Round-Up

Saat Harta Karun Purbakala Muncul dari Danau Sentani Papua

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 06 Okt 2020 07:10 WIB
Benda-benda purbakala terlihat karena Danau Sentani surut.
Foto: Benda-benda purbakala terlihat karena Danau Sentani surut. (Antara)
Jakarta -

Surutnya air Danau Sentani, Papua di saat musim kemarau ternyata justru memastikan adanya jejak sejarah. Harta karun purbakala berupa peninggalan zaman megalitik ditemukan di Danau ini.

Saat musim kemarau pasokan air dari sumber sumber mata air Cyclops berkurang. Sehingga volume di Danau Sentani berkurang.

"Surutnya air Danau Sentani membuat benda-benda purbakala berupa tinggalan megalitik yang berada dalam air mulai muncul di permukaan air dan terlihat jelas. Benda-benda megalitik ini sebelumnya sempat dikhawatirkan hilang atau tergeser posisinya akibat banjir bandang yang melanda Sentani pada Maret 2019," kata Peneliti dari Balai Arkeologi Provinsi Papua, Hari Suroto, seperti dilansir Antara, Senin (5/10/2020).

Benda-benda purbakala berupa peninggalan zaman megalitik yang berada di Danau Sentani terlihat jelas ketika air surut. Benda-benda purbakala itu seperti menhir dan papan batu.

Hari mengatakan, biasnya saat kondisi permukaan Danau Sentani sedang pasang, peninggalan purba itu hanya kelihatan samar-samar.

"Namun, kali ini berbeda, terlihat sangat jelas ketika air Danau Sentani surut," katanya.

Penampakan jelas harta karun purbakala ini tampak di Pulau Asei, pulau kecil di tengah Danau Sentani bagian timur. Menhir atau batu besar yang berada di dalam air jadi terlihat lebih jelas, termasuk ukiran-ukiran di batunya.

Hari mengatakan sejumlah menhir juga terlihat jelas di Perairan Pulau Mantai. Dua buah menhir berukuran besar yang dipercaya masyarakat Sentani bagian barat sebagai laki-laki dan perempuan dewasa. Tak jauh di sampingnya ada 10 batu menhir berukuran lebih kecil yang dipercaya sebagai anak-anaknya.

Pada masa lalu, harta karun purbakala peninggalan megalitik ini berkaitan dengan kepercayaan pada roh nenek moyang atau kekuatan supranatural.

Dia menerangkan, menhir-menhir ini dikenal sebagai 'Ainining Duka' atau batu beranak. Menhir atau masyarakat Kwadeware menyebutnya batu rezeki atau batu marew juga nampak terlihat jelas di pinggir Pulau Mantai, berjarak sekitar 10 meter sebelah selatan batu beranak.

(idn/idn)