Jejak Kasus 'IDI Kacung WHO' di Meja Hijau hingga Jerinx Pilih WO

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Jumat, 11 Sep 2020 05:17 WIB
Jerinx SID (Anggra Riza/detikcom).
Foto: Jerinx SID (Angga Riza/detikcom).
Denpasar -

Musisi Jerinx SID duduk di kursi pesakitan menjalani sidang perdana. Terdakwa kasus ujaran kebencian ini lalu angkat kaki dari ruang persidangan karena menolak sidang virtual.

Sidang perdana Jerinx SID perkara "IDI Kacung WHO" sedianya akan disiarkan melalui live streaming. Sidang Jerinx digelar di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar pada Kamis10 September 2020.

"Pengadilan akan menayangkan secara langsung persidangan tersebut live streaming dengan link: https://youtu.be/xG0ueLequV0 .

Standar pelayanan operasional yang berlaku di PN Denpasar yakni pengunjung pengadilan dibatasi maksimal 90 (sembilan puluh) orang sesuai protokol kesehatan.

"Pencegahan penularan wabah COVID-19 sehingga diharapkan masyarakat yg akan menyaksikan persidangan dapat memanfaatkan optimal link live streaming di atas," imbau Ketua Pengadilan Negeri Denpasar Sobandi dalam keterangan tertulisnya, Rabu (9/10).

Pengacara hukum Jerinx SID I Wayan Gendo Suardana awalnya menuturkan tim kuasa hukum Jerinx SID akan datang full tim sekira 13 orang. Tim kuasa hukum sudah mempelajari keseluruhan dan tinggal melakukan penyesuaian.

Jerinx dan kuasa hukumnya lalu menghadiri sidang perdana itu. Namun di tengah persidangan, suami artis Nora Alexandra ini keberatan sidang digelar secara online.

Menanggapi keberatan Jerinx, Ketua Majelis Hakim Adyana Dewi kembali menegaskan sidang dilakukan secara online sesuai peraturan sidang di masa pandemi. Jerinx pun akhirnya meninggalkan ruang sidang. Sedangkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) melanjutkan membacakan dakwaan.

Berikut jejak Klkasus 'IDI Kacung WHO' di meja hijau hingga Jerinx pilih WO:

Terancam 6 Tahun Bui

Jerinx terancam hukuman 6 tahun penjara.

"Perbuatan terdakwa I Gede Ary Astina alias Jerinx sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 28 ayat 2 Junto Pasal 45 ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik junto Pasal 64 Ayat 1 KUHP," kata jaksa penuntut umum (JPU) dalam sidang yang disiarkan secara live lewat channel YouTube PN Denpasar, Kamis (10/9/2020).

Ancaman pidana dari Pasal 28 ayat (2) UU ITE tersebut diatur dalam Pasal 45A ayat (2) UU 19/2016, yakni:

Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar.

JPU juga memberikan dakwaan alternatif atau kedua. Perbuatan Jerinx sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 27 ayat (3) jo Pasal 45 ayat (3) UU Nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Eletronik (ITE) jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Ancaman pidana bagi orang yang melanggar Pasal 27 ayat (3) UU ITE ini diatur dalam Pasal 45 ayat (3) UU 19/2016, yang berbunyi:

Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).

Jerinx Didakwa Sebarkan Ujaran Kebencian

Meski Jerinx walk out, persidangan perdana tetap digelar. Jerinx didakwa menyebarkan ujaran kebencian dan pencemaran nama baik terhadap Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Jaksa penuntut umum (JPU) mengatakan terdakwa Jerinx sengaja membuat postingan di akun Instagramnya karena akan mendapat perhatian dari masyarakat. Postingan dalam perkara ini yakni pada tanggal 13 dan 15 Juni 2020.

Postingan Jerinx pada tanggal 13 itu berisi kalimat terkait IDI Kacung WHO. Sementara postingan tanggal 15 berisi soal dokter meninggal hingga menyinggung soal COVID-19 konspirasi.

JPU menjelaskan akibat postingan Jerinx yang bernada membuat kebencian dan atau permusuhan dan atau penghinaan atau pencemaran nama baik itu sehingga Ikatan Dokter Indonesia (IDI) merasa terhina dan dibenci oleh sebagian masyarakat Indonesia. IDI juga merasa dirugikan baik materiil maupun immateriil akibat dari postingan tersebut.

"Perbuatan terdakwa I Gede Ary Astina alias Jerinx sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 28 ayat 2 Junto Pasal 45 ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik junto Pasal 64 Ayat 1 KUHP," kata JPU dalam sidang yang disiarkan secara live lewat chanel YouTube PN Denpasar, Kamis (10/9/2020).

JPU juga memberikan dakwaan alternatif atau kedua. Perbuatan Jerinx sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 28 ayat 2 Junto Pasal 45 ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik junto Pasal 64 Ayat 1 KUHP.

Jerinx: Saya Bukan Supermen

Sebelum dikembalikan ke ruang tahanan, Jerinx menyampaikan unek-uneknya.

"Saya bukan koruptor, saya tidak pernah bunuh orang. Kalau pernah ada orang merasa COVID gara-gara saya atau gara-gara apa pun yang saya lakukan, silakan ajukan ke polisi. Usia saya 43 tahun, saya punya masalah lever, pola hidup saya tidak sehat, jarang olahraga, minum alkohol hampir tiap hari, ketemu ribuan orang sejak 4 Juni 2020," kata Jerinx SID kepada wartawan di Polda Bali, Kamis (10/9/2020).

"Hasil tes swab saya negatif. Saya bukan superman, saya manusia biasa seperti setiap orang. Apa yang harus ditakut-takuti. Luar biasa, saya diperlakukan seolah seperti kriminal. Saya merugikan siapa sih?" imbuh Jerinx SID.

Jerinx juga menyayangkan rapid test masih diberlakukan untuk ibu-ibu hamil. Jerinx juga kembali mengajak IDI untuk berdebat

"Apakah ada rakyat yang saya rugikan? Ibu-ibu yang melahirkan tetap dipersulit, jadi apa gunanya nahan saya? Orang mau melahirkan ketuban pecah suruh rapid test, apakah itu manusiawi? Demi apa? Saya ingin diskusi sama IDI, saya memilih diksi yang agak keras dengan harapan saya diajak diskusi, lalu kita bisa tercerahkan, bisa teredukasi, sehingga tidak lagi saling curiga. Jika begini cara IDI memberlakukan orang yang memberi kritik dan masukan, mereka merasa rakyat itu tidak perlu dididik, tapi perlunya ditakut-takuti," ujar Jerinx SID.

"Yang Indonesia butuhkan adalah pendidikan, bukan seperti ini, ini balik lagi seperti zaman Orba, mungkin lebih parah," tegas Jerinx.

Tolak Sidang Online, Jerinx WO

Jerinx keberatan sidang kasus 'IDI Kacung WHO' digelar secara online.

"Sekali lagi saya tetap menolak sidang yang dilakukan secara online karena saya merasa hak-hak saya tidak diwakili sepenuhnya oleh sidang ini," kata Jerinx dalam sidang yang disiarkan secara live lewat channel YouTube PN Denpasar, Kamis (10/9/2020).

Menurut Jerinx, majelis hakim tidak bisa melihat gesture dan tidak bisa membaca bahasa tubuhnya.

"Sehingga kemungkinan keputusan-keputusan yang diambil nanti bisa jadi kurang tepat, terima kasih, Yang Mulia," ujarnya.

Penasihat hukum menambahkan, Jerinx meminta pemeriksaan yang adil dan tidak menimbulkan keraguan.

Ketua Majelis Hakim Adyana Dewi kembali menegaskan sidang dilakukan secara online sesuai peraturan sidang di masa pandemi. Sebab, katanya, belum ada putusan MK atau MA yang membatalkan aturan itu.

"Tetap memperlakukan persidangan secara online, itu sudah kami tetapkan. Sekarang untuk dilakukan persidangan untuk membaca surat dakwaan oleh penuntut umum," kata Adyana Dewi.

"Maaf, Yang Mulia, saya sebagai terdakwa menolak diadakan sidang online, jika ini dipaksakan saya memilih untuk keluar dari sidang, terima kasih," ujar Jerinx.

Jerinx dan kuasa hukum lalu meninggalkan forum sidang. Jaksa Penuntut Umum melanjutkan membacakan dakwaan.

Penangguhan Penahanan Ditolak

Pengajuan penangguhan penahanan Herinx ditolak oleh Kejaksaan Tinggi Bali. Sebelumnya keluarga dan pengacara Jerinx juga pernah mengajukan penangguhan penahanan di Polda Bali.

"Dengan demikian, terkait pertanyaan temen-temen yang menanyakan tentang permohonan penangguhan penahanan dengan pelimpahan ini kami dapat menyampaikan bahwa permohonan penangguhan penahanan dari terdakwa I Gede Astina alias Jerinx dan pengacaranya itu tidak dapat kami terima," kata Kasi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi Bali A Luga Harlianto kepada wartawan, Kamis (3/9/2020).

Luga memaparkan hal itu setelah dilimpahkannya perkara Jerinx 'SID' soal kasus 'IDI kacung WHO' ke Pengadilan Negeri Denpasar hari ini. Yang bersangkutan dapat mengajukan penangguhan penahanan kembali ke majelis hakim.

Lebih lanjut, Luga menjelaskan, penolakan penangguhan penahanan Jerinx 'SID' mengacu kepada syarat-syarat objektif dan subjektif. Dikhawatirkan Jerinx akan mengulangi perbuatannya.

Selanjutnya
Halaman
1 2