Jateng Raih Penghargaan Provinsi Terbaik Pengendali Inflasi Daerah

Nurcholis Maarif - detikNews
Kamis, 22 Okt 2020 20:38 WIB
Pemprov Jawa Tengah dinobatkan sebagai provinsi terbaik pengendali inflasi daerah dengan diraihnya penghargaan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Award.
Foto: Istimewa
Jakarta -

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) dinobatkan sebagai provinsi terbaik pengendali inflasi daerah dengan diraihnya penghargaan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Award. Prestasi ini merupakan yang keempat diraih Pemprov Jawa Tengah sejak 2015 lalu.

Penghargaan ini dibacakan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengendalian Inflasi Tahun 2020 yang diselenggarakan di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta. Provinsi Jawa Tengah menjuarai Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Award untuk wilayah Jawa-Bali mengalahkan DKI Jakarta dan Yogyakarta.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan prestasi itu buah dari sinergi dan koordinasi segenap TPID, baik dari Bank Indonesia maupun pemerintah kabupaten/kota dalam menjaga inflasi di Jawa Tengah.

"Termasuk bantuan dari forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopimda) sehingga aman, orang mau berusaha juga gampang. Termasuk jika ada indikasi dan potensi pidana pada volatile food, kepolisian langsung bergerak dengan cepat. Inilah peran-peran tim pengendali inflasi yang berperan penting," kata Ganjar, Kamis (22/10/2020).

Sebelumnya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan langkah yang dilakukan Pemprov Jawa Tengah dalam mengendalikan inflasi perlu ditiru pemerintah daerah lainnya di Indonesia.

"Kalau inflasi bisa dikontrol, ini baik, maka perlu diikuti pemerintah-pemerintah daerah yang lain," kata Airlangga.

Dalam acara yang dihadiri oleh Menteri Koordinator Perekonomian, Menteri Keuangan, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Koperasi dan UKM itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo turut mengapresiasi Provinsi Jateng yang berhasil mengendalikan tingkat inflasi, salah satunya dengan mengembangkan model bisnis yang memajukan kelompok petani bawang merah di Brebes.

Menurut Perry, model bisnis yang dikembangkan di klaster petani tersebut telah meningkatkan nilai tambah produk bawang merah, memperluas akses pembiayaan, serta membantu pemasaran produk-produk bawang merah, baik melalui platform digital di dalam negeri hingga menembus pasar luar negeri.

"Sejumlah model bisnis yang berhasil dikembangkan ini tentu dapat direplikasi di daerah-daerah lainnya," kata Perry.

Terkait apresiasi itu, Ganjar mengatakan pihaknya sudah cukup lama melakukan pendataan digital terkait produktivitas petani bawang merah di Brebes.

"Pekerjaan kami selama beberapa tahun mungkin baru hari ini kelihatan. Ternyata itu bisa dilakukan untuk mengendalikan pangan kita. Memang ketika pendataan digitalnya bagus, kita akan bisa mengelola dan menghitung dengan baik, termasuk mengetahui plus minusnya," pungkas Ganjar.

(akn/ega)