BKSDA Sulteng Akan Evakuasi Buaya Berkalung Ban Usai Pandemi, Kenapa?

Jabbar Ramdhani, M Qadri - detikNews
Rabu, 02 Des 2020 14:12 WIB
Satgas memasang perangkap untuk menyelamatkan buaya berkalung ban di Palu (M Qadri/detikcom)
Satgas memasang perangkap untuk menyelamatkan buaya berkalung ban di Palu. (M Qadri/detikcom)
Jakarta -

Badan Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Tengah (BKSDA Sulteng) menyatakan masih berencana melakukan evakuasi terhadap buaya berkalung ban yang ada di Sungai Palu. Namun upaya evakuasi baru akan dilakukan setelah masa pandemi Corona usai. Kenapa?

"Kita tunggu selesai pandemi demi mencegah kerumunan. Karena, kalau buaya muncul saja, warga bisa berkerumun, apalagi jika kita lakukan evakuasi, bisa jadi tontonan, kan. Kita terus lakukan pemantauan terhadap buaya berkalung ban," kata Kasatgas Pencarian Buaya dari BKSDA Sulteng, Haruna, Rabu (2/12/2020).

Upaya pencarian buaya yang panjangnya lebih dari 3 meter tersebut sempat gencar dilakukan pada Februari lalu. BKSDA Sulteng sempat menggelar sayembara evakuasi buaya.

BKSDA Sulteng sempat bekerja sama dengan warga negara asing (WNA) pemerhati reptil untuk mengevakuasi buaya tersebut. Gagal menangkap buaya hingga pertengahan Maret, ketiganya lalu meninggalkan Palu di saat pandemi Corona terjadi di berbagai negara.

Bersama Matt Wright dan Chris Wilson, beberapa upaya penyelamatan dilakukan: memasang jala dan perangkap, memancing menggunakan ayam yang diikat di drone, menyusuri Sungai Palu, hingga menggunakan harpun. Upaya belum membuahkan hasil.

Upaya penyelamatan buaya saat itu terhambat karena banyak warga yang menonton di pinggir sungai. Kondisi ini membuat buaya takut untuk keluar dari sarang.

Dalam video viral, tampak ada dua warga yang mendekati buaya berkalung ban saat berjemur. Lalu apakah BKSDA akan merekrut warga dalam upaya evakuasi buaya tersebut?

"Kalau ceritanya, banyak masyarakat ingin membantu menangkap. BKSDA kan tidak bisa memberi wewenang kepada masyarakat yang tidak punya keahlian atau sertifikat. Takutnya warga malah menjadi korban, nantinya BKSDA kan bersalah," jelas Haruna.

Dia menambahkan, BKSDA hanya merekrut orang yang terlatih karena hendak mengevakuasi buaya tersebut hidup-hidup. Sehingga ban yang melingkar di leher buaya dapat dilepas dan buaya dapat tetap hidup.

Dalam video, terlihat badan buaya tersebut tetap besar. Haruna menilai hal tersebut menandakan habitat buaya di sungai tersebut masih aman.

Namun dia mengatakan habitat buaya mulai menyempit karena pembangunan tanggul dan permukiman warga. Haruna mengingatkan, meski demikian, Sungai Palu masih rawan.

"Kalau habitat buaya, sepanjang Sungai Palu sampai muara. Hasil monitoring kita beberapa bulan pascagempa, ada 35 ekor. Ini sudah mau 2 tahun setelah gempa, tentu ada penambahan atau pengurangan, mungkin pindah ke habitat lain. Habitat di Sungai Palu sudah menyempit. Sungai Palu kiri dan kanan sudah ditanggul. Ini kan mempersempit kawasan makin sempit," jelas Haruna.

Simak video 'Dekati Permukiman, Buaya 3,5 Meter Dievakuasi':

[Gambas:Video 20detik]



Upaya evakuasi yang sebelumnya sudah dilakukan petugas dapat dibaca di halaman selanjutnya.