Duh, Gegara Alasan Ini Banyak Orang Abaikan Anjuran Jaga Jarak

Yudistira Imandiar - detikNews
Kamis, 05 Nov 2020 12:44 WIB
Ilustrasi jaga jarak
Foto: Getty Images/iStockphoto/ThamKC
Jakarta -

Dalam survei yang digarap AC Nielsen bekerja sama dengan UNICEF terkait kedisiplinan masyarakat terhadap protokol pencegahan COVID-19, diketahui ada beberapa alasan masyarakat tidak mengindahkan protokol pencegahan COVID-19. Berdasarkan hasil survei, anjuran menjaga jarak paling banyak diabaikan masyarakat.

Mengenai kedisiplinan menerapkan prinsip 3M, yakni memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan, 31,5 persen responden menyatakan telah menjalankan tiga hal tersebut secara disiplin. Sementara itu, 36 persen menjawab hanya menerapkan dua item 3M, dan 23,2 persen mengaku menerapkan satu item 3M saja. Adapun 9,3 persen sisanya menyatakan tidak mengindahkan prinsip 3M sama sekali. Banyak responden mengatakan tidak menjalankan prinsip menjaga jarak.

"Apabila kita analisa secara individual, menjaga perilaku jaga jarak (47%) lebih rendah daripada memakai masker (71%) dan mencuci tangan (72%). Khusus untuk jaga jarak, didapatkan ternyata ada aspek norma sosial yang berperan di sini misalnya, merasa tidak enak menjauh dari orang lain, orang lain yang mendekat ke saya, atau berpikir bahwa semua orang juga tidak menjaga jarak," urai Konsultan UNICEF Risang Rimbatmaja dikutip dari situs covid19.go.id, Kamis (5/11/2020).

Survei tersebut juga mengungkap adanya kesalahan persepsi pada sebagian orang yang menganggap orang tanpa gejala (OTG) tidak bisa menularkan penyakit. Hal itu menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya penerapan perilaku menjaga jarak di kalangan masyarakat.

"Yang tidak kalah menonjol adalah salah persepsi, saya sehat atau orang lain sehat kenapa harus jaga jarak. Kelihatannya konsep orang tanpa gejala (OTG) masih belum betul-betul berada di benak masyarakat," jelas Risang.

Kebanyakan responden berpikir penularan COVID-19 hanya melalui orang yang batuk dan bersin (71%). Hanya 23-25% responden yang menyadari penularan COVID-19 dapat melalui berbicara dan bernafas. Temuan ini mengungkap alasan mengapa jaga jarak dianggap tidak terlalu perlu saat berbicara dengan orang lain selama lawan bicara tidak batuk atau bersin.

Di samping itu, survei yang melibatkan 2000 responden di enam kota besar di Indonesia itu mengungkap mayoritas responden (69,6 persen) menyadari bahaya dan risiko fatal dari COVID-19. Kesadaran tersebut mendorong mereka untuk menjalankan protokol kesehatan agar terhindar dari penularan virus Corona.

"Ketakutan apabila dimanfaatkan dengan benar, kemudian bisa mengarahkan ke arah perilaku yang lebih baik. Karena kalau tidak diolah dengan baik ketakutan ini hanya akan jadi ketakutan saja, tidak menjadi aset untuk mengolah perubahan perilaku," ungkap UNICEF Communications Development Specialist Rizky Ika Syafitri.

Dari survei tersebut, didapatkan gambaran masyarakat sudah cukup patuh pada protokol kesehatan mencegah COVID-19. Namun, masih ada beberapa orang yang belum menerapkan 3M secara lengkap. Oleh sebab itu, masyarakat diimbau selalu #IngatPesanIbu untuk #pakaimasker, #jagajarak, dan #cucitanganpakaisabun, sesuai imbauan Satgas COVID-19.

(prf/ega)