Sidang Kasus Nurhadi

Saksi Ungkap Kode Panggilan 'Babe' untuk Nurhadi, Rezky Herbiyono 'Juki'

Zunita Putri - detikNews
Jumat, 08 Jan 2021 20:42 WIB
Eks Sekretaris MA Nurhadi kembali diperiksa KPK. Ia diperiksa sebagai tersangka terkait kasus suap dan gratifikasi yang menjerat dirinya.
Nurhadi. (Foto: Ari Saputra)
Jakarta -

Iwan Cendekia Liman merupakan seorang pengusaha mengungkapkan ada kode inisial julukan untuk mantan Sekretaris MA Nurhadi dan menantu Nurhadi, Rezky Herbiyono. Iwan mengatakan kode itu sering dipakainya saat berkomunikasi dengan Rezky.

Hal itu diungkap Iwan dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Jumat (8/1/2021). Iwan mengungkapkan kode inisial untuk Nurhadi adalah 'Babe' atau B sedangkan Rezky adalah 'Juki'.

"Ada istilah-istilah Babe itu Nurhadi, kalau Pak Rezky itu Juki. Juki itu panggilan Rezky Herbiyono di Surabaya, memang panggilannya itu Juki," kata Iwan dalam sidang.

Iwan mengaku inisial itu dipakai ketika dia berkomunikasi dengan Rezky saat membicarakan soal Nurhadi. Menurut Iwan, Rezky memakai kode itu agar tidak ketahuan KPK.

"BAP Saudara, bisa saya ambil alih ya, Sausara mengatakan, adapun memang telah ada kesepakatan antara saya dengan Rezky Herbiyono bahwa terkait dengan nama Nurhadi selaku disingkat menjadi B, yang panggilannya Babe, dikarenakan Rezky Herbiyono takut apabila Hp-nya disadap oleh KPK," ucap jaksa KPK yang diamini Iwan.

Menantu Nurhadi Utang Beli Tas-Jam

Iwan juga mengaku sering memberi pinjaman ke Rezky. Ada tiga kali Rezky meminjam uang ke Iwan.

Rezky, kata Iwan, pernah pinjam uang untuk membeli tas dan jam tangan untuk istri dan mertuanya Tin Zuraida.

"Setiap peminjaman Saudara Rezky kepada saya selalu ada spesifik underlying yang saya selipkan di keterangan, semisal ada peminjaman untuk pembelian jam istrinya ketika ulang tahun, atau pembelian Hermes untuk Ibu Tin Zuraida, atau pembelian Hermes untuk Rizky Aulia Rachmi atau untuk pembayaran PPHTB Patal Senayan. Jadi setiap peminjaman itu memang disebutkan secara spesifik keperluannya apa," tutur Iwan.

Dalam sidang ini, Nurhadi didakwa menerima suap dan gratifikasi Rp 83 miliar bersama-sama dengan Rezky Herbiyono terkait pengurusan perkara di pengadilan tingkat pertama, banding, kasasi, ataupun peninjauan kembali. Nurhadi dan Rezky didakwa menerima suap dan gratifikasi dalam kurun 2012-2016.

Uang suap ini diterima Nurhadi dan Rezky dari Hiendra Soenjoto selaku Direktur Utama PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) agar keduanya membantu Hiendra dalam mengurus perkara. Jaksa menyebut tindakan Nurhadi itu bertentangan dengan kewajibannya sebagai Sekretaris MA.

(zap/dkp)