MAKI Minta Kajari Jaksel Dievaluasi karena Beri Jamuan ke 2 Jenderal

Wilda Nufus - detikNews
Senin, 19 Okt 2020 09:22 WIB
Koordinator MAKI, Boyamin Saiman.
Koordinator MAKI, Boyamin Saiman (Farih/detikcom)
Jakarta -

Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) menilai jamuan makan yang diberikan Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan (Kajari Jaksel) Anang Supriatna kepada tersangka kasus penghapusan red notice Djoko Tjandra Irjen Napoleon Bonaparte dan Brigjen Prasetijo Utomo tidak lazim. MAKI menyebut jamuan itu berlebihan.

"Berapa pun harganya adalah jamuan tersebut tidak lazim, toh selain soto ada jajanan pasar, jadi tetap berlebihan. Soto di Solo harganya Rp 5.000," kata Koordinator MAKI, Boyamin Saiman, dalam keterangannya, Senin (19/10/2020).

Boyamin melihat jamuan makan yang disajikan seperti sudah disiapkan di sebuah aula layaknya meja makan di restoran. Padahal, sejatinya, pelimpahan tahap II alat bukti dan para tersangka, hanya dilakukan di ruang pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) yang telah tersedia di kejaksaan.

"Dan itu nampak jamuan itu dikatakan soto katanya kantin, tapi kan ada jajanan pasar segala macam dan apapun itu di ruangan aula yang pengertiannya disiapkan untuk itu untuk makan-makan, karena mejanya jelas diatur sebagaimana meja makan di restoran," katanya.

"Apa pun itu berlebihan dengan jamuan model begitu, karena apa, sekarang di kejaksaan itu baik di Kejaksaan Agung, Kejaksaan Tinggi, Kejaksaan Negeri, itu sudah dibuat sistem PSTP, pelayanan satu pintu, dan itu ada ruangan tersendiri. Jadi sebenarnya mestinya cukup di situ ruangannya untuk serah-terima orang dan barang bukti, dan cukuplah kira-kira satu jam," imbuh Boyamin.

Selain itu, MAKI menyayangkan sikap Kajari Jakarta Selatan yang menyerahkan baju tahanan kepada para tersangka karena banyak awak media yang meliput kala itu. Boyamin menyebut pernyataan itu justru mencerminkan perlakuan berbeda terhadap 2 jenderal tersebut.

"Karena kalimatnya Kajari Jakarta Selatan kan mengatakan ketika memberikan baju tahanan kan semata-mata hanya bahwa karena banyak wartawan di luar, nanti ketahuan, ada perbedaan perlakuan kan gitu, dan buktinya ketika dua orang tersebut kembali ke Bareskrim ke Mabes Polri kan pakai baju dinas lagi, sampai di sana. Jadi ini hanya suatu yang perlakuan yang berbeda juga gitu," ucapnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2