Gatot Bicara Kebangkitan PKI, Moeldoko: Jangan Berlebihan Takuti Orang

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 01 Okt 2020 11:47 WIB
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko (Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko angkat bicara mengenai pernyataan eks Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang merasakan kebangkitan PKI sejak 2008. Moeldoko meyakini tidak mungkin ada peristiwa yang tiba-tiba datang.

"Saya sebagai pemimpin yang dilahirkan dari akar rumput bisa memahami peristiwa demi peristiwa. Mengevaluasi peristiwa demi peristiwa. Tidak mungkin datang secara tiba tiba. Karena spektrum itu terbentuk dan terbangun tidak muncul begitu saja. Jadi jangan berlebihan sehingga menakutkan orang lain. Sebenarnya bisa saja sebuah peristiwa besar itu menjadi komoditas untuk kepentingan tertentu," kata Moeldoko dalam wawancara dengan Staf Komunikasi Politik KSP, seperti dikutip, Kamis (1/10/2020).

Moeldoko, yang juga menjabat Panglima TNI sebelum Gatot, berbicara mengenai pendekatan kewaspadaan yang dibangun. Moeldoko memilih membangun kewaspadaan yang menenteramkan.

"Ada dua pendekatan dalam membangun kewaspadaan. Kewaspadaan yang dibangun untuk menenteramkan dan kewaspadaan yang menakutkan. Bedanya di situ. Tinggal kita melihat kepentingannya. Kalau kewaspadaan itu dibangun untuk menenteramkan, maka tidak akan menimbulkan kecemasan. Tapi kalau kewaspadaan itu dibangun untuk menakutkan, pasti ada maksud-maksud tertentu," kata Moeldoko.

Moeldoko menyebut narasi kebangkitan PKI yang digaungkan hanya untuk komoditas kepentingan pribadi.

Jenderal Gatot Nurmantyo resmi dilantik menjadi Panglima TNI di Istana Negara, Rabu (8/7/2015). Jenderal Gatot Nurmantyo dilantik oleh Presiden Jokowi di Istana Negara. Gatot menggantikan Panglima Jendral TNI Moeldoko. Gatot melakukan salam komando dengan Moeldoko. Agung Pambudhy/detikcom.Gatot Nurmantyo saat bersama Moeldoko. (Agung Pambudhy/detikcom)

"Saya melihat lebih cenderung ke situ. Kita ini mantan-mantan prajurit, memiliki DNA yang sedikit berbeda dengan kebanyakan orang. DNA intelijen, DNA kewaspadaan, DNA antisipasi, dan seterusnya," ucap Moeldoko.

Moeldoko pun menambahkan, pendapat Gatot yang mengaitkan pergantian dirinya dari posisi Panglima TNI karena ajakan nonton bareng film G30S/PKI adalah pendapat subjektif. Padahal, kata Moeldoko, Presiden Jokowi sebagai panglima tertinggi RI memiliki banyak pertimbangan soal pergantian Panglima TNI.

"Tentang pencopotannya, itu pendapat subjektif. Karena itu penilaian subyektif ya boleh-boleh saja, sejauh itu perasaan. Tapi perasaan itu belum tentu sesuai dengan yang dipikirkan oleh pimpinannya. Pergantian pucuk pimpinan di sebuah organisasi itu melalui berbagai pertimbangan. Bukan hanya pertimbangan kasuistis tetapi pertimbangan yang lebih komprehensif," kata Moeldoko.

Setelah pensiun dari TNI, Gatot mendeklarasikan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) bersama sejumlah tokoh. Gatot mengaku sudah melihat kebangkitan PKI sejak 2008.

"Memang gerakan ini tidak bisa dilihat bentuknya, tetapi dirasakan bisa. Contohnya kenapa 2008, karena sejak 2008 itulah seluruh sekolah, pelajaran soal G30S/PKI ditiadakan. Ini suatu hal yang sangat berbahaya," kata Gatot saat bicara di kanal YouTube Hersubeno Point, 21 September 2020.

(dkp/tor)