Napi Narkoba Bali Berguru ke WN Bulgaria, Keluar Bui Jadi Pelaku Skimming

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 09 Feb 2021 12:10 WIB
Polda Bali menangkap 7 pelaku skimming. Ketujuh pelaku terbagi dua kelompok yang sama-sama dikendalikan WNA (dok detikcom)
Polda Bali menangkap 7 pelaku skimming. (Foto: dok. detikcom)
Denpasar -

Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Bali menangkap tujuh orang pelaku skimming. Mereka terbagi dua kelompok yang sama-sama menjadi agen atau proksi dari warga negara asing (WNA).

Kelompok pertama ialah empat orang WNI yang dikendalikan WNA asal Bulgaria bernama Aldo, yang merupakan narapidana Lapas Kerobokan. Kelompok ini juga punya bisnis haram narkoba.

"Kelompok ini dikendalikan oleh pelaku yang dari lapas, warga negara asing asal Bulgaria. Jadi mereka ini pemetiknya. Yang pengendali atau otaknya adalah pelaku yang ada di lapas. Juga ini terafiliasi dengan pelaku narkoba," kata Wadirreskrimsus Polda Bali AKBP Ambariyadi Wijaya di Mapolda Bali, Selasa (9/2/2021).

Para pelaku ditangkap pada Jumat (8/1). Keempat pelaku tersebut adalah Aris Said asal Jember, yang merupakan mantan narapidana narkoba, dan Endang Indriyawati asal Solo, yang juga istri Aris Said. Kemudian ada Putu Rediarsa asal Buleleng, yang merupakan mantan narapidana kasus penggelapan, dan Christopher B Diaz asal Papua, yang juga mantan narapidana narkoba.

Napi asal Bulgaria yang jadi otak kelompok ini dijebloskan ke Lapas Kerobokan atas kejahatan skimming. Atas keterlibatan dengan empat tersangka, Aldo bakal diperiksa Direskrimsus Polda Bali.

Dalam kasus ini, polisi menyita 5 HP, 234 kartu ATM palsu, dan pakaian yang digunakan tersangka saat beraksi.

"Jadi pelaku ini ada yang residivis narkoba, ada yang residivis kasus penggelapan, dan kebetulan satu blok dengan pelaku Bulgaria yang ada di Lapas Kerobokan. Jadi di sana terjadi komunikasi, transfer ilmu, membuat komitmen-kesepakatan, pada saat keluar nanti mereka yang akan melakukan di lapangan," jelas Wijaya.

Wijaya menegaskan, para pelaku saat ini ditahan di Rutan Polda Bali karena diduga telah melanggar Pasal 30 juncto Pasal 46 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2018 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan/atau Pasal 55 KUHP. Atas kejahatannya itu, pelaku diancam dengan hukuman pidana penjara paling lama 8 tahun dan atau denda paling banyak Rp 800 juta.

Polda Bali menangkap 7 pelaku skimming. Ketujuh pelaku terbagi dua kelompok yang sama-sama dikendalikan WNA (dok detikcom) Ketujuh pelaku terbagi dua kelompok yang sama-sama dikendalikan WNA (Foto: dok. detikcom)

3 Tersangka Skimming Lain Jadi Agen WN Malaysia

Dalam kesempatan ini, Ditreskrimsus Polda Bali juga mengungkap kasus skimming yang dilakukan 3 WNI. Ketiga tersangka menjadi agen WN Malaysia dari negaranya.

"Pelaku yang kelompok kedua ini ada tiga orang, tugasnya adalah memasang dan narik skimming dan ini dikendalikan oleh warga negara Malaysia," kata AKBP Wijaya.

Guna menindaklanjuti otak pelaku ini, Wijaya mengaku bakal berkoordinasi dan memberikan data WN Malaysia tersebut ke Interpol. Menurutnya, data yang dipegang olehnya, WN Malaysia tersebut memang dikabarkan sering ke Bali.

Wijaya mengatakan ketiga pelaku skimming bernama Junaidin, Alamsyah, dan Miska ini berasal dari Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan ditangkap pada Senin (25/1). Mereka merupakan pelaku lintas negara dan provinsi. Peralatan ketiga tersangka pun terbilang banyak.

Lokasi yang pernah dijadikan sebagai tempat aksi kejahatannya antara lain Bali, Tarakan Kalimantan, Surabaya, Jember, Solo, Bima, Sumbawa, Kupang, dan Palembang. Pelaku melancarkan aksinya sejak 2018.

Dari ketiga pelaku, polisi berhasil mengamankan sejumlah barang bukti berupa tiga buah laptop dan satu buah notebook, 1.162 kartu ATM palsu, uang tunai senilai Rp 6,9 juta, karet gelang satu plastik, satu buah alat pembaca/penulis kartu magnetic strip, satu set obeng versatile screwdrivers, 4 buah hidden camera, 3 buah alat skimming berupa cocor bebek, dan 7 buah baterai untuk daya hidden camera.

Selain itu juga didapatkan 4 buah flashdisk, 3 buah modem, 1 buah kaca pembesar, 4 bungkus peralatan elektronik yang diduga akan digunakan untuk hidden camera, 4 kaleng cat semprot, 1 buah card holder berwarna biru, dan bermacam jenis lakban.

"Jadi kalau ini data yang teman-teman penyidik dapatkan di TKP. Data yang mereka sembunyikan nantinya kita akan ungkap terus," terang Wijaya.

Dia menuturkan ketiga pelaku ini merupakan mantan TKI yang sempat bekerja di luar negeri dan mengenal dengan otak pelaku kejahatan di Malaysia. Dari hasil berkenalan itu, WN Malaysia tersebut sempat datang ke rumah pelaku di Dompu sebanyak dua kali. Saat itu WN Malaysia tersebut memberikan peralatan untuk melakukan kejahatan skimming. Bahkan WN Malaysia tersebut sempat mengajari para pelaku untuk melakukan kejahatan skimming selama empat bulan.

Ketiga pelaku ditahan di Rutan Polda Bali. Mereka disangkakan Pasal 30 juncto Pasal 46 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2018 tentang ITE dan/atau Pasal 55 KUHP. Atas kejahatannya, para pelaku diancam hukuman pidana penjara paling lama 8 tahun dan atau denda paling banyak Rp 800 juta.

(jbr/idh)