Alasan Djoko Tjandra Pilih Tommy Sumardi Bantu Urus Red Notice

Zunita Putri - detikNews
Senin, 14 Des 2020 22:02 WIB
Djoko Tjandra kembali menjalani sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta. Irjen Pol Napoleon Bonaparte dan Brigjen Pol Prasetijo Utomo hadir sebagai saksi.
Djoko Tjandra (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra mengungkapkan alasannya memilih Tommy Sumardi yang membantunya mengurus red notice di NCB Interpol. Djoko Tjandra mengatakan salah satu alasannya adalah Tommy dekat dengan polisi.

Awalnya Djoko Tjandra mengatakan mengenal Tommy Sumardi pada 1998 ketika Tommy bekerja di perusahaan Djoko Tjandra di Taman Anggrek. Saat itu Tommy Sumardi menjabat chief security di perusahaannya.

Djoko Tjandra makin mempercayai Tommy karena Tommy besan dari mantan PM Malaysia Najib Razak. Pernikahan anak Tommy dengan Najib Razak juga dihadiri sejumlah pejabat.

"Pada tahun 2019 beliau itu menjadi besanan dengan Prime Minister Najib. Nah, pada pesta perkawinannya hampir semua pejabat senior dari kepolisian menghadiri pesta itu. Saya pun diberitahukan Prime Minister Najib, kebetulan beliau itu teman baik saya," kata Djoko Tjandra dalam sidang saat bersaksi untuk Brigjen Prasetijo Utomo di PN Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (14/12/2020).

Dia juga mengungkapkan alasannya mempercayai Tommy dan menyerahkan uang Rp 10 miliar untuk membantu mengurusi red notice.

"Nah, juga beliau (Najib Razak) yang menyampaikan 'eh mantu saya di Indonesia itu kepolisian segala macem luar biasa kedekatannya', jadi kepercayaannya dari situ. Oleh karena itu, saya telepon beliau bulan Maret itu, itu praktiknya semua nyambung dari situ," jelas Djoko Tjandra.

Lebih lanjut, dia juga menceritakan kedekatannya dengan Najib Razak. Djoko Tjandra mengatakan dia kerap membantu Najib Razak

"Prime Minister Najib kebetulan teman baik saya, dan juga saya pernah menolong beliau untuk membangun project yang namanya The Exchange 106. Itu tanah saya beli, beliau minta saya beli tanah di situ, itu yang mungkin semua juga tahu project yang dinamakan 1 MDB, hubungan saya 2014 dengan beliau cukup dekat, sehingga dengan pengalaman saya, beliau minta barter," jelas Djoko Tjandra.

Duduk sebagai terdakwa adalah Brigjen Prasetijo. Dia didakwa menerima suap dari Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra. Prasetijo diduga telah membantu upaya penghapusan nama Djoko Tjandra dalam red notice Interpol.

Perbuatan Prasetijo disebut jaksa dilakukan bersama-sama dengan Irjen Napoleon Bonaparte yang kala itu menjabat Kepala Divisi Hubungan Internasional (Kadivhubinter) Polri.

Napoleon disebut jaksa menerima suap dari Djoko Tjandra sebesar SGD 200 ribu dan USD 270 ribu. Sedangkan Prasetijo didakwa menerima USD 150 ribu yang dikurskan ke rupiah menjadi sekitar Rp 2,1 miliar. (zap/knv)