ADVERTISEMENT

Surat Suara Pilkada Dicoreti, KPU: Tak Terkait Imbauan Bawa Pulpen

Dwi Andayani - detikNews
Kamis, 10 Des 2020 16:12 WIB
Komisioner KPU Viryan Aziz
Foto: Dwi Andayani/ detikcom

Diketahui, KPU Kota Tangerang Selatan membenarkan penemuan surat suara bertulisan 'Korup Lu Pada' saat Pilkada 2020 kemarin di TPS 47 Rempoa, Ciputat Timur, Tangsel. Ketua TPS 47, Syaiful, menceritakan awal mula kejadian.

"Paling itu saya nggak bisa detail jelasin-nya karena kita nggak tahu siapa yang corat-coret itu kan. Itu kan pada... itu kan mungkin ada di dalam bilik suara (pencoretannya). Jadi pas ketahuannya pas penghitungan suara," kata Syaiful saat dihubungi, Kamis (10/12/2020).

Syaiful menjelaskan surat suara yang dicoret-coret ditemukan saat penghitungan suara. Dia juga mengungkapkan ada tulisan 'HAHAHA' menutupi foto ketiga pasangan calon.

"Itu tulisannya 'Pada Korup Lu Hahaha' gitu aja. Memenuhi surat surat itu. Pokoknya dari tiga pasangan calon itu ya kena semua itu tulisan 'Hahaha'-nya itu," jelas Syaiful.

Syaiful menyebut para panitia dan saksi langsung mengabadikan kejadian itu setelah melihat adanya surat suara yang dicoret.

Syaiful mengatakan surat suara hanya dicoret-coret tanpa ada titik yang dicoblos. Surat suara itu akhirnya diputuskan tidak sah. Surat suara yang dicoret, sebutnya, hanya berjumlah satu.

Sebelumnya, Bawaslu menemukan ada pemilih yang justru mencontreng surat suara Pilkada 2020. Surat suara tersebut bukannya dicoblos, tapi malah dicontreng.

"Pemilih memilih dengan mencontreng. Nah, ini kejadian yang menarik, di Jambi, Sumatera Barat," kata anggota Bawaslu Mochammad Afifuddin dalam konferensi pers yang disiarkan di YouTube Bawaslu, Rabu (9/12/2020).

Afif menduga pemilih tersebut salah paham dengan imbauan membawa pulpen sendiri ke TPS. Awalnya imbauan membawa pulpen ke TPS itu agar pemilih tidak bergantian memakai dengan orang lain, yang justru berpotensi terkait penyebaran virus Corona.

"Imbauan ataupun anjuran KPU agar kita menggunakan atau membawa-membawa apa namanya pulpen, kadang-kadang dipahami sebagai alat untuk mencontreng, padahal tidak. Nah, ini penting. Nah ternyata itu disalahpahami, padahal kan kita tidak mengantisipasi untuk saling tidak pinjam pulpen menandatangani kehadiran dan lain-lain," ujar Afif.


(dwia/imk)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT