Kata Dewan Pers soal Media Pemuat Berita 'Komunis China Desak FPI Bubar'

Karin Nur Secha - detikNews
Sabtu, 02 Jan 2021 17:54 WIB
Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Senin, 6 Oktober 2014. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Senin, 6 Oktober 2014. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta -

Dewan Pers memberi tanggapan atas kasus berita 'Partai Komunis China Desak FPI Bubar'. Berita tersebut dicap hoax oleh polisi. Berita itu dimuat oleh media terdaftar di Dewan Pers dan media yang tidak terdaftar di Dewan Pers.

"Terkait ini, medianya terdaftar atau belum terdaftar itu bukan jadi domain utama. Artinya, bisa jadi medianya belum terdaftar karena sesuatu hal dalam proses pendaftaran," kata Ketua Komisi Hukum dan Perundang-Undangan Dewan Pers Agung Dharmajaya saat dihubungi detikcom, Sabtu (2/1/2021).

Ardian ditangkap karena unggah link berita media online soal keterlibatan Partai Komunis China desak FPI bubarArdian ditangkap karena mengunggah link berita media online soal keterlibatan Partai Komunis China mendesak FPI bubar (Foto: dok. istimewa)

Tautan (link) berita 'Lewat Parpol di RI, Partai Komunis China Disebut Desak Bubarkan FPI' dibagikan (share) oleh warga bernama Ardian Rafsanjani (25). Ardian ditangkap polisi meski akhirnya dilepaskan lagi. Soalnya, Ardian dinilai polisi telah menyebarkan hoax. Link yang dibagikan Ardian adalah link berita dari law-justice.co, media yang terdaftar di Dewan Pers.

Sedangkan law-justice.co menuliskan di berita itu dengan cara meneruskan informasi yang dilansir keuangannews.id, situs yang tidak terdaftar di Dewan Pers.

Dewan Pers melalui Agung Dharmajaya memberi tanggapan atas ditangkapnya Ardian (25) pengunggah link berita law-justice.id.

"Karena ada komentar dan membuat orang lain tidak nyaman itu yang membuatnya menjadi persoalan," ujar Agung Dharmajaya.

Simak video 'FPI Tak Sadar Langgar UU dan Syariat Islam':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya, pendapat Agung Dharmajaya soal kasus ini:

Selanjutnya
Halaman
1 2