Round-Up

Kelakuan Oknum Kepsek di Medan Diduga Gay Masuk Radar Dewan

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 30 Des 2020 05:31 WIB
DPRD Kota Medan (Khairul Ikhwan Damanik/detikcom)
Foto: DPRD Kota Medan (detikcom)
Jakarta -

Kelakuan oknum kepala sekolah (kepsek) salah satu SD di Medan yang diduga gay menuai sorotan dari anggota dewan. DPRD Medan bakal menggelar rapat dengar pendapat (RDP) setelah menerima laporan dari orang tua murid.

Kasus ini bermula setelah sejumlah orang tua murid menggelar demonstrasi pada Rabu (23/12/2020). Para orang tua murid menuduh kepsek di SD tersebut adalah penyuka sesama jenis atau gay.

"Sebenarnya kasus ini sudah lama, bulan 4 kemarin sudah viral di Facebook yang mengunggah semua bagaimana hubungan Pak J (kepala sekolah) dengan Z (teman prianya) dan kami berembuk guru dan orang tua murid bagaimana caranya kita tidak mau nanti jadi ada korban. Dan ini juga telah diketahui oleh Lurah dan Camat Medan Tuntungan," kata salah satu orang tua murid, Raiman, kepada wartawan di Medan.

Dalam aksi tersebut, para orang tua membawa sejumlah poster berisi protes soal kepala sekolah tersebut. Salah satu poster itu berisi 'Kami menolak Kepsek LGBT'.

Kembali ke Raiman. Dia menyebut Z mengaku bahwa dirinya punya hubungan khusus dengan JS. Hal itu, menurut Raiman, disampaikan di hadapan lurah setempat.

"Karena mereka di hadapan Ibu Lurah pun Saudara Z sudah mengakui bahwa dia punya hubungan badan dan di hadapan kami orang tua murid tanggal 13 April, Z sudah mengakui semuanya dan di tanggal 14 April, kami tidak pernah menelepon Pak J, dia datang sendiri tanggal 14 April di tempat kami kumpul. Di situ diakuinya semua, betul semua apa gambar-gambar di FB benar itu foto dia dan dia punya hubungan sejenis dengan Z. Dia melakukan hubungan sekali, dua kali, beberapa kali tapi ngakunya khilaf. Dia tidak mau dikatakan homo," ujar Raiman.

Raiman mengaku dirinya sebagai orang tua takut anaknya menjadi korban pelecehan di sekolah. Dia juga mengklaim 300 orang tua siswa meneken pernyataan meminta kepala sekolah diganti.

"Yang kami takuti dengan segala apa yang dilakukan oleh bapak itu, dengan CCTV yang penggunaannya dulu tak seperti ini diarahkan ke kamar mandi dan gerbang ini sangat sulit orang tua murid masuk ke dalam. Jadi ini bentuk ketakutan kita jangan sampai anak kita ada korban. Itulah dari kami," tutur Raiman.

"Ada surat pengunduran dirinya yang dibuat bulan Juni. Keinginan kita dari awal di hadapan kepsek. Supaya dia pindah, itu aja. Kami mohon dia pindah," sambungnya.

Bantahan kemudian disampaikan JS. Kepsek tersebut menilai tindakan para orang tua murid itu salah tapi merasa benar.

"Mereka melakukan tindakan yang salah tapi merasa benar terhadap semua tuduhan mereka itu, salah satunya hari ini. Saya kan warga negara Indonesia, saya punya hak sama di mata hukum. Apa yang mereka lakukan itu tindakan mereka termasuk tuduhan-tuduhan mereka itu, itu semua tidak benar, tapi mereka merasa benar," kata JS saat ditemui wartawan, Rabu (23/12).