Berkat Kolaborasi, Angka Kesembuhan COVID-19 di Jakarta Capai 90,4%

Angga Laraspati - detikNews
Kamis, 17 Des 2020 14:20 WIB
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti
Foto: JDCN-Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti
Jakarta -

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengatakan dalam menanggulangi masalah COVID-19 di Jakarta, Dinkes tidak bisa bekerja secara sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi dari semua pihak. Hasil dari kolaborasi itu pun terbukti, angka kesembuhan COVID-19 di DKI Jakarta hingga saat ini sudah mencapai 90,4% atau lebih tinggi dari angka nasional maupun global.

"Kemudian untuk tingkat kematian per 16 Desember 2020 Jakarta berada di angka 1,9% atau lebih rendah dari angka Indonesia dan Global sekitar 3%. Untuk testing rate kita dalam satu pekan dengan kolaborasi berbagai pihak Jakarta sudah melakukan testing sampai 7-8 kali standar yang ditentukan oleh WHO dalam sepekan," ujar Widyastuti dalam sesi Community Talks di Forum JDCN yang disiarkan secara virtual, Kamis (17/12/2020).

Namun, hasil positivity rate Jakarta saat ini berada di angka 10% atau masih lebih tinggi dari standar yang ditetapkan WHO yaitu 5%. Tetapi angka tersebut masih lebih rendah dari angka nasional yang berada di 18%. Dinkes DKI pun akan terus berusaha untuk menurunkan angka tersebut melalui berbagai kolaborasi.

Adapun, lanjut Widyastuti, bentuk kolaborasi yang dilakukan oleh Dinkes dalam menangani COVID-19 mencakup di dalam pendekatan 5M atau man, money, material, method dan machine. Widyastuti menuturkan untuk SDM bila menghitung tenaga dari dinas kesehatan saja, tentu sangat kurang sehingga pihaknya menerapkan refungsi, redistribusi, rekrutmen, dan tenaga-tenaga profesional tambahan yang membantu kerja dari Dinkes Jakarta.

"Jadi, untuk SDM yang membangun kolaborasi ini, kami bekerja sama dengan organisasi profesi, institusi pendidikan, untuk bersama-bersama membangun kolaborasi terkait COVID-19," ungkapnya.

Terkait pendanaan (money), Dinkes juga tidak hanya mengandalkan APBD saja, melain ada peran penting dari APBN, hibah luar negeri, dan juga kemandirian masyarakat. Widyastuti bahkan membeberkan 51% testing di Jakarta dilakukan atas inisiasi warga sendiri. Jadi dengan edukasi dan komunikasi risiko yang terus menerus 51% testing dilakukan sendiri oleh masyarakat.

"Soal material, kita terbantu sekali dengan tim dari Jakarta Experience Board dan hotel-hotel swasta yang membantu menyiapkan akomodasi dan transportasi bagi tenaga kesehatan. Termasuk juga peran-peran hotel swasta banyak dari mereka yang menyiapkan isolasi mandiri terkendali dengan berkoordinasi dengan Pemprov. Mereka menyiapkan tempatnya, kami menyiapkan sistem metode pengawasan," jelas Widyastuti.

Lebih lanjut, Widyastuti menjelaskan Dinkes DKI juga berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mengembangkan berbagai metode dengan memanfaatkan platform digital seperti menguatkan pemanfaatan IT yang sesuai dengan 4.0.

"Kemudian juga menggandeng organisasi profesi dan akademisi untuk membuat SOP yang bisa dilakukan oleh setiap level yang ada di DInkes dan juga penguatan dalam pencatatan pelaporan, platformnya juga tidak bisa sendiri di mana para mitra kami membantu menguatkan," tutur Widyastuti.

"Kemudian yang berikutnya juga adanya bantuan yang terus menerus dari berbagai pihak baik itu pemerintah, swasta, masyarakat untuk menguatkan alat kesehatan dan bantuan sarana logistik lainnya," tambahnya.

Dari kolaborasi tersebut, saat ini Dinkes Provinsi DKI Jakarta telah mempunyai 76 laboratorium rujukan yang tidak hanya milik DKI saja, tetapi juga pemerintah pusat, TNI/Polri, BUMN, dan swasta. DKI Jakarta juga memiliki 98 rumah sakit rujukan yang terdiri dari RSUD dan berbagai rumah sakit lainnya.

"Tak hanya mengandalkan RSUD saja, tapi bagaimana RSUD kita, Swasta, TNI POLRI, BUMN, bahu-membahu untuk bersama-sama menyiapkan kapasitas tempat tidur. Saat ini terbangun ada lebih dari 7.000 tempat tidur isolasi dan nantinya kita akan membangun juga sampai 1.000 lebih ruang ICU," katanya.

Dinkes DKI juga menyiapkan tim untuk pemulasaran jenazah terduga COVID-19 yang meninggal dunia di kediamannya. Tim yang disiapkan tersebut merupakan kombinasi dari tim kesehatan, TNI/Polri, Satpol PP dan yayasan swasta yang dengan sukarela membantu untuk melakukan pemulasaran jenazah.

Widyastuti juga menambahkan Dinkes DKI Jakarta menyiapkan tim psikososial, yaitu psikolog yang membantu Dinkes melakukan beberapa penelitian baik itu dalam dan luar negeri untuk membuat regulasi.

"Terakhir kami ada penguatan tenaga tambahan di luar tenaga yang ada sukarela maupun profesional ada lebih dari 2.600 orang profesional yang membantu DKI Jakarta dalam menangani COVID-19," pungkasnya.

(ega/ega)