Beda Versi Warga Surabaya Vs Dirjen Dukcapil soal Sulitnya Urus Akta Kematian

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 27 Okt 2020 14:30 WIB
yaidah ngurus akta kematian ke kemendagri
Yaidah, warga Surabaya yang mengurus akta kematian anaknya hingga ke Kemendagri (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Seorang warga Surabaya bernama Yaidah (51) nekat berangkat sendirian ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) di Jakarta untuk mengurus akta kematian anaknya. Yaidah mengaku berangkat ke Kemendagri mengikuti arahan petugas Dispendukcapil, namun Dirjen Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kemendagri punya cerita berbeda.

Cerita bermula saat Yaidah ingin mengurus akta kematian anaknya, Septian Nur Mu'aziz, yang meninggal pada Juli 2020 di usai 23 tahun. Akta kematian itu dibutuhkan untuk mencairkan asuransi milik anaknya. Oleh pihak asuransi, Yaida hanya diberi waktu 60 hari.

Yaidah yang tinggal di Perum Lembah Harapan, Lidah Wetan, Lakarsantri itu berinisiasi mengurus ke akta kematian ke Kelurahan Lidah Wetan, Lakarsantri. Sesampai di kelurahan, ia disuruh mengurus surat keterangan meninggal ke rumah sakit. Namun, saat surat akan diserahkan, kelurahan di-lockdown sebab ada petugas di sana yang meninggal akibat COVID-19.

Meski begitu, Yaidah mengaku tanggal 25 Agustus, seluruh berkas persyaratan untuk pengajuan akta kematian telah diserahkan. Dari kelurahan, berkas tersebut kemudian dikirim ke Dispendukcapil.

"Berkas itu saya sampaikan. tanggal 25 Agustus, berkas itu sudah di Dispenduk sebenarnya, sudah terkirim ke Dispenduk, dikirim pihak kelurahan," tutur Yaidah, Senin (26/10/2020).

yaidah ngurus akta kematian ke kemendagriYaidah, warga Surabaya yang mengurus akta kematian anaknya hingga ke Kemendagri (Foto: Istimewa)

Namun, sampai berhari-hari ditunggu, rupanya akta kematian itu tak kunjung datang. Bahkan ia mengaku sempat bolak-balik menanyakan ke pihak kelurahan. Adapun alasannya karena data untuk almarhum anaknya belum bisa diakses.

Akhirnya, pada 21 September, Yaidah mendatangi Dispendukcapil Surabaya di Siola dengan membawa berkas yang diserahkan ke kelurahan. Tapi apa daya di sana ia juga menemui jawaban yang sama bahwa akta belum bisa diakses.

Tak hanya itu, Yaidah juga merasa diperlakukan kurang ramah oleh sejumlah petugas di Dispendukcapil Siola. Di sana ia merasa dipermainkan dengan disuruh kembali ke kelurahan. Yaidah, yang merasa kesal dengan perlakuan petugas, lalu menjelaskan apa yang sudah dilakukannya di kelurahan. Ia lalu diminta untuk naik ke lantai 3 kantor Dispendukcapil, yang lalu diminta kembali ke lantai 1.

Yaidah semakin emosi mendengar itu, padahal ia sudah menunggu selama berjam-jam. Petugas itu kemudian menerangkan bahwa data kematian anaknya tak bisa diakses karena ada tanda petik atas di nama anaknya. Dan hal itu harus menunggu konsultasi dari Kemendagri terlebih dahulu.

"Dia bilang 'yo gak bisa, semua itu harus sesuai dengan data. Tanda petik itu harus nunggu dari Kemendagri pusat. lama dong? tanya saya. Yo lama wong yang dikirim bulan Juli aja baru jadi barusan, sambil ngeloyor masuk. bingung saya gak karu-karuan," tuturnya.

Simak juga video 'Momen Risma Berkaca-kaca Saat Aset Pemkotnya Kembali':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2 3