Ismail Fahmi: K-Popers Tingkatkan Awareness Omnibus Law di Twitter

Yulida Medistiara - detikNews
Sabtu, 10 Okt 2020 23:23 WIB
ilustrasi twitter
Ilustrasi Twitter (Foto: 9to5mac)

Ismail menyangkal anggapan yang menilai akun yang beravatar atau menggunakan foto profil K-Pop tersebut menyebarkan hoax. Sebab, menurutnya, dapat dibedakan antara penyebaran hoax dan opini pribadi.

"Nah yang dibilang nyebar hoax segala macam ini kan juga nggak jelas, semua itu kan argument, semuanya kan argumen. Soal hoax apa nggak lihat tweet-nya Mbak Anita Wahid. Hoax itu sesuatu yang bisa diukur benar atau tidak. Nah, kalau opini kan bisa benar bisa salah. Interpretasi itu kan opini. Itu nggak bisa disebut hoax," ungkapnya.

Menurutnya, K-Popers yang ada di dunia maya merupakan mahasiswa yang berasal dari berbagai jurusan. Misalnya, ada yang berlatar belakang mahasiswa sosial, politik, hukum, kedokteran, ekonomi. Oleh karena itu, dengan viralnya isu omnibus law, para pelajar juga menjadi tahu terkait isu tersebut.

"Nah yang nggak paham itu kan anak SD, SMP ini kan dia jadi bejalar karena dari kakaknya nyebar 'oh ini loh kajiannya, ini dampaknya'. Jadi anak-anak artinya belajar tapi yang kakak kakaknya itu paham," ungkap Ismail.

"Jadi selama ini banyak persepsi orang itu banyak mengira K-Popers itu hanya orang yang sukanya musik doang. Ya mereka suka musik, tapi mereka juga lawyers, mereka kuliah di hukum, mereka sosial politik. Bahkan bisa lebih bagus dari netizen yang lain," pungkasnya.


(yld/azr)