Bareskrim Tolak Permohonan Penangguhan Penahanan Ustadz Maaher

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Selasa, 29 Des 2020 16:17 WIB
Soni Eranata alias ustadz Maaher At Thuwailibi (Foto: Deden Gunawan/detikcom)
Soni Eranata alias Ustadz Maaher At-Thuwailibi (Deden Gunawan/detikcom)
Jakarta -

Bareskrim Polri menolak penangguhan penahanan Ustadz Maaher At-Thuwailibi yang diajukan sang istri, Iqlima Ayu. Polri menegaskan sampai saat ini pihaknya tidak memberikan izin penangguhan penahanan tersebut.

"Sampai saat ini Bareskrim Polri tidak melakukan penangguhan terhadap tersangka yang disangkakan. Sampai saat ini, Bareskrim tidak mengeluarkan, tidak memberikan penangguhan terhadap tersangka tersebut," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono, Selasa (29/12/2020).

Sebagaimana diketahui, Iqlima Ayu menyambangi Bareskrim Polri pada Senin (28/12). Iqlima datang untuk mengajukan permohonan penangguhan penahanan suaminya yang ditahan.

Iqlima datang bersama dua anaknya. Iqlima datang didampingi Ketua Umum Barisan Kesatria Nusantara Muhammad Rofi'i Mukhlis dan beberapa orang lainnya.

"Saya selaku istri Ustadz Maaher At-Thuwailibi memohon untuk dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya kepada Habib Luthfi, juga keluarga besar NU, untuk memaafkan suami saya. Namanya manusia kan ada khilaf. Jadi saya mohon untuk segera dibebaskan suami saya," kata Iqlima.

Sementara itu, Rofi'i menuturkan surat permohonan penangguhan penahanan sudah diserahkan ke penyidik Bareskrim. Surat tersebut pun, kata Rofi'i, sudah diterima.

"Surat ini sudah kami tujukan ke Bareskrim dan sudah ada tanda terima, sudah diterima, untuk mengabulkan penahanannya kami serahkan untuk meneliti memperhatikan apa yang terjadi perkembangan dalam diri Ustadz Maaher," tuturnya.

Rofi'i mengatakan alasan mengajukan penangguhan penahanan adalah dia pernah bertanya kepada Ustadz Maaher secara langsung. Kepada Rofi'i, Ustadz Maaher berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.

"Saya pernah wawancara langsung Ustadz Maaher, semua atas kehendak Allah. Di situ Ustadz Maaher berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi. Maka saya ingin memulai negara Indonesia ini kan besar dari berbagai golongan. Kalau saya sebagai wakil santri NU itu tidak memulai membangun ukhuwah Islamiyah itu, kapan lagi gitu loh," ujarnya.

Rofi'i menyampaikan, selain istri Ustadz Maaher, ada sembilan kiai yang menjadi penjamin penangguhan penahanan tersebut. Kesembilan kiai itu ialah Kiai Zaenal Arifin, Kiai Barkah, Kiai Siroj Ronggolawe, Kiai Abd Mudjib, Kiai Saifudin Aman, Kiai Marzuqi, Gus Ismail, Muhammad Rofi'i Mukhlis, dan Gus Mustain.

Lebih lanjut Rofi'i menyampaikan pihaknya menghormati apa pun hasil putusan dari pengajuan penangguhan penahanan tersebut. Dia menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian.

"Tentang penangguhan penahanan yang kami buat itu, kami serahkan sepenuhnya kepada yang terhormat Bapak Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis. Jadi kami sebagai warga negara Indonesia, tidak akan mengintervensi. Kami serahkan semua pada proses hukuman, kita hanya munajat kepada Allah, mudah-mudahan dikabulkan. Karena Ustadz Maaher ini ternyata punya anak kecil dua," imbuhnya.

Untuk diketahui, Ustadz Maaher At-Thuwailibi ditangkap atas kasus dugaan penyebaran informasi yang ditujukan untuk menimbulkan kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Dia diduga menyebarkan informasi yang menimbulkan kebencian melalui media sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45a ayat (2) juncto Pasal 28 ayat (2) UU No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No 11 Tahun 2008 tentang informasi dan Transaksi Elektronik.

Ustadz Maaher ditangkap atas kasus yang dilaporkan oleh Waluyo Wasis Nugroho. Maaher At-Thuwailibi dilaporkan ke Bareskrim Polri pada 27 November 2020.

Ustadz Maaher At-Thuwailibi sebelumnya juga dilaporkan oleh pihak Nahdlatul Ulama (NU) karena dianggap menghina kiai NU Habib Luthfi bin Yahya. Maaher dilaporkan atas cuitan 'cantik pakai jilbab kaya kiai Banser' dengan memasang foto Habib Luthfi.

(idn/idn)