Sidang Kasus Suap-Gratifikasi Nurhadi

Saksi Ungkap Siasat Menantu Nurhadi Cegah KPK Sita Rumah di Patal Senayan

Zunita Putri - detikNews
Jumat, 08 Jan 2021 18:30 WIB
Eks Sekretaris MA Nurhadi dan menantunya Rezky Herbiyono kembali jalani sidang virtual. Sidang itu digelar terkait kasus suap-gratifikasi yang menjerat keduanya
Menantu Nurhadi, Rezky Herbiyono. (Foto: Ari Saputra)
Jakarta -

Saksi bernama Iwan Cendekia Liman mengaku namanya dipakai sebagai nominee kepemilikan rumah mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi di Patal Senayan, Jakarta. Iwan mengatakan balik nama kepemilikan itu dimaksud agar KPK tidak menyita rumah itu.

Awalnya, Iwan Liman mengaku dirinya pernah diminta menantu Nurhadi, Rezky Herbiyono untuk menjadi nominee pembayaran atas pembelian lahan sawit di Padang Lawas, Sumatera Utara. Kemudian, setelah beres urusan pembayaran lahan sawit, Rezky kembali meminta Iwan agar namanya dipakai untuk proses balik nama rumah di Patal Senayan Jakarta, milik anak Nurhadi, Rizky Aulia Rachmi yang merupakan istri Rezky.

"Patal Senayan agar diminta tidak sampai disita oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sementara di balik namakan dahulu ke nama saya," kata Iwan saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Jumat (8/1/2021).

"BAP Saudara jelaskan selain Patal Senayan juga kebun sawit agar kepemilikannya diganti nama Saudara juga. Gimana penjelasannya?" tanya jaksa.

Iwan menjelaskan proses balik nama itu hanya untuk rumah di Patal Senayan, Jakarta, saja. Terkait lahan sawit dia hanya diminta menjadi pembayaran daru Nurhadi ke pemilik lahan sawit.

"Kebun sawit itu adalah permintaanya untuk nominee pembayaran. Yang nominee kepemilikan (rumah) Patal Senayan," kata Iwan.

Pembelian rumah di Patal Senayan itu juga berasal dari pinjaman Rezky ke Iwan Liman. Saat itu, Rezky meminjam Rp 14 miliar untuk DP, namun sudah dibayar oleh Nurhadi, dan akhirnya Iwan meminjamkan Rezky hanya Rp 4 miliar.

"Awalnya pengakuan Rezky iya. Jadi Rezky minjam kurang lebih Rp 14 miliar itu untuk alasannya sebagai DP Patal Senayan. Namun kemudian dari Rizky Aulia Rachmi saya tahu bahwa DP Patal Senayan sudah dibayar lunas oleh Pak Nurhadi, dan saya hanya mentransfer kurangnya Rp 4 miliar ke rekening Olivia pemilik Patal," ungkap Iwan.

Dalam sidang ini, Nurhadi didakwa menerima suap dan gratifikasi Rp 83 miliar bersama-sama dengan Rezky Herbiyono terkait pengurusan perkara di pengadilan tingkat pertama, banding, kasasi, ataupun peninjauan kembali. Nurhadi dan Rezky didakwa menerima suap dan gratifikasi dalam kurun 2012-2016.

Uang suap ini diterima Nurhadi dan Rezky dari Hiendra Soenjoto selaku Direktur Utama PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) agar keduanya membantu Hiendra dalam mengurus perkara. Jaksa menyebut tindakan Nurhadi itu bertentangan dengan kewajibannya sebagai Sekretaris MA

(zap/dkp)