Wakil Ketua MPR Sebut Hari Santri Momen Bangkitkan Nilai Persatuan

Faidah Umu Safuroh - detikNews
Minggu, 18 Okt 2020 14:21 WIB
Jazilul Fawaid
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid berharap dalam peringatan Hari Santri bangsa Indonesia semakin memperkuat nilai-nilai persatuan dan kesatuan. Hari Santri akan jatuh pada 22 Oktober 2020 nanti.

"Di tengah berbagai perbedaan, mari kita kokohkan nilai-nilai tersebut," ujar Jazilul dalam keterangannya, Minggu (18/10/2020).

Ia mengatakan saat melaksanakan resolusi jihad, 22 Oktober 1945, guna mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dari upaya kembalinya penjajahan bangsa asing, seluruh komponen masyarakat bersatu padu berjuang bersama di medan laga.

Ketika resolusi jihad diserukan oleh Rais Akbar NU Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy'ari, lanjutnya, seluruh ummat Islam, laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berada di radius 94 km dari Surabaya, wajib turun ke medan laga. Sedang umat Islam yang berada di luar radius 94 km, hukumnya fardu kifayah. Menurutnya, KH Hasyim Asy'ari dalam resolusi jihad menanamkan sikap patriotisme dan mencetuskan sikap dan pandangan cinta Tanah Air sebagian dari iman, 'hubbul wathan minal iman'.

"Sikap inilah yang membakar semangat rakyat untuk berjuang. Beragam elemen umat Islam dengan mengedepankan persatuan akhirnya mampu mempertahankan kemerdekaan Indonesia," ungkapnya.

Menurutnya, nilai-nilai yang ada pada seruan resolusi jihad yang mampu menyatukan seluruh kelompok masyarakat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia itu sangat relevan untuk diimplementasikan oleh bangsa Indonesia pada saat ini.

Jazilul mengakui, bangsa Indonesia terdiri dari beragam suku, agama, bahasa, dan budaya. Penduduk yang ada di Indonesia pun tersebar di ribuan pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Talaud hingga Pulau Rote.

"Perbedaan yang demikian sudah diselesaikan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan semangat ke-NKRI-an," ujar Jazilul.

Perbedaan yang dinamis saat ini menurutnya adalah perbedaan sikap politik dan pilihan. Perbedaan sikap politik dan pilihan menurutnya melintasi batas suku, agama, dan bahasa. Dirinya menegaskan meski berbeda sikap politik dan pilihan namun harus tetap mengedepankan nilai-nilai persatuan.

"Di masa menjelang dan saat mempertahankan kemerdekaan Indonesia, di antara masyarakat juga ada yang berbeda sikap politik namun tetap mengedepankan kepentingan bangsa. Menjelang kemerdekaan antara golongan yang disebut tua dan golongan yang disebut muda pun juga tak sama namun mereka tetap satu tujuan Indonesia merdeka," tambahnya.

Bila masyarakat tetap mengedepankan nilai-nilai persatuan maka perbedaan suku, bahasa, agama, budaya, serta sikap politik dan pilihan tidak akan menjadi ancaman disintegrasi bangsa.

"Bila tetap mengutamakan Indonesia maka tidak akan ada yang mengancam memisahkan diri," paparnya.

Pria asal Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, itu ingin nilai-nilai persatuan ada dalam hati dan jiwa seluruh rakyat Indonesia.

"Bila ada nilai persatuan maka ada Indonesia dan bila ada Indonesia maka ada nilai persatuan. Momen Hari Santri waktu yang tepat untuk membangkitkan nilai-nilai tersebut," tandasnya.

(akn/ega)