Hasil Survei Tunjukkan Kesadaran Masyarakat soal Pencegahan COVID-19

Angga Laraspati - detikNews
Jumat, 06 Nov 2020 10:56 WIB
Masker merupakan langkah antisipasi paling awal untuk mencegah penyebaran virus Corona. Saat ini, masih banyak warga beraktivitas tanpa mengenakan masker.
Ilustrasi. Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Sebuah survei yang dilakukan AC Nielsen bekerja sama dengan UNICEF kepada 2.000 responden di 6 kota besar mencoba untuk menggali sikap masyarakat terkait praktik pencegahan COVID-19. Dari survei tersebut ditemukan beberapa hasil menarik terkait praktik kampanye 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan) yang digagas pemerintah.

Konsultan UNICEF Risang Rimbatmaja menuturkan dari survei tersebut ditemukan perilaku masyarakat terkait 3M secara riil di lapangan menunjukan 31,5% dari responden melakukan seluruh perilaku 3M secara disiplin. Selain itu ditemukan juga 36% dari total responden hanya melakukan dua dari perilaku 3M dan 23,2% melakukan 1 dari perilaku 3M. Sementara itu, 9,3% dari responden tidak melakukan kepatuhan 3M sama sekali.

Risang menuturkan apabila dianalisis secara individual, menjaga perilaku jaga jarak (47%) lebih rendah daripada memakai masker (71%) dan mencuci tangan (72%).

"Khusus untuk jaga jarak, didapatkan ternyata ada aspek norma sosial yang berperan di sini misalnya, merasa tidak enak menjauh dari orang lain, orang lain yang mendekat ke saya, atau berpikir bahwa semua orang juga tidak menjaga jarak," terang Risang dikutip dari website covid19.go.id, Jumat (6/11/2020).

Hal tersebut disampaikan Risang dalam acara Dialog Produktif bertema Keterlibatan Masyarakat dalam Respon Pandemi COVID-19 yang diselenggarakan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Rabu (4/11).

Selanjutnya, konsep kesalahan persepsi orang yang kelihatan sehat sehingga dianggap tidak bisa menularkan penyakit juga menjadi faktor rendahnya penerapan perilaku menjaga jarak di kalangan masyarakat.

"Yang tidak kalah menonjol adalah salah persepsi, saya sehat atau orang lain sehat kenapa harus jaga jarak. Kelihatannya konsep Orang Tanpa Gejala (OTG) masih belum betul-betul berada di benak masyarakat," jelas Risang.

Di sisi lain, UNICEF Communications Development Specialist Rizky Ika Syafitri menuturkan perlu bagi masyarakat luas mengetahui konsep OTG, karena masyarakat menjadi merasa tidak perlu menjaga jarak. Apabila, masyarakat mengetahui lebih jauh lagi soal cara penularan COVID-19, diyakini akan melakukan pencegahan lebih disiplin lagi.

"Tentunya semakin baik pengetahuannya semakin berhubungan dengan perilaku pencegahan penularan COVID-19 yang lebih baik dan disiplin." Ujar Rizky Ika Syafitri.

Di sisi lain, survei tersebut juga menemukan sebanyak 69,6% responden di 6 kota besar di Indonesia mengaitkan COVID-19 dengan aspek negatif seperti berbahaya, menular, darurat, mematikan, menakutkan, khawatir, wabah, pandemi, dan penyakit.

Meski mayoritas responden mengasosiasikan COVID-19 dengan aspek negatif, namun hal tersebut bisa mengarahkan perilaku seseorang untuk bertindak positif dalam mencegah penularannya. Rizky menerangkan ketakutan apabila dimanfaatkan dengan benar, bisa mengarahkan ke arah perilaku yang lebih baik.

"Karena kalau tidak diolah dengan baik ketakutan ini hanya akan jadi ketakutan saja, tidak menjadi aset untuk mengolah perubahan perilaku." ujar Rizky

Lebih lanjut, Rizky mengungkapkan kebanyakan responden atau sekitar 71% berpikir penularan COVID-19 melalui orang yang batuk dan bersin. Sedangkan 23-25% responden menyebutkan penularan COVID-19 melalui berbicara dan bernafas.

"Inilah yang menjelaskan sebagian orang menganggap jaga jarak tidak terlalu perlu saat berbicara dengan orang lain selama tidak batuk atau bersin," ungkap Rizky.

Lebih lanjut, untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya perubahan perilaku ini, media penyaluran yang tepat juga menjadi hal yang penting. Masyarakat mempercayai sumber informasi mengenai COVID-19 dari televisi, kemudian diikuti koran, radio, media sosial, grup WhatsApp, media online dan situs internet.

Rizky pun menuturkan untuk perubahan perilaku lebih baik mencari tahu dari sumber terpercaya. Karena asumsinya masyarakat akan mau melakukan perubahan yang dipromosikan.

"Medium televisi masih menjadi salah satu penyaluran terkuat untuk dimanfaatkan. Yang menarik juga di sini tokoh masyarakat dan tokoh agama masih didengarkan oleh masyarakat," ujar Rizky.

Pentingnya edukasi lebih lanjut juga membantu untuk membentuk kerangka pikir pada masyarakat agar mengubah perilaku pencegahan COVID-19 lebih disiplin lagi.

"Pastikan untuk penanganan COVID-19 masyarakat mengakses sumber-sumber yang bisa dipertanggungjawabkan. Untuk informasi COVID-19 sudah ada website, www.covid19.go.id, yang didalamnya terdapat fitur hoax buster untuk memastikan informasi tersebut benar atau hoaks." pungkasnya.

(prf/ega)