia yang berada di dekat permukiman. Angin yang berembus kencang belakangan ini membawa material bahan bangunan ke permukiman.

"Sumbernya dari PT Lotte Chemical yang sedang dibangun. Beberapa warga memang kita sudah dengar langsung dari pihak Lotte terkait debu ini," kata tokoh pemuda Rawa Arum, Husen Saidan, Kamis (10/12/2020).

Husen menuturkan sudah sepekan ini debu pasir itu mengotori rumah warga. "Sudah seminggu yang lalu, sampai sekarang masih. Jadi material pasir halus, kan pasir ada beberapa bagian ada yang kayak bedak, ada yang kayak kaca. Jadi yang kayak bedak itu beterbangan itu masuk ke mata, itu pedih banget," ujarnya.

Sementara itu, Ketua RT 03/07 Rawa Arum, Nasehudin, mengatakan warga meminta pemerintah daerah cepat tanggap dalam menangani kasus ini. Permasalahan ini disebut sebagai masalah lingkungan.

Debu diduga dari material bahan bangunan proyek pabrik di Cilegon kotori rumah wargaDebu diduga dari material bahan bangunan proyek pabrik di Cilegon kotori rumah warga (M Iqbal/detikcom)

"Kami (warga setempat) berharap pemerintah tidak diam dan berpura buta menyikapi persoalan ini. Terlebih masalah ini menyangkut lingkungan. Imbasnya terhadap kesehatan dan kelangsungan hidup masyarakat," kata dia.

Nasehudin menuturkan beberapa warganya mengalami sesak napas dan sakit mata akibat debu pasir ini. Hal ini membuat beberapa warga diungsikan ke luar perkampungan.

Nasehudin mengaku belum ada upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan perusahaan untuk menyelesaikan masalah ini.

"Anak saya juga jadi korban. Dia punya asma dan sesak napas. Saya ungsikan ke Serang. Ini namanya secara nggak langsung pembunuhan massal," tuturnya.

(aud/aud)