G30S/PKI

Sebelum G30S Meletus, DN Aidit Laporkan Strategi Ini ke Mao Zedong

Danu Damarjati - detikNews
Sabtu, 03 Okt 2020 11:57 WIB
DN Aidit, Mao Zedong, Tanti (istri Aidit), dan Jusuf Adjitorop (fungsionaris PKI). (Koleksi IISC Amsterdam via buku G30S dan Asia)
DN Aidit, Mao Zedong, Tanti (istri Aidit), dan Jusuf Adjitorop (fungsionaris PKI). (Koleksi IISC Amsterdam via buku 'G30S dan Asia')
Jakarta -

Sebelum Gerakan 30 September terjadi di Indonesia, Ketua Comite Central (CC) PKI DN Aidit melawat ke China. Dia bertemu dengan Ketua Partai Komunis China Mao Zedong. Ini yang mereka obrolkan.

Meski tak ada bukti bahwa Republik Rakyat China (RRC) terlibat langsung dalam G30S/PKI, DN Aidit sempat berbicara tentang kondisi politik di Tanah Air. Kunjungan ke China terjadi sebulan sebelum G30S/PKI.

Catatan ini dituliskan Taomo Zhou, saat ini adalah Asisten Profesor di Universitas Teknologi Nanyang (NTU), Singapura, dalam laporan berjudul 'China dan Gerakan 30 September', dimuat dalam Jurnal 'Indonesia' Volume 98, tahun 2014, terbitan Cornell University Southeast Asia Program.

5 Agustus 1965, DN Aidit dan istrinya bernama Tanti, bersama Wakil Sekretaris PKI Jusuf Adjitorop, bertemu dengan Mao Zedong dan para pemimpin China, termasuk Perdana Menteri China Zhou Enlai, Menteri Luar Negeri Chen Yi, Deng Xiaoping, Liu Shaoqi, dan Peng Zhen.

Pada pertemuan di Beijing saat itu, Aidit melaporkan soal kondisi kesehatan Presiden Sukarno yang memburuk, yakni menderita cerebral vasospasm, semacam gangguan pembuluh darah di otak. Saat itu, para pemimpin China khawatir Sukarno bakal digantikan oleh tokoh sayap kanan yang mereka anggap didukung Barat (Amerika Serikat), yakni Menteri Koordinator Bidang Pertahanan Keamanan/Kepala Staf ABRI Jenderal Abdul Haris (AH) Nasution.

Simak video 'Hermawan Sulistyo: Hasil Visum Para Jenderal Tewas Ditembak':

[Gambas:Video 20detik]



Aidit melaporkan kepada Mao Zedong soal militer Indonesia. Begini dialognya: