Round-Up

Kontroversi 'Agen Intelijen Jerman' Datangi FPI

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 30 Des 2020 06:42 WIB
Keterlibatan Jerman dalam Aksi Pembantaian Pasca G30S-1965 di Indonesia
Foto: Ilustrasi (DW News)
Jakarta -

Persoalan staf Kedutaan Besar (Kedubes) Jerman mendatangi sekretariat Front Pembela Islam (FPI) terkait insiden penembakan enam Laskar FPI pengikut Habib Rizieq Shihab tak ada putus-putusnya. Kini, staf Kedubes Jerman itu disebut-sebut sebagai agen intelijen Jerman.

Kontroversi ini dimulai saat Anggota Komisi I DPR RI Muhammad Farhan bicara mengenai status staf Kedubes Jerman yang mendatangi FPI di Petamburan, Jakarta Pusat (Jakpus). Farhan menyebut staf tersebut terdaftar sebagai pegawai intelijen Jerman.

"Ternyata dia bukan diplomat, namanya Suzanne Hol, dan setelah diselidiki lewat beberapa sumber, dia ternyata bukan sebagai pegawai di Kementerian Luar Negeri Jerman. Tetapi ternyata dia adalah tercatat sebagai pegawai Badan Intelijen Jerman, BND (Bundesnachrichtendienst)," kata Farhan saat dihubungi, Senin (28/12/2020).

Perlu disimak, BND jika disingkat disebut Bundesnachrichtendienst adalah Badan Intelijen Federal Jerman. Sejarah BND tak terlepas dari CIA (Badan Intelijen Pusat AS). BND didirikan pada 1956, menjadi kelanjutan dari organisasi bernama Gehlen Organization yang dibentuk militer Amerika Serikat (AS) tahun 1949. Saat itu, AS sedang sengit-sengitnya bersaing dengan blok komunis.

farhan  anggota dpr ro 2019 2024.Foto: Muhammad Farhan (Lamhot Aritonang/detikcom)

Dilansir situs resminya, BND mengaku punya 6.500 karyawan. Kini, Presiden BND dijabat oleh Bruno Kahl. BND berada di bawah Kantor Kanselir Jerman. Mereka menghimpun informasi dari isu-isu terorisme hingga kelompok kriminal.

BND punya misi yakni menginformasikan ke pemerintah Jerman mengenai perkembangan luar negeri dan kebijakan keamanan. Semua informasi dikumpulkan dari direktorat-direktorat di bawah naungan BND. Setidaknya ada sembilan direktorat yang disebut di situs resmi BND.

Kembali ke Farhan, politikus Partai NasDem ini mengaku mendapat informasi bahwa staf Kedubes Jerman yang mendatangi FPI merupakan agen intelijen Jerman dari sumber pribadi. Farhan mempersilakan masyarakat mengulik informasi terkait staf Kedubes Jerman itu ke pihak imigrasi dan Kedubes Jerman.

"Ya sumber pribadilah. Kan kita ini juga harus melengkapi diri dengan berbagai macam sumber informasi gitu. Anda bisa, gini, Anda bisa cek ke Dirjen Imigrasi, cek aja, keberangkatan dia tanggal berapa kembali ke Jerman. Namanya siapa, pasti paspornya tercatat," kata Farhan.

"Ditanyain dulu ke Kedubes Jerman, tanggal berapa dia balik keluar dari Indonesia, lalu cek ke imigrasi tanggal berapa dia keluar karena walaupun dia memegang paspor diplomat, pasti tercatat dong," imbuhnya.

Tafsir FPI

Kontroversi staf Kedubes Jerman disebut sebagai agen intelijen Jerman cukup mengagetkan. Lantas, apa kata FPI yang sempat didatangi langsung?

"Hal itu artinya dalam kacamata dunia internasional, kasus pembantaian 6 anggota FPI tersebut adalah skandal dalam dunia intelijen. Karena dunia internasional mencium ada yang tidak beres dari sudut pandang dan kacamata intelijen," kata Sekretaris Umum FPI Munarman kepada wartawan, Selasa (29/12/2020).

Munarman berandai-andai soal ucapan Farhan itu, jika benar yang mendatangi FPI itu intelijen Jerman, maka insiden penembakan enam Laskar FPI bisa berdampak ke standar HAM di Indonesia. Munarman berbicara soal perspektif dunia intelijen.

Munarman selesai menjalani pemeriksaan sebagai saksi terkait kasus penculikan dan penganiayaan Ninoy Karundeng. Munarman tampak meninggalkan Polda Metro Jaya.Foto: Munarman (Rifkianto Nugroho/detikcom)

"Artinya itu bukan sekadar masalah politik. Ada yang lebih serius dan bisa berdampak pada reputasi atas standar hak asasi manusia yang rendah terhadap Indonesia dan akan menjadi perbincangan di dunia intelijen internasional. Sebab, dalam perspektif dunia intelijen, ada fatsoen, keberadaan aparat keamanan negara adalah untuk menangkal bahaya terhadap negara, bukan untuk membunuh warga negara sendiri," sebut Munarman.

Menurut mantan pengacara LBH ini, dunia memahami apa yang terjadi dengan insiden penembakan Laskar FPI. Oleh sebab itu, yang dikirim bukan diplomat politik.

"Ini justru membuktikan bahwa dunia internasional sesungguhnya sudah tahu kejadian sesungguhnya. Oleh karenanya yang diturunkan adalah orang yang punya kemampuan investigasi, bukan diplomat politik untuk mencampuri urusan dalam negeri Indonesia," sebut Munarman.

Simak penjelasan lengkap Menlu Retno Marsudi dan Kemlu. Di halaman selanjutnya:

Selanjutnya
Halaman
1 2