Dentuman Bikin Heboh Warga Buleleng Terekam Seismograf BMKG Skala M 1,1

Jabbar Ramdhani - detikNews
Senin, 25 Jan 2021 13:39 WIB
Seismograf, alat pencatat getaran gempa, Ilustrasi gempa bumi
Seismograf, alat perekam getaran gempa (Robby Bernardi/detikcom)
Jakarta - Suara dentuman yang terdengar banyak warga Buleleng, Bali, ternyata terekam alat perekam gempa milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Namun dipastikan getaran yang terekam seismograf tersebut bukan berasal dari gempa bumi

"Ya, jadi waktu kejadian itu, rekaman sinyal tersebut dicatat oleh SRBI atau stasiun di Singaraja. Tapi itu bukan sensor seismik gempa bumi, tapi noise getaran yang lain. Bukan gempa bumi," kata Observer Pusat Gempa Regional (PGR) III BMKG Bali, Akram, saat dimintai konfirmasi, Senin (25/1/2021).

Dentuman itu ramai menjadi perbincangan warga Buleleng pada Minggu (24/1) pagi. Akram menjelaskan, seismograf tersebut merekam getaran dari benda yang ada di atas atau bawah permukaan tanah.

Maka kemungkinan seismograf merekam getaran saat benda tersebut jatuh ke bumi. Meski demikian, dia mengatakan peristiwa tersebut tidak menyebabkan terjadinya guncangan sebagaimana bila terjadi gempa.

"Kekuatan getaran yang tercatat magnitudo 1,1. Intensitasnya tidak ada, skala dampaknya tidak ada, karena bukan gempa. Kalau misalnya getarannya meluas, mungkin kita bisa tahu. (Untuk kejadian ini) Tidak menimbulkan getaran," jelas Akram.

Dentuman yang terjadi di Buleleng tercatat seismograf BMKG Bali dalam skala magnitudo 1,1 (dok PGR III BMKG Bali)Dentuman yang terjadi di Buleleng tercatat seismograf BMKG Bali dalam skala magnitudo 1,1. (Foto: dok. PGR III BMKG Bali)

Dentuman tersebut dilaporkan didengar hampir seluruh warga Buleleng. Pihak kepolisian pun menelusuri sumber bunyi dentuman itu.

"Suara ledakan hampir seluruh warga wilayah Kabupaten Buleleng mendengar suara ledakan tersebut di wilayah Gerokgak, Banyuatis, sampai Tejakula," kata Kasubbag Humas Polres Buleleng Iptu I Gede Sumarjaya kepada wartawan, Senin (25/1).

Sumarjaya sendiri mengaku mendengar suara dentuman tersebut, tapi dia tak merasakan getaran. Pihak kepolisian juga berkoordinasi dengan instansi lain dalam penelusuran ini. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyatakan, sebelumnya, dentuman tersebut diduga disebabkan meteorit jatuh ke wilayah Buleleng.

"Beberapa saksi yang dimintai keterangan ada melihat meteorit jatuh ke arah barat laut Buleleng," kata dia.

Sebelumnya, Lapan menjelaskan suara dentuman di Buleleng bisa jadi berasal dari benda antariksa. Peneliti Madya Lapan, Rhorom Priyatikanto, menjelaskan bahwa intensitas getaran sekitar magnitudo 1,1.

"Getaran tersebut memiliki intensitas sekitar 1,1 magnitudo. Berdasarkan informasi tersebut, memang ada kemungkinan bahwa kejadian tersebut merupakan kejadian benda jatuh antariksa," kata Rhorom dalam keterangan tertulis, Senin (25/1).

Dia mengatakan sistem pemantauan orbit.sains.lapan.go.id tidak menunjukkan adanya benda artifisial atau sampah antariksa yang diperkirakan melintas rendah atau jatuh di wilayah Indonesia. Menurutnya, hal ini memperbesar kemungkinan bahwa kejadian yang teramati di Buleleng berkaitan dengan benda alamiah.

Rhorom menjelaskan bahwa meteor berukuran besar atau dikenal juga sebagai bolide atau fireball bisa jadi masuk ke atmosfer, terbakar, dan jatuh di dekat Buleleng. Dalam prosesnya, meteor tersebut dapat memicu gelombang kejut hingga suara dentuman yang bahkan terdeteksi oleh sensor gempa.

"Sebagian besar meteor terbakar di atmosfer dan bisa jadi ada sebagian kecil yang tersisa dan jatuh ke permukaan bumi (darat atau laut). Fragmentasi meteor besar juga jamak terjadi ketika meteor tersebut mencapai ketinggian sekitar 100 kilometer di atas permukaan bumi," ungkapnya. (jbr/idh)