Didemo Ortu Murid, Oknum Kepsek SD di Medan Bantah Tudingan Gay

Datuk Haris Molana - detikNews
Rabu, 23 Des 2020 18:18 WIB
ilustrasi lgbt gay lesbian biseksual trangender waria
Ilustrasi LGBT (Foto: Andi Saputra/detikcom)
Medan -

Oknum kepala sekolah (Kepsek) salah satu SD di Medan dituding gay dan didemo oleh sejumlah orang tua murid. Kepsek berinisial JS tersebut membantah tuduhan orang tua murid tersebut.

"Mereka melakukan tindakan yang salah tapi merasa benar terhadap semua tuduhan mereka itu, salah satunya hari ini. Saya kan warga negara Indonesia, saya punya hak sama di mata hukum. Apa yang mereka lakukan itu tindakan mereka termasuk tuduhan-tuduhan mereka itu, itu semua tidak benar, tapi mereka merasa benar," kata JS saat ditemui wartawan, Rabu (23/12/2020).

JS menyebut para orang tua yang menggelar demo di depan sekolah tidak memiliki izin dari kepolisian. Atas dasar itu, dirinya enggan menemui para orang tua yang berdemo.

Dia mengatakan semua tuduhan orang tua siswa terhadap dirinya tidak benar. Dia meminta orang tua murid yang menuduhnya sebagai gay untuk menunjukkan bukti.

"Semua yang mereka katakan itu tidak benar. RDP, ada surat panggilannya ditunjukkan ke kalian? RDP itu jika ada aduan ke DPRD, maka DPRD membuat surat pemanggilan, harinya kapan, jam berapa, lalu ada berita acara. Lalu dari RDP itu ada keputusannya itu nanti disampaikan ke saya dan itu sampai detik ini tidak ada RDP-nya. Saya nggak ada pernah dipanggil ke kantor DPRD," sebut JS.

Dia juga membantah klaim orang tua siswa yang menyebut dirinya telah mengundurkan diri karena tudingan gay. Dia mengatakan pernyataan mengundurkan diri dibuatnya untuk mengantisipasi dampak terhadap para siswa jika orang tua menggelar demo di depan sekolah.

"Itu surat pernyataan saya mengundurkan diri itu untuk mengantisipasi takut korban banyak, anak-anak 700 siswa. Seperti yang mereka lakukan tadi itu. Itulah yang saya pikirkan selama ini, kalaulah seandainya ada anak-anak lagi belajar mereka ribut-ribut seperti itu kan, berarti dianggap orang saya tidak mampu menguasai atau me-manage sekolah ini," ujar JS.

"Itunya dulu, yasudah kalau itu permintaan kalian (orang tua murid) tapi, saya tidak LGBT," sambungnya.

JS menegaskan dirinya tidak melakukan tindakan seperti yang dituduhkan para orang tua siswa. Dia juga mengaku sudah dimintai keterangan oleh Dinas Pendidikan Medan dan dinyatakan tak bersalah.

"Saya sudah di-BAP sama Dinas Pendidikan, sudah dipanggil dua kali. Tapi jawabannya, mereka menyebutkan tidak ditemukan kesalahan," sebut JS.

"Tertekan. Betul. Karena mereka datang ke sini, kek tadi. Mereka sorak-sorak," sambungnya.

JS kemudian menceritakan awal mula tudingan ini muncul. Dia menduga tuduhan LGBT muncul karena dirinya pernah menolak seorang wanita yang melamar sebagai pegawai tata usaha (TU) di sekolah itu.

"Lalu dia mengaku sebagai sopir ojek online. Nah sering ada kegiatan di sekolah ini, kami sering memanfaatkan dia untuk mengantar-antar anak sebagai mobilisasi termasuk Pak penjaga sekolah punya mobil. Nah, dia kemungkinan menurut pemikiran saya punya have something ke saya, tapi tidak bersambut maka dia menulis di medsos kalau saya LGBT dan tulis di medsos di FB, lalu dia tag semua orang tua murid saya. Dia bilang begini 'Jangan mau dididik oleh kepala sekolah yang LGBT' katanya. Nah sekarang mereka pegang kalimat itu, mereka bikin gini lagi modusnya, 'kalau memang kamu nggak LGBT kenapa kamu nggak mengadu ke polisi'," tutur JS.