Round-up

11 Fakta Terbaru Kasus Pelecehan-Pemerasan Rapid Test di Soetta

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Selasa, 29 Sep 2020 05:01 WIB
Polisi rilis kasus pelecehan di Bandara Soekarno-Hatta
Foto: (Tiara Aliya/detikcom)

EF Matikan HP-Medsos Setelah Pelecehan Viral

Setelah mengetahui perbuatannya itu viral, tersangka EF langsung menonaktifkan akun media sosial hingga handphonenya.

"Setelah tanggal 18 (September) tanggal 18 (September) itu ramai di media sosial, langsung dia dimatikan semua dia punya akun-akun media sosial yang ada, termasuk handphonenya pun dia langsung matikan semuanya," kata Yusri.

Setelah menonaktifkan akun sosial medianya, EF pun mencoba melarikan diri ke Sumatera Utara. Dengan uang hasil pemerasan terhadap korban LHI, ia membeli tiket pesawat dan kabur ke kosan di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.
"Setelah itu dia melarikan diri melalui darat ke Sumatera Utara. Itulah dia pakai biaya (pesawat), termasuk dikirim ke ibunya," ujarnya.

Ubah Hasil Rapid Test, Tapi Ada 'Anunya'

Tersangka kemudian menawarkan kepada korban untuk mengubah hasil rapid test dari reaktif menjadi nonreaktif. Padahal, hasil rapid test korban saat itu non-reaktif.

"Tetapi, di balik dari itu ditawarkan oleh yang bersangkutan kalau mau jadi non-reaktif bisa, tapi ada 'anunya' (uang, red). Dia bisa ngubah (hasil rapid test)," kata Yusri.

Yusri menjelaskan, korban dua kali menjalani rapid test. Total penumpang yang di-rapid test saat itu seharusnya 313 orang, tetapi korban dites dua kali sehingga menjadi 314 penumpang.


Kirim Uang Hasil Pemerasan ke Ortu

EF mengantongi Rp 1,4 juta dengan dalih mengubah hasil rapid test korban dari non-reaktif menjadi reaktif. Uang tersebut digunakan EF untuk keperluan pribadinya.

"Jadi dipakai untuk dikirim ke ibunya, untuk dipakai sehari-hari," kata Yusri.

Tulis Gelar Dokter di Baju OK

Polisi mengungkapkan tersangka EF menulis gelar dokter pada baju operasi (baju OK, dalam bahasa Belanda operation kamer) saat melakukan rapid test terhadap korban di Bandara Soekarno-Hatta.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus menjelaskan tersangka adalah seorang sarjana kedokteran. Namun, tersangka belum layak disebut dokter karena belum melaksanakan uji kompetensi dokter Indonesia (UKDI).

"Jadi dia sudah nulis 'dokter' padahal belum ada status sebagai dokter. Dia masih sarjana kedokteran karena belum melalui mekanisme daripada UKDI," ujar Yusri.

Yusri menambahkan, pihaknya masih akan mendalami apakah tersangka melakukan kode etik terkait penggunaan gelar dokter tersebut.


Korban Trauma

Polisi telah melakukan asesmen psikologi terhadap LHI, perempuan korban pelecehan EF. Korban mengalami trauma.

"Kita ambil (keterangan) saksi ahli P2TP2A Gianyar sana supaya memperkuat lagi kondisi bagaimana psikologi korban. Korban mengaku trauma dengan kejadian tersebut kita mengambil keterangan ahli di sana. P2TP2A yang tadi dari Gianyar Bali juga hasil pemeriksaan keterangan ahli menyatakan bahwa (korban) sempat mengalami trauma dengan kejadian yang dialami," jelas Yusri.

Yusri menjelaskan, dalam kejadian ini ada 2 perkara yang disidik oleh polisi. Pertama terkait dugaan penipuan dan pemerasan yang dilakukan oleh tersangka dan kedua soal pencabulan.

"Ada dua inti di sini, yang pertama adalah adanya (Pasal) 368 KUHP, di pasal 368 KUHP kemudian 378 (KUHP) penipuan, juga ada di pasal 289 dan 294 KUHP tentang pencabulan yang dilakukan oleh tersangka," kata Yusri.