G30S/PKI

Cerita soal Senjata China untuk Angkatan Kelima Jelang G30S/PKI

Danu Damarjati - detikNews
Sabtu, 03 Okt 2020 19:16 WIB
Zentralbild Ulmer 12.7.1958. V. Parteitag der SED vom 10. bis 16.7.1958 in der Werner-Seelenbinder-Halle, Berlin, 3. Tag: UBz: Eine beeindruckende Solidarittsbekundung des Parteitages fr die konsequent- und erfolgreich fr die volle Gewhrleistung der Unabhngigkeit ihres Landes kmpfenden Kommunisten Indonesien erlebte die Werner-Seelenbinder-Halle whrend der Grussansprache des Generalsekretrs der KP Indonesiens, D. N. Aidit.
Foto ilustrasi: DN Aidit tahun 1958 (Bundesarchiv/Ulmer, Rudi via Wikimedia Commons)
Jakarta -

Sebelum Gerakan 30 September tahun 1965 meletus, sempat ada isu panas soal angkatan kelima. Republik Rakyat China (RRC) hendak mengirimkan senjata ke Indonesia.

Cerita ini disarikan dari tulisan ilmiah Taomo Zhou, 'China dan Gerakan 30 September', dimuat dalam Jurnal 'Indonesia' Volume 98, tahun 2014, terbitan Cornell University Southeast Asia Program.

Angkatan kelima adalah milisi berisi kaum buruh dan tani yang dipersenjatai. Ide muncul dari Partai Komunis Indonesia (PKI) dan didukung China.

Awal 1965, China mendorong Presiden Sukarno mendirikan Angkatan Kelima dan membantu persenjataan untuk Indonesia. Para pemimpin China merasa Angkatan Kelima di Indonesia perlu ada untuk mengimbangi agresi Barat di Asia Tenggara. Sejak 1963, China punya rencana strategis untuk mempromosikan revolusi di Asia Tenggara.

Januari 1965, Ketua Central Comite (CC) PKI DN Aidit mengusulkan ide Angkatan Kelima ke Bung Karno. Disebut 'angkatan kelima' lantaran ini lain dari AD, AU, AL, dan kepolisian. PKI memperkenalkan Angkatan Kelima sebagai pendukung ide Bung Karno, Nasakom (Nasionalisme Agama Komunisme). Isi Angkatan Kelima nantinya bakal berasal dari nasionalis dan kelompok agama juga.

Meski begitu, pemimpin PKI sudah berangan-angan nantinya Angkatan Kelima bakal membantu PKI melawan rivalnya dan membantu PKI berkuasa. Aidit sendiri pernah bilang di Harian Rakjat (koran PKI), ada 10 juta petani dan 5 juta buruh yang siap dipersenjatai.

Bantuan China

Antara 1960 hingga 1963, China masih menolak membantu persenjataan untuk Indonesia. Namun, pada paruh akhir 1964, China mulai antusias membantu secara militer.

Sukarno mengklaim bahwa Perdana Menteri RRC Zhou Enlai menyarankan pembentukan Angkatan Kelima yang terdiri dari 21 juta relawan yang mendaftar dengan sukarela selama 1964. Beijing memang mendukung penuh.

Begini bunyi tanggapan Perdana Menteri RRC Zhou Enlai kepada Wakil Perdana Menteri RI Subandrio, sebagaimana tercantum dalam 'Buletin Diplomatik Kunjungan Pertama Wakil Perdana Menteri Indonesia Subandrio dan Negosiasi Bilateral' tertangal 2 Februari 1965:

Proposal Presiden Sukarno untuk memiliterisasi massa sungguh tepat. Presiden Anda adalah Pemimpin Tertinggi Angkatan Bersenjata Laut, Darat, Udara, dan Kepolisian. Perlu ada angkatan tambahan-suatu milisi. Dan Sukarno perlu menjadi komandan tertinggi dari milisi juga. Tentu saja, ini harus didirikan secara bertahap. Milisi bisa mempertahankan Tanah Air, udara, dan perairan. Juga, karena milisi terdiri dari rakyat sipil, maka itu bisa lebih mudah melakukan perang gerilya di Kalimantan Utara... massa yang dipersenjatai bakal tidak terlihat... Saya berbagi pengalaman kepada Anda. Silakan sampaikan ini ke Presiden.

ABRI menolak ide Angkatan Kelima, juga menolak keterlibatan China. Menteri Koordinator Bidang Pertahanan Keamanan/Kepala Staf ABRI Jenderal Abdul Haris Nasution secara blak-blakan mengungkapkan ketidakmungkinan Angkatan Kelima.

"Tidak mungkin untuk bekerja bila komandannya harus dari PNI, kemudian wakilnya dari kelompok agama dan kelompok komunis," kata AH Nasution. Harian Angkatan Bersendjata milik ABRI menuliskan 'Angkatan Kelima Tidak Cocok untuk Kondisi Objektif di Indonesia'.

Angkatan Udara (AU) mendukung ide Angkatan Kelima. Menteri Panglima Angkatan Udara Omar Dani sudah membayangkan betapa besar kekuatan rakyat bila dipersenjatai. Sekitar 2.000 orang orang PKI dan organisasi underbow-nya ikut pelatihan militer selama beberapa pekan di Pangkalan Udara Halim, Jakarta Timur. Meski begitu, Angkatan Kelima tak pernah benar-benar terealisasi hingga meletus G30S.

China bakal kirim senjata

Januari 1965, Beijing secara sukarela mengajukan penawaran untuk mengirimkan senjata ringan. Penawaran ini disampaikan China di depan Subandrio oleh Kepala Staf Gabungan Departemen Komisi Militer Pusat RRC, Luo Ruiqing.

"Sekarang kami bisa memproduksi senjata ringan dalam jumlah banyak untuk infantri. Bila Anda butuh senjata ringan, kami bisa membantu. Bila Angkatan Laut atau Angkatan Udara Anda butuh suku cadang, jangan sungkan untuk mengutus staf Anda ke China untuk mencari," kata Luo Ruiqing.

"Persenjataan yang paling penting adalah senjata ringan... yang paling penting adalah bagaimana bisa menghadapi musuh dalam jarak 200 meter," kata Ketua Partai Komunis China, Mao Zedong, dalam pertemuan dengan Subandrio.

Hanya AURI yang meminta senjata ringan. Februari 1965, Subandrio memberi tahu Dubes RRC di Indonesia, Yao Zhongming, bahwa Bung Karno setuju bantuan senjata ringan yang ditawarkan China. Utusan khusus akan dikirim Bung Karno. Namun utusan itu tak juga dikirimi sampai bulan Juni gara-gara isu Angkatan Kelima memicu pro-kontra.

Presiden Sukarno dan lukisan Orang-orang RepolusiPresiden Sukarno dan lukisan Orang-orang Repolusi (Foto: dok. Henri Cartier Bresson)

Juni 1965, Deputi Logistik AURI Komodor Andoko menyampaikan ke atase militer RRC di Jakarta bahwa angkatan bersenjata akan memiliterisasi warga dalam jarak 50 km dari Pangkalan Udara Halim. Dia mengatakan Indonesia akan menjemput senjata itu dari China.

Omar Dani menyampaikan ke China, pihaknya butuh 25 ribu senjata ringan dari total 100 ribu item yang China tawarkan. Senjata itu bakal digunakan untuk kaum buruh dan petani dekat Pangkalan Halim.

Omar Dani dan Zou Enlai bertemu di Beijing pada 17 September 1965. China menyanggupi mengirimkan 25 ribu senjata ringan, meski menyarankan agar jumlahnya kurang sedikit dari itu.

Tentu butuh waktu untuk merakit senjata dan kemudian mengemasnya untuk dikirim ke Indonesia. G30S keburu meletus. Taomo Zhou sebagai peneliti memperkirakan senjata dari China itu tidak pernah sampai ke Indonesia.

Surat Omar DaniIlustrasi sosok Omar Dani (Repro Andhika Akbaryansyah/detikcom)

Senjata China tidak pernah sampai ke Indonesia, namun setidaknya Indonesia sudah punya senjata bikinan Soviet. Lewat kunjungan ke RI tahun 1960, Presiden Uni Soviet Nikita Khrushchev memberikan USD 100 juta, bantuan terbesar yang pernah diberikan Soviet untuk negara nonkomunis. Pada tahun berikutnya, Moskow memasok senjata untuk kegiatan konfrontasi melawan Malaysia.

Informasi dari China lebih bombastis lagi. Soviet disebut meneken empat pakta bantuan militer ke Indonesia senilai total USD 1.126.000.000. Antara 1960 hingga 1963, Moskow menyediakan peralatan untuk Angkatan Laut dan Udara senilai USD 950.000.000. Pada 1964, Soviet menawarkan peralatan senilai USD 176.000.000 untuk ABRI, namun sebagian item yang dijanjikan tidak datang. Sekitar 90 persen alat utama sistem persenjataan (alutsista) AURI dan 80 persen alutsista AL berasal dari Soviet.

Nuklir China

Pada 1965 sebelum G30S, China memikirkan transfer teknologi nuklir ke Indonesia. Tujuannya adalah membangun aliansi melawan Amerika Serikat (AS), karena saat itu hubungan China dengan Uni Soviet sedang tidak harmonis.

Bom nuklir China sukses diledakkan lewat uji coba pada 16 Oktober 1964. Di Tanah Air, Presiden Sukarno sudah mendirikan Lembaga Tenaga Atom pada Desember 1958. Bung Karno tak pandang bulu menerima bantuan. Indonesia dengan tangan terbuka menyambut bantuan Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet nyaris dalam sekali tarikan napas. Padahal dua negara itu bermusuhan satu sama lain. Hasilnya, reaktor nuklir di Bandung dibangun.

Pada 17 Agustus 1965, Subandrio menyampaikan kepada Wakil Perdana Menteri/Menlu RRC Chen Yi bahwa cara untuk mencegah perang nuklir adalah dengan mempunyai senjata nuklir. Indonesia berharap China bisa membantu. Chen Yi setuju. Subandrio berencana segera mengirimkan delegasi ke China.

"Bila kami tidak memberi Anda bantuan, kami bukan sahabat sejati Anda," kata Chen Yi.

21 September 1965, Kelompok Energi Atom dari Indonesia mendarat di China. Mereka terdiri dari ilmuwan termasuk mantan Direktur Batan Djali Ahimsa. Misi rahasianya adalah membawa plutonium dari China. Misi ini sudah disetujui Sukarno dan pihak China.

Djali Ahmisa percaya, dengan plutonium itu, Indonesia bisa membuat bom nuklir. 30 September 1965, beberapa jam sebelum terjadi peristiwa besar di Indonesia, Ketua Partai Komunis China Mao Zedong masih menjamu utusan DPR RI Chairul Saleh dan Ketua PNI Ali Sastroamidjojo. Pembicaraannya juga soal isu nuklir.

Namun G30S keburu meletus. Semua rencana itu menjadi tidak jelas. Saat Djali Ahimsa meminta kesempatan mengunjungi pusat pengayaan uranium di Chengdu, Zhou mengatakan bakal menjadwalkannya, namun tak ada tindak lanjut dari permintaan Djali Ahimsa.

Simak video 'Usulan Pendirian Dewan Sejarah Indonesia':

[Gambas:Video 20detik]



(dnu/tor)