Pakar Timur Tengah Membedah Politik Saudi di Balik Penangkapan Ulama

Danu Damarjati - detikNews
Selasa, 08 Sep 2020 17:29 WIB
Ilustrasi bendera Arab Saudi
Dok. Anadolu Agency
Jakarta -

Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menangkap ulama Syekh Abdullah Basfar. Pemerhati Timur Tengah membedah politik Saudi di balik aksi penangkapan pemuka agama dewasa ini.

Pengamat politik Timur Tengah lulusan Universitas Al Azhar, Zuhairi Misrawi, menjelaskan soal politik di Saudi. Wahabisme menjadi latarnya. Wahabisme berkembang sebagai penyokong Dinasti Saud. Kini, ada modernisasi di Arab Saudi.

"Ada wahabisme yang direformasi, bentuknya adalah modernisasi seperti perempuan boleh mengemudikan mobil, bioskop dibuka," kata Zuhairi kepada detikcom, Selasa (8/9/2020).

Wahabi adalah gerakan Islam Sunni yang bertujuan memurnikan ajaran Islam. Terkadang, penerapannya memang kelewat konservatif. Namun di era kekuasaan Pangeran Muhammad Bin Salman (MBS) tahun 2017, modernisasi mulai terjadi. Di sisi lain, ada pula Wahabi yang masih setia dengan bentuk aslinya.

"Ada wahabisme yang masih dipertahankan, tidak boleh ada keragaman pandangan," kata Zuhairi.

Dilansir BBC, kronologi politik Arab Saudi mulai Abad 20 dimulai oleh Abdul Aziz bin Saud (Ibnu Saud) yang menguasai Riyadh pada 1902. Satu dekade setelahnya, paham Wahabi menyokong Ibnu Saud.

Turki Usmani ambruk pada 1921 hingga 1925, Ibnu Saud kemudian mengambil alih Najd dan Hijaz. Pada 1932, Ibnu Saud menyatukan wilayahnya menjadi Kerajaan Saudi Arabia. Dia menjadi raja. Hingga kini, Dinasti Saudi berkuasa. Apakah kini Pangeran MBS masih memegang wahabisme?

"Dia seorang yang pragmatis saja. Nggak ada kaitannya dengan ideologi," kata Zuhairi.

Zuhairi MisrawiZuhairi Misrawi (Ari Saputra/detikcom)

Tonton video 'Sheikh Abdullah Basfar, Ulama Terkemuka yang Ditangkap Saudi':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2 3