Begini 8 Oknum Polisi Rekayasa 'Ganja Tak Bertuan' Berujung 20 Tahun Bui

Datuk Haris Molana - detikNews
Rabu, 13 Jan 2021 13:41 WIB
PN Medan vonis 8 oknum polisi dalam kasus rekayasa penemuan ganja tak bertuan (Datuk Haris Molana/detikcom).
PN Medan memvonis 8 oknum polisi dalam kasus rekayasa penemuan ganja tak bertuan. (Datuk Haris Molana/detikcom)
Medan -

Pengadilan Negeri (PN) Medan menjatuhkan vonis terhadap delapan oknum polisi dan satu orang sipil di Sumatera Utara (Sumut) terkait kasus penemuan ganja tak bertuan. Mereka divonis 10 hingga 20 tahun penjara.

Dikutip dari dakwaan dalam situs PN Medan, kasus ini terdaftar dengan nomor perkara 2441/pid.sus/2020/PN Medan dengan terdakwa Witno Suwito. Dalam kasus ini, Witno merupakan mantan anggota Polres Padangsidimpuan dengan pangkat bripka.

Rekayasa tersebut berawal pada Jumat, 28 Februari 2020, sekitar pukul 10.00 WIB. Kasat Narkoba Polres Padangsidimpuan AKP Charles Jhonson Panjaitan mengumpulkan anggotanya, yang terdiri atas terdakwa Aiptu Martua Pandapotan, Bripka Andi Pranata, Brigadir Dedi Azwar Anas Harahap, Bripka Rudi Hartono, Brigadir Antoni Fresdy Lubis, Brigadir Amdani Damanik, dan Briptu Rory Mirryam Sihite.

Kemudian Kasat Reskrim memberikan arahan kepada anggotanya untuk menangkap terhadap peredaran gelap narkoba di wilayah hukum Polres Padangsidimpuan. Setelah menerima arahan, anggota bubar untuk mencari target operasi (TO).

Pada pukul 13.30 WIB, terdakwa Witno Suwitno menghubungi HP milik Bripka Andi Pranata dan menyuruh untuk bertemu dengannya di sebuah warung makan di belakang City Walk. Sekitar pukul 13.40 WIB keduanya bertemu. Saat itu Witno mengajak Andi menuju Kampung Darek, Wek VI, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, Kota Padangsidimpuan.

Keduanya menuju lokasi menggunakan mobil yang dikemudikan Andi. Tiba di lokasi, Witno turun dari mobil dan bertemu beberapa warga yang belum dikenalnya di pinggir jalan, depan Gang Dame 5. Dia mengatakan wilayah tersebut akan digerebek dan diperiksa terkait kasus narkoba dari rumah ke rumah.

Setelah itu, Witno kembali ke mobil dan meminta Andi melajukan mobil menuju Tomyam Muslim, yang berada di Gang Dame Kampung Darek. Di lokasi tersebut, Witno dihubungi Edi Santoso alias Edi Ramos, yang masuk dalam DPO.

Edi Ramos berkata kepada Witno ingin menyerahkan ganja miliknya yang berada di Kampung Darek. Dia memberi syarat agar dirinya dan Edi Anto Ritonga alias Gaya tak ditangkap. Edi Ramos mengaku ingin memberikan ganja tersebut karena takut terjadi penggerebekan di Kampung Darek.

Witno setuju dan meminta nomor telepon Gaya. Witno lalu membuat janji bertemu dengan Gaya di Gunung Kampung Darek. Witno bersama Andi pun menuju Kampung Darek, Wek VI, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, Kota Padangsidimpuan. Tapi mereka turun dari mobil karena mobil tak bisa naik ke bukit.

Witno lalu menghubungi Brigadir Amdani Damanik dan meminta untuk menemuinya. Pukul 14.40 WIB, Brigadir Amdani Damanik tiba di lokasi mengendarai sepeda motor. Mereka lalu pergi ke sebuah bukit yang berada di Kampung Darek sesuai perkataan Gaya. Tiba di lokasi sekitar pukul 15.30 WIB, mereka ditemui Gaya.

Gaya mengatakan bersedia menunjukkan ganja tersebut asalkan tak ditangkap. Witno diajak ke sebuah rumah yang berada di bukit tersebut.

"Kemudian Edi Anto Ritonga alias Gaya bersama Kucok (DPO) langsung mengeluarkan 4 buah karung plastik yang berisi narkotika jenis daun ganja kering dari dalam rumah Kucok. Lalu meletakkan karung plastik yang berisi narkotika jenis daun ganja kering tersebut di pinggir jalan," kata JPU.

Setelah itu Witno mengatakan petugas bakal melakukan razia narkoba lagi dari rumah ke rumah. Dia lalu menghubungi Aiptu Martua Pandapotan untuk meminta datang pakai mobil ke Gunung Kampung Darek karena ada barang bukti ganja.

Pada pukul 16.00 WIB, Martua bersama Brigadir Dedi Azwar Anas Harahap tiba di depan rumah Kucok dengan mengendarai mobil. Lalu Kucok dan Gaya memasukkan 4 karung berisi ganja ke mobil.

Setelah itu, Gaya turun dari gunung menuju jalan besar Gang Dame yang diikuti mobil yang ditumpangi Martua Pandapotan bersama Dedi Azwar. Sedangkan Witno dan Amdani Damanik mengikuti dari belakang.

Setibanya di sebuah simpang yang berada di Gang Dame, Gaya memberhentikan mobil tersebut dan menyuruh masuk ke sebuah gang kecil. Kemudian, mobil tersebut masuk dengan cara mundur ke belakang rumah. Lalu Gaya bersama Kocuk menaikkan karung plastik yang berisi ganja. Karena mobil sudah penuh, Gaya bersama Kocuk memasukkan lima karung plastik berisi ganja ke mobil lain.

Setelah itu, Martua dan Dedi Azwar mengendarai mobil yang sudah memuat ganja. Witno dan Andi naik mobil Jazz. Sedangkan Amdani mengendarai sepeda motor langsung menuju Posko Sahran Motor di Jalan Padangsidimpuan-Sibolga, Desa Sigiring-Giring, Kota Padangsidimpuan. Gaya dan Kucok tetap di kampung tersebut.

Setibanya di posko, Witno, Martua, Andi, Dedi Azwar, dan Damanik turun dari mobil. Witno melihat Bripka Rudi Hartono dan Brigadir Antoni Fresdy Lubis serta Briptu Rorry Mirryam Sihite telah berada di dalam Posko Sahran Motor tersebut.

Kemudian mereka merencanakan agar ganja di dalam karung tersebut dijadikan barang temuan yang dipimpin oleh Aiptu Martua Pandapotan selaku Kanit Reserse Satuan Narkoba Polres Kota Padangsidimpuan. Rekayasa lalu diatur Martua.

"Lalu terdakwa berkata kepada Aiptu Martua Pandapotan 'aku nggak sanggup berpikir lagi'. Lalu Aiptu Martua Pandapotan berkata 'ya udah tenang aja, Abang'. Lalu Aiptu Martua Pandapotan langsung mengatur tempat di mana akan ditemukannya ganja kering tersebut namun belum ada disepakati tempat akan ditemukannnya," kata JPU.

Selanjutnya
Halaman
1 2