Puan Bicara 'Sumbar dan Pancasila', Ini Deretan Pahlawan dari Ranah Minang

Danu Damarjati - detikNews
Minggu, 06 Sep 2020 11:49 WIB
Para pahlawan nasional dari Sumatera Barat. (Repro detikcom)
Para pahlawan nasional kelahiran Sumatera Barat. (Repro detikcom)
Jakarta -

Ucapan Ketua PDIP Puan Maharani soal Sumatera Barat dan negara Pancasila menggelinding bak bola salju. Kontroversi muncul dari sana dan sini. Ngomong-ngomong soal Sumatera Barat, ada deretan panjang nama-nama kelahiran Ranah Minang yang diakui sebagai pahlawan nasional oleh negara Pancasila ini.

Tokoh-tokoh dari Sumatera Barat berikut ini berasal dari beragam era, dari zaman penjajahan Belanda, hingga zaman perjuangan kemerdekaan. Namun yang jelas, mereka telah diakui berjasa bagi negara Pancasila ini. Berikut adalah definisi pahlawan nasional menurut UU Nomor 20 Tahun 2009:

Pahlawan nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.

Berikut adalah daftar pahlawan nasional dari Sumatera Barat, dihimpun penulis dari catatan pemberitaan detikcom hingga keterangan situs resmi Direktorat K2KRS Kementerian Sosial, Minggu (6/9/2020).

1. Tuanku Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol sudah diakui sebagai Pahlawan Nasional sejak tahun 1973. Tuanku Imam Bonjol lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat, pada 1772. Dia meninggal di Sulawesi Utara pada 6 November 1864.

Pada 11 Januari 1833, pahlawan yang juga bernama Peto Syarif ini menyerang pertahanan Belanda. Dia menolak ajakan berdamai melalui Plakat Panjang yang diumumkan pada 25 Oktober 1833 dengan syarat menghancurkan benteng pertahanan mereka.

Sayang sekali, pada 28 Oktober 1837, Imam Bonjol tertipu. Saat dia menerima ajakan berunding Residen Francis, dia ditangkap dan akhirnya dibawa keluar Ranah Minang. Tokoh Minang itu wafat di Minahasa.

Sebagai ulama, dia tokoh terkemuka yang mengembangkan paham paderi dengan cara persuasif, juga menyebarkan Islam ke Tapanuli Selatan.

Gambar pahlawan Imam Bonjol dalam pecahan uang Rp 5.000Gambar pahlawan Imam Bonjol dalam pecahan uang Rp 5.000 Foto: Ari Saputra

2. Abdul Muis

Abdul Muis adalah sastrawan, wartawan, dan wakil rakyat di Volksraad (dewan rakyat). Lewat sastra, karyanya abadi, misalnya Salah Asuhan (1928). Abdul Muis lahir di Sungai Puar, Agam, 3 Juli 1883.

Dia berjasa dalam perjuangan lewat jurnalisme. Muis membantu harian De Express untuk menulis karangan yang menangkis penghinaan terhadap bangsanya Tahun 1916 ia bersama Agus Salim memimpin majalah Neraca, dan juga menjadi Pemimpin Redaksi Harian Kaoem Moeda.

Muis adalah pendorong berdirinya Technische Hooge School (ITB, Institut Teknologi Bandung). Abdul Muis wafat pada 17 Juni 1959 di Bandung. Dia menjadi Pahlawan Nasional sejak 30 Agustus 1959.

Pahlawan Nasional, Abdul Muis (Direktorat K2KRS Kemsos)Pahlawan Nasional, Abdul Muis (Direktorat K2KRS Kemsos) Foto: Pahlawan Nasional, Abdul Muis (Direktorat K2KRS Kemsos)

3. Agus Salim

Agus Salim lahir dengan nama Mashudul Haq, di Koto Gadang, Agam, 8 Oktober 1884 dan meninggal dunia pada usia 70 tahun di Jakarta. Mashudul Haq dipanggil sebagai Agus Salim lantaran pengasuhnya yang dari Jawa sering memanggilnya dengan sebutan 'Gus', sedangkan 'Salim' adalah nama ayahnya.

Dia adalah tokoh besar dalam sejarah negara ini. Penguasa sembilan bahasa ini adalah pejuang kemerdekaan, politikus, jurnalis, anggota BPUPKI, hingga pernah menjadi menteri luar negeri.

Dalam catatan sejarah politik, Agus Salim dikenal sebagai tokoh Sarekat Islam (SI). Dia dan Semaoen mendirikan Persatuan Pergerakan Kaum Buruh pada 1919. Agus Salim kemudian masuk ke kategori SI Putih, bertolak belakang dengan SI Merah cikal bakal PKI yang digawangi Semaoen. Pada 1929, Agus Salim menjadi ketua Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).

Agus Salim melontarkan gagasan Pan-Islamisme, atau persatuan umat Islam seluruh dunia. Dia menjadi anggota Volksraad (semacam DPR era Hindia-Belanda), namun keluar pada 1924 karena tidak mau bekerjasama dengan Belanda.

Di jalan jurnalisme, dia dan HOS Tjokroaminoto menerbitkan Fajar Asia pada 1925 di Yogyakarta, juga memimpin Hindia Baru di Jakarta. Agus Salim menjadi anggota BPUPKI dan Panitia Sembilan.

ilustrasi agus salimilustrasi agus salim Foto: Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4 5