ADVERTISEMENT

Round-Up

Perjuangan Nakes di Medan Tagih Insentif Sebab Belum Dibayarkan

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 18 Feb 2021 06:11 WIB
Nakes RS Pirngadi yang insentif belum dibayar ngadu ke Ombudsman Sumut (Foto: Datuk Haris/detikcom)
Foto: Nakes RS Pirngadi yang insentif belum dibayar ngadu ke Ombudsman Sumut (Foto: Datuk Haris/detikcom)
Medan -

Tolak tunduk, menuntut tanggung jawab. Tenaga kesehatan (nakes) di RS Pirngadi Medan, Sumatera Utara (Sumut), terus memperjuangkan insentif yang menjadi hak mereka.

Sejumlah nakes RS Pirngadi Medan pun melapor ke Ombudsman RI Perwakilan Sumut. Ada kekecewaan di hati mereka karena di saat setulus hati menangani pasien COVID-19, insentif mereka belum jelas.

"Saya ceritakan untuk uang nakes, tenaga medis kami yang di RS Pirngadi, saya sebagai perawat dalam penanganan pasien COVID-19 dari awal kami merawat pasien COVID-19 pada bulan Maret tahun 2020, jadi itu sudah dijanjikan untuk uang nakes kami. Jadi, pertama kami menerima uang nakes itu bulan 10 (Oktober 2020). Yang saya pertanyakan, pada saat kami meneken itu tiga bulan, kenapa jadi dua bulan yang kami terima," kata salah satu nakes RS Pirngadi Medan, Buala Zendrato, kepada wartawan di kantor Ombudsman Sumut, Rabu (17/2/2021).

"Itu cuma dua bulan, di bulan Maret dan April. Dan kelanjutannya itu selalu dibilang sabar, dibilang bulan 10 nanti bulan 11, bilang 11 nanti sabar. Akhirnya sampai ke tahun 2021 itu tidak ada titik terangnya," sebut Buala.

Buala menuturkan uang insentif yang belum dibayar itu dari Mei 2020. Uang itu sebesar Rp 7,5 juta per bulan dan tanpa potongan apa pun.

Nakes RS Pirngadi yang insentif belum dibayar ngadu ke Ombudsman Sumut (Foto: Datuk Haris/detikcom)Nakes RS Pirngadi berharap insentif yang belum dibayar sejak Mei 2020 segera diberikan (Foto: Datuk Haris/detikcom)

"Terhitung dari bulan lima. Rp 7,5 juta (per bulannya). Itu sah dari kementerian dan tidak ada pemotongan apa pun," ujar Buala.

Buala meminta agar haknya itu dipenuhi. Dia bersama rekan sejawatnya berharap persoalan insentif ini segera mendapatkan kejelasan.

"Yang saya minta, kasihlah hak kami, karena kami ini pekerja. Kami tidak tahu masalah uang ini. Kami hanya menangani, kami bekerja dan melayani setulus hati sampai pandemi ini selesai kami tetap berjuang. Kami tetap berjuang dan kami rela untuk meninggalkan anak-anak kami. Ini sangat serius bagi kami. Tetapi kenapa kami diperlakukan seperti ini. Ini sudah pembohongan bagi kami. Sampai rela kami meninggalkan anak kami, untung sampai sekarang kami kadang sehat dan begitu juga anak," ujar Buala.

Buala menyadari berada di garda terdepan di masa pandemi COVID-19 sangat penuh risiko. Dia mengungkapkan ada belasan rekannya terpapar COVID-19 dan bahkan ada meninggal dunia.

"Ada (terpapar COVID-19). Itu ada sekitar belasan juga. Kenapa kami begini diperlakukan, sementara kami pun tidak tahu. Kami hanya bekerja, bekerja. Yang kami hadapi ini adalah musibah yang besar mendunia, kenapa begini? Kenapa kami diperbuat seperti ini, terasa sakit kami. Karena janji adalah utang, utang harus dibayar. Itu yang kami harapkan," sebut Buala.

Simak juga video 'Kemenkes soal Insentif Nakes: Jangan Khawatir, Masih Akan Dialokasikan'

[Gambas:Video 20detik]



Bagaimana respons Ombudsman terkait pengaduan nakes RS Pirngadi Medan? Simak halaman selanjutnya.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT