Round-Up

Meteorit Rp 26 M Milik Josua yang Menurut Lapan Tak Istimewa

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 20 Nov 2020 04:59 WIB
Kisah Josua Hutagalung, penemu batu meteor asal Sumatera Utara: Saya jual Rp200 juta, ternyata harganya Rp26 miliar
Foto: BBC Magazine

Lapan kemudian merespons soal temuan meteorit di rumah Josua. Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin mengonfirmasi bahwa benda asing yang jatuh di rumah warga Tapanuli Tengah, Sumut, adalah meteorit. Namun dia menyebut meteorit itu bukan hal yang istimewa.

"Ketika ada info benda jatuh tersebut dari teman-teman media, dari foto yang beredar, saya simpulkan benar itu meteorit. Astronom tidak bisa menjejak lintasan orbitnya setelah benda jatuh, mesti ada data pengamatan sebelum jatuh. Meteorit berbeda dengan benda jatuh sampah antariksa yang dipantau Lapan," kata Thomas.

Thomas juga menyebut meteorit bukan benda berbahaya. Ukuran meteorit yang jatuh ke rumah Josua bukan hal yang istimewa. Meteorit itu bisa dimiliki sang penemu.

"Meteorit bukan benda berbahaya. Dari segi ukuran, meteorit di Tapanuli itu juga bukan hal yang istimewa. Jadi Lapan tidak menindaklanjuti temuan tersebut. Meteorit tersebut bisa dimiliki penemunya," terangnya.

Koordinator Bidang Kehumasan, Jasyanto menambahkan mengacu pada Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan, sampah antariksa berbahaya jika jatuh ke bumi. Lain halnya dengan meteroit yang tidak berbahaya.

"Meteorit umumnya tidak berbahaya, kecuali dampak tumbukannya ketika jatuh ke Bumi tetapi sangat kecil kemungkinan mengenai manusia. Sampah antariksa memiliki potensi bahaya dari kandungannya, seperti sisa bahan bakar yang beracun atau muatan nuklir," kata dia.

"Sesuai dengan pasal 59 UU No 21 tentang Keantariksaan, LAPAN wajib mengidentifikasi benda jatuh antariksa. Hal tersebut sudah dilakukan untuk kasus di Tapanuli, dengan menyatakan benar itu benda jatuh antariksa tersebut masuk dalam kategori benda alamiah atau meteorit. LAPAN tidak menindaklanjuti lebih dalam karena benda tersebut tidak berbahaya dan tidak ada kepentingan ilmiah," lanjut Jasyanto.

Dia menjelaskan soal perlintasan benda antariksa yang masuk dalam pantauan Lapan. Disebutkan, Lapan kesulitan memantau perlintasan meteorit karena tidak bisa diperkirakan.

"Meteorit tidak dipantau oleh LAPAN, karena lintasannya tidak dapat diprakirakan. Berbeda dengan meteorit, sampah antariksa dipantau oleh LAPAN karena lintasannya dapat diprakirakan," ujar Jasyanto.

Halaman

(idn/idn)