Ajukan PK Vonis 6 Tahun, Walkot Medan Nonaktif Dzulmi Eldin Minta Dibebaskan

Datuk Haris Molana - detikNews
Rabu, 30 Sep 2020 13:26 WIB
Sidang PK Dzulmi Eldin (Datuk Haris-detikcom)
Sidang PK Dzulmi Eldin (Datuk Haris/detikcom)
Medan -

Sidang peninjauan kembali (PK) yang diajukan Wali Kota Medan nonaktif Dzulmi Eldin digelar. Eldin menilai putusan hakim keliru dan meminta agar dirinya dibebaskan dari segala dakwaan.

Sidang PK tersebut digelar secara virtual di ruang Cakra 4 Pengadilan Negeri Medan, Rabu (30/9/2020). Majelis hakim dan pengacara Eldin hadir di ruangan, sementara Eldin dan jaksa mengikuti sidang secara virtual.

"Agenda kita hari ini adalah pada dasarnya pembacaan dari alasan-alasan PK kita itu," kata pengacara Eldin, Junaidi Matondang.

Junaidi menjelaskan ada dua alasan Eldin mengajukan PK. Pertama, pihak Eldin menilai ada novum (peristiwa atau bukti baru) terkait perkara. Alasan kedua adalah soal kesalahan penerapan hukum dalam putusan yang lalu.

"Apa novum itu, ada dua. Satu putusan dalam perkara Samsul Fitri, yang merupakan perkara terpisah dari perkara ini. Yang kedua, nota tuntutan dari jaksa dalam perkara yang terdahulu itu, dalam perkara Samsul Fitri. Dalam kedua novum kami itu, terdapat keterangan-keterangan dari saksi-saksi yang bersifat testimoni yang menguntungkan bagi pemohon PK," ujar Junaidi.

"Apa itu, bahwa keterangan mereka di situ terungkap mereka tidak tahu adanya perintah itu baik saksi Aidil Putra Pratama, saksi Andika, maupun saksi para kepala dinas, para kepala OPD itu. Mereka mengatakan, mereka tidak dengar, nggak ada mendengar itu. Jadi mereka tahunya itu hanya dari Samsul. Itu satu," sambungnya.

Keterangan tersebut, katanya, sudah dikonfirmasi juga untuk perkara Eldin. Namun Junaidi mengatakan keterangan itu tidak dimuat oleh majelis hakim yang menangani perkara Eldin.

"Maka kami jadikan itu novum. Nah, kalau itu ada, dulunya yang kami tahu gitu kan. Maka putusan itu tidak akan menghukum terhadap pemohon PK. Nah, kemudian lagi ada kesalahan penerapan hukum oleh majelis perkara ini. Apa itu? Yang paling mendasar ada saksi-saksi sejumlah enam orang yang tidak pernah didengar keterangannya. Yang nggak pernah hadir di sidang, dijadikan pertimbangan hukum," sebut Junaidi.

Junaidi mengatakan ada enam orang saksi memberatkan tapi tidak hadir di persidangan. Menurutnya, keterangan mereka tetap menjadi pertimbangan.

"Ini menurut kami sangat luar biasa, putusan memaksakan. Tidak fair. Malah jaksanya fair, di mana fair-nya? Dalam tuntutan mereka, mereka sebut bahwa Andika, Aidil Putra Pratama, menyatakan tidak tahu, tidak mendengar. Kemudian tidak ada saksi-saksi yang dimuat seperti halnya dalam pertimbangan putusan itu," ujar Junaidi.

Selanjutnya
Halaman
1 2