Dentuman di Bali Akibat Asteroid Masuk Atmosfer, Diduga Jatuh di Laut

Jabbar Ramdhani - detikNews
Rabu, 27 Jan 2021 19:13 WIB
Beberapa bulan terakhir ini bumi terus dihujani oleh partikel asteroid dari luar angkasa. Setidaknya ada fenomena alam yang indah untuk dinikmati seperti hujan meteor Lyrids dan Eta Aquarids. 

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) membagikan kalender astronomi yang akan terjadi pada bulan Mei ini. Salah satunya adalah fenomena alam hujan meteor Eta Aquarids yang terjadi tadi malam dan beberapa hari kedepan.
Ilustrasi benda langit masuk atmosfer bumi (Getty Images/Dan Kitwood)
Jakarta -

Asal-usul bunyi dentuman yang banyak didengar warga Buleleng, Bali, diduga berasal dari benda langit yang jatuh ke bumi. Namun diduga dentuman tersebut muncul saat benda langit tersebut jatuh ke bumi.

"Dentuman terjadi karena gelombang kejut saat asteroid memasuki atmosfer. Gelombang kejut tersebut yang menyebabkan getaran yang terekam di seismograf. Jadi itu terjadi sebelum mencapai daratan," kata Kepala Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (Lapan) Prof Thomas Djamaluddin kepada detikcom, Rabu (27/1/2021).

Hingga saat ini belum ada yang mengetahui lokasi jatuhnya asteroid tersebut. Thomas menduga benda langit itu jatuh ke perairan.

"Jatuhnya sangat mungkin di laut. Kalau jatuh di darat, mungkin ada saksi yang melihatnya," kata dia.

Terkait peristiwa ini, Thomas membandingkan dengan peristiwa di Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel), yang terjadi pada 8 Oktober 2009. Saat itu, proses masuknya meteor ke atmosfer juga terekam seismograf serta memicu bunyi ledakan dan getaran.

"Warga Bone mendengar ledakan disertai getaran kaca-kaca rumah mereka. Warga juga melihat jejak asap di langit. Dugaan Lapan bahwa itu meteor besar akhirnya mendapat bukti dari peneliti NASA yang menggunakan data infrasound. Data infrasound mengindikasikan adanya asteroid jatuh yang diperkirakan berdiameter 10 meter. Belakangan diketahui juga seismograf BMKG terdekat merekam getaran 1,9 magnitudo," ungkap Thomas.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin. Grandyos Zafna/detikcom.Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Thomas Djamaluddin. (Grandyos Zafna/detikcom)

Peristiwa tersebut mirip dengan yang terjadi di Buleleng. Hanya, diperkirakan asteroid yang memasuki atmosfer berukuran lebih kecil dibanding di Bone.

"Warga mendengar ledakan di Buleleng ditambah kesaksian warga lain yang melihat benda bercahaya di langit yang jatuh di laut. Seismograf BMKG juga mencatat anomali dengan getaran 1,1 magnitudo. Bila dibandingkan dengan kejadian di Bone, ada kemiripan sehingga diduga ledakan di Buleleng juga disebabkan adanya asteroid besar yang jatuh. Asteroid itu menimbulkan gelombang kejut yang terdengar sebagai ledakan. Diduga asteroid tersebut berukuran beberapa meter, lebih kecil daripada asteroid Bone," ungkap Thomas.

Sebelumnya, Lapan menjelaskan suara dentuman di Buleleng bisa jadi berasal dari benda antariksa. Peneliti Madya Lapan, Rhorom Priyatikanto, menjelaskan intensitas getaran sekitar magnitudo 1,1.

Dia mengatakan sistem pemantauan orbit.sains.lapan.go.id tidak menunjukkan adanya benda artifisial atau sampah antariksa yang diperkirakan melintas rendah atau jatuh di wilayah Indonesia. Menurutnya, hal ini memperbesar kemungkinan bahwa kejadian yang teramati di Buleleng berkaitan dengan benda alamiah.

Lanjut halaman selanjutnya untuk mengetahui penelusuran yang sudah dilakukan.

Selanjutnya
Halaman
1 2