Sidang Kasus Djoko Tjandra

Napoleon Bawa-bawa Kabareskrim, Pengacara Tommy Sumardi: Kok Beda dari BAP?

Luqman Nurhadi Arunanta - detikNews
Selasa, 24 Nov 2020 22:31 WIB
Irjen Napoleon Bonaparte mendatangi Pengadilan Tipikor, Jakarta. Kedatangannya untuk menjadi saksi di sidang Tommy Sumardi terkait perkara suap Djoko Tjandra.
Irjen Napoleon Bonaparte (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Irjen Napoleon Bonaparte membawa-bawa soal Kabareskrim Komjen Listyo Sigit Prabowo -- pihak yang memimpin pemulangan Djoko Tjandra dari Malaysia -- dalam kesaksiannya dalam persidangan perkara suap terkait pengurusan red notice Interpol atas nama Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra. Namun kesaksian mantan Kadivhubinter Polri itu disebut berbeda dari Berita Acara Pemeriksaan (BAP) saat proses penyidikan.

Awalnya Napoleon menyebut soal Kabareskrim dan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin ketika bertemu dengan Tommy Sumardi. Tommy Sumardi dalam persidangan duduk sebagai terdakwa karena diduga menjadi perantara suap Djoko Tjandra ke Napoleon.

Lalu pengacara Tommy, Dion Pongkor, menanyakan perihal itu pada Napoleon. Dion membacakan BAP Nomor 18 tertanggal 12 Agustus 2020 milik Napoleon.

"Waktu Brigjen Prasetijo membawa Haji Tommy dan dikatakan kepada saya ini orangnya Bambang Soesatyo untuk meyakinkan kepada saya. Saya dihubungkan dengan Bambang Soesatyo dan saya bicara dengan Bambang Soesatyo melalui telepon. Saya bicara 'Izin ini saya di ruang Kadiv Hubinter, Pak Ketua baik-baik saja? Ini Brigjen Prasetijo ada bareng saya'," ucap Dion menirukan ucapan Napoleon dalam BAP itu dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Raya, Jakarta Pusat, Selasa (24/11/2020).

"Pertanyaan saya Pak Napoleon, tadi saudara buka dengan Kabareskrim, kira-kira kenapa brief-nya berbeda dengan keterangan yang ini?" tanya Dion pada Napoleon.

Napoleon beralasan pada pemeriksaan awal tidak membawa data sehingga tanggal dan waktu di penjelasannya masih rancu. Menurutnya, ada 2 pertemuan dengan Tommy Sumardi.

"Mengenai pertemuan pertama dan kedua bapak penasihat hukum mohon dipahami itu pemeriksaan pertama awal tidak bawa data, jadi tanggal dan waktu itu masih rancu. Semakin jelas pada waktu kami direkonstruksi oleh penyidik tanggal 27 Agustus. Semakin jelas lagi setelah waktu kami praperadilan, mendapat bukti-bukti yang dipegang penyidik, baru kami ingat lagi tanggal-tanggalnya alhamdulilah," jawab Napoleon.

Napoleon juga mengaku telah mencabut keterangannya dalam BAP lain tertanggal 17 September 2020. Dia mengaku pernyataannya pada BAP itu tidak berhubungan dengan kasusnya.

"Mengenai pertanyaan bapak, saya terima kasih pernyataan penasihat hukum, statement itu sebetulnya di dalam BAP saya terakhir sebagai tersangka tanggal 17 September 2020 itu saya cabut Pak, karena saya anggap tidak terlalu berhubungan dengan masalah ini," ucap Napoleon.

Serangan Napoleon ke Kabareskrim

Sedangkan mengenai Kabareskrim, menurut Napoleon, hal itu terjadi dalam pertemuan pertamanya dengan Tommy Sumardi. Menurut Napoleon, Tommy Sumardi menceritakan kedekatannya dengan Kabareskrim.

"Jadi saya cenderung tidak mau melebarkan masalah yang tidak terkait. Kalau bapak tanya sesungguhnya yang terjadi yang mulia pada saat pertemuan pertama itu pertama Haji Tommy menceritakan kedekatannya dengan Kabareskrim. Yang dibuktikan dengan membawa seorang Brigjen Prasetijo Utomo yang merupakan pejabat utama di Bareskrim, anak buah Kabareskrim, semakin meyakinkan saya kalau ini bukan orang sembarangan," ujar Napoleon.

Mendengar itu, ketua majelis hakim M Damis meminta ketegasan Napoleon. Lantas apa kata Napoleon?

"Ini kan ada perbedaan pada waktu awal menjelaskan ke penuntut umum bukan Bambang Soesatyo tapi Azis, gimana itu?" tanya hakim ketua.

"Itu betul," jawab Napoleon.

"Yang mana?" tanya hakim kembali.

"Semua betul Yang Mulia. Saya siap bercerita kalau diminta, Pak Bambang Soesatyo tapi tidak terlalu terkait dengan masalah ini," kata Napoleon.

Memang apa kesaksian Napoleon soal Kabareskrim?

Selanjutnya
Halaman
1 2