Hiendra Soenjoto Didakwa Suap Eks Sekretaris MA Nurhadi Rp 45,7 Miliar

Zunita Putri - detikNews
Jumat, 22 Jan 2021 13:42 WIB
Sidang Dakwaan Hiendra Soenjoto
Foto: Zunita/detikcom
Jakarta -

Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT) Hiendra Soenjoto didakwa memberi suap kepada mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi sebesar Rp 45,7 miliar. Suap diberikan agar Nurhadi mengurus perkara Hiendra tingkat pengadilan negeri hingga MA.

"Terdakwa telah melakukan beberapa perbuatan yang ada hubungan sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai perbuatan berlanjut, memberi atau menjanjikan sesuatu, yaitu memberikan uang sejumlah Rp 45.726.955.000 kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara, yaitu kepada Nurhadi selaku Sekretaris Mahkamah Agung Republik Indonesia tahun 2012 sampai tahun 2016," ujar jaksa KPK NN Gina Saraswati di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Jumat (22/1/2021).

Jaksa mengatakan Nurhadi menerima uang dari Hiendra melalui menantunya, Rezky Herbiyono. Suap diberikan agar Nurhadi mengurus perkara gugatan Hiendra melawan PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) dan gugatan melawan Azhar Umar.

"Supaya Nurhadi dan Rezky Herbiyono mengupayakan pengurusan perkara antara PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT) melawan PT Kawasan Berikat Nusantara (PT KBN) terkait dengan gugatan perjanjian sewa-menyewa depo kontainer milik PT KBN seluas 57.330 m2, dan seluas 26.800 m2 yang terletak di wilayah KBN Marunda kavling C3-4.3 Kelurahan Marunda Kecamatan Cilincing Jakarta Utara," ucap jaksa.

"Dan gugatan melawan Azhar Umar terkait kepemilikan saham PT MIT, yang bertentangan dengan kewajibannya, yaitu bertentangan dengan kewajiban Nurhadi selaku penyelenggara negara," lanjut jaksa.

Kasus ini berawal pada 2014, ketika Hiendra selaku Direktur PT MIT memiliki masalah hukum dengan PT KBN di PN Jakarta Utara hingga tingkat kasasi di MA serta melawan gugatan Azhar Umar. Dari sinilah, Nurhadi dan Rezky membantu Hiendra.

Kasus bermula sekitar 2014 hingga 2016 Hiendra memiliki masalah hukum dengan PT Kawasan Berikat Nusantara (PT KBN) dan Azhar Umar. Saat itu lah Hiendra menghubungi Nurhadi melalui Rezky untuk mengupayakan gugatan Hiendra itu.

"Atas permohonan Terdakwa kemudian Nurhadi dalam jabatannya selaku Sekretaris Mahkamah Agung RI yang mempunyai kewenangan diantaranya melakukan pembinaan dan pelaksanaan tugas di lingkungan Mahkamah Agung dan Pengadilan di semua lingkungan Peradilan, bersama Rezky Herbiyono mengupayakan pengurusan permasalahan hukum," ungkap jaksa.

Singkat cerita, Nurhadi dan Rezky mengurusi gugatan Hiendra melawan PT KBN dan Azhar Umar. Jaksa mengatakan Hiendra memberikan uang ke Nurhadi melalui Rezky sebesar Rp 45,7 miliar terkait pengurusan perkara itu.

Uang itu, kata jaksa, diberikan dengan cara disamarkan agar terlihat uang kerja sama Hiendra dengan perusahaan Rezky selaku menantu Nurhadi.

"Bahwa untuk pengurusan perkara-perkara tersebut di atas, Terdakwa telah memberikan uang kepada Nurhadi melalui Rezky Herbiyono seluruhnya sejumlah Rp 45.726.955.000,00 yang pemberiannya disamarkan seolah-olah ada perjanjian kerja sama pembangunan pembangkit listrik tenaga mini-hidro (PLTM) antara
Terdakwa dengan Rezky Herbiyono," sebut jaksa.

Simak selengkapnya soal rincian uang yang diberikan Hiendra di halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2