Ketua MPR: Tato Jangan Jadi Simbol Gagah-gagahan

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Selasa, 08 Sep 2020 11:51 WIB
Bamsoet bareng Hendric Shinigami
Foto: Dok. MPR RI
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo Nge-vlog bareng seniman tato Hendric Shinigami. Hal ini terlihat dalam konten YouTube terbarunya di Bamsoet Channel. Ia membahas mengenai budaya dan bisnis studio tato di tengah pandemi COVID-19 yang terus menggeliat seiring maraknya masyarakat hobi menggambar tubuhnya.

Menurut Bamsoet, hal itu wajar karena budaya tato telah lama mengakar dalam kehidupan bangsa Indonesia. Setidaknya ada tiga suku yang memiliki kearifan lokal mentato tubuhnya antara lain Suku Mentawai, Suku Dayak, dan Suku Moi. Bahkan tradisi mentato tubuh di Suku Mentawai termasuk yang tertua di dunia.

"Dimulai sejak 53 tahun sebelum masehi (53 tahun SM). Sebagian besar suku mentato tubuhnya sebagai bagian dari peribadatan serta penanda status sosial di kelompok masyarakat," ungkap Bamsoet dalam keterangannya, Selasa (8/9/2020).

Bamsoet juga menuturkan di dekade 1980-an, tato terdegradasi menjadi simbol kriminalitas lantaran banyaknya penjahat yang bertato. Bahkan pernah geger kehadiran Petrus (penembak misterius) yang menyasar orang-orang bertato. Seiring berjalannya waktu image tersebut pun luntur.

"Tato kini menjadi bagian dari seni dan gaya hidup. Banyak orang mentato tubuhnya untuk menegaskan sebuah prinsip hidup. Namun sebagai muslim, dalam ajaran agama saya, tato dilarang," imbuhnya.

Mantan Ketua DPR RI ini menilai Hendric Shinigami termasuk seniman tato luar biasa. Ia tidak mentato sembarangan orang. Sebelum mentato, ia menanyakan terlebih dahulu alasan kenapa seseorang ingin mentato tubuhnya. Jika tidak masuk akal, Hendric bahkan tak segan menolaknya.

"Membuat tato di tubuh tidak melanggar peraturan. Namun secara agama Islam, ada larangan. Sehingga dikembalikan kepada keyakinan masing-masing pemeluk agamanya. Karenanya, siapa pun yang ingin mentato tubuh, sebaiknya dipikirkan secara matang. Walaupun sudah ada layanan menghapus tato, namun bekasnya tidak bisa hilang sama sekali," tutur Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini mengingatkan agar tato sebagai sebuah seni jangan lagi terdegradasi menjadi simbol kriminalitas maupun ugal-ugalan. Oleh karenanya, pentato dan orang yang ditato wajib menjaga perilaku diri, karena mereka adalah cerminan.

"Terpenting, jangan jadikan tato sebagai simbol menakut-nakuti orang maupun gagah-gagahan," jelas Bamsoet.

Simak juga video 'Bonek Hijrah, Pendukung Persebaya Hapus Tato':

[Gambas:Video 20detik]



(prf/ega)