G30S/PKI

Sakit Apa Bung Karno Jelang G30S/PKI?

Danu Damarjati - detikNews
Sabtu, 03 Okt 2020 16:17 WIB
Ilustrasi: Perdana Menteri RRC Zhou Enlai dan Presiden Sukarno. (Sumber: Situs Kemdikbud)
Ilustrasi: Perdana Menteri RRC Zhou Enlai dan Presiden Sukarno. (Sumber: Situs Kemdikbud)

China mengirimkan bantuan. November 1964, tim medis yang dipimpin urologis Dr Wu Jieping tiba di Indonesia. Mereka tidak setuju dengan diagnosis dokter di Wina, Austria. Dokter China mengatakan Bung Karno bukan sakit gara-gara batu ginjal (meski ada pula masalah ginjal), melainkan karena masalah kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah).

Tim medis menyampaikan diagnosis, resep, dan perawatan, seperti akupunktur dan obat herbal. Sukarno dinilai lebih sreg dengan kapsul herbal China, cenderung sedikit overdosis. Misalnya resep menginstruksikan agar obatnya lima kali butir saja, tapi Sukarno menelannya enam butir. Dokter China kecewa terhadap sikap Bung Karno.

Namun Sukarno sehat kembali dan akhirnya Dr Wu Jieping kembali ke negaranya pada awal Januari 1965. Meski begitu, ada tim medis China yang menyediakan penanganan kesehatan sehari-hari. Yang jelas, Sukarno tidak menjalani operasi batu ginjal kala itu.

Namun, pada Agustus 1965, Bung Karno menderita vasospasme serebral, penyempitan pembuluh darah arteri otak. Politikus-politikus Indonesia menjadi ribut. Inilah yang dikatakan memicu eskalasi ketegangan sebelum G30S.

4 Agustus 1965, pagi hari, Sukarno pusing setelah bangun tidur, vertigo, mual, muntah, dan berkeringat. Pukul 10.00 WIB, tim medis China berada Istana Kepresidenan untuk memeriksa Bung Karno.

"Sampai sejauh ini, belum jelas betul apakah kondisi Presiden akan memburuk atau tidak. Sekarang kami memberikan perawatan untuknya, dan tidak ada tanda bahwa Presiden akan pingsan. Tolong kabarkan ke Aidit (DN Aidit, Ketua CC PKI)," demikian bunyi pesan dokter dari China.

Beberapa jam kemudian, tim medis menulis, "Kami mendiagnosis Sukarno menderita sakit meniere. Tidak ada darah beku karena pendarahan otak. Kami berharap pemulihan bertahap dalam waktu singkat, namun kami juga butuh dikabari soal kemungkinan pembentukan darah beku dan yang terkait komplikasi di hati dan ginjalnya."