detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Sabtu 07 September 2019, 12:15 WIB

Pustaka

Renungan Sjahrir yang Terus Mendengung

Bandung Mawardi - detikNews
Renungan Sjahrir yang Terus Mendengung Sampul buku "Renungan Indonesia" karya Sutan Sjahrir
Jakarta - Judul Buku: Renungan Indonesia; Penulis: Sutan Sjahrir; Penerjemah: HB Jassin; Penerbit: Bakung Putih, 2019; Tebal: xxi + 227 halaman

Tujuh puluh empat tahun lalu, orang-orang yang bisa berbahasa Belanda membaca tulisan-tulisan Sutan Sjahrir untuk masuk ke sejarah Indonesia masa kolonial. Buku itu berjudul Indonesiche Overpeinzingen (1945). Di Belanda, buku itu menjadi bacaan untuk memahami lakon pemimpin dan situasi Indonesia pada masa gejolak revolusi.

Pada 1947, buku itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh HB Jassin dengan judul Renungan Indonesia. Kini, Renungan Indonesia hadir lagi di hadapan kita melanjutkan renungan-renungan bertema Indonesia pada situasi abad XXI.

Rudolf Mrazek dalam buku berjudul Sjahrir: Politik dan Pengasingan Indonesia (1996) menganggap tulisan-tulisan di Renungan Indonesia itu memungkinkan dalam penulisan biografi atau autobiografi meski tak pernah terjadi. Warisan dari Sjahrir anggaplah biografi dan sejarah yang tak pernah lengkap.

Sutan Sjahrir menulis renungan tentang makan bertanggal 18 September 1934. Ia dimusuhi pemerintah kolonial. Ide dan gerakan politik diganjar dengan penjara dan pengasingan. Makanan di piring seng bagi Sjahrir selaku orang hukuman mengingatkan nasib kaum terjajah. Pada masa 1930-an, krisis dunia turut melanda Indonesia. Orang-orang sulit makan. Soekarno marah-marah dengan menulis artikel "melabrak" keangkuhan bangsa Eropa menuduh bumiputra "ngirit" dan sanggup hidup dengan segala keterbatasan.

Sjahrir menulis tanpa marah-marah mengenai diri dan makan: "Malahan aku merasa puas juga karena sudah bisa pula hidup sederhana dan sekadarnya seperti bangsaku yang terpaksa hidup demikian." Makan itu persoalan di tanah jajahan. Di penjara, Sjahrir makan tapi "makin lupa apa itu rasa enak dan kelezatan." Hari demi hari, ia malah gemuk.

Pada 1936, Sjahrir dan Mohammad Hatta diasingkan ke Banda Neira. Persekongkolan mereka memajukan politik dan pendidikan mendapat ganjaran "terindah" dari penguasa kolonial. Dua manusia keranjingan buku dan rajin menulis itu mulai menjalani hari-hari di Banda Neira, jauh dari Jawa sebagai pusat pergerakan politik. Sjahrir sempat mengeluh dalam catatan bertanggal 26 Februari 1936: "Sudah dua minggu aku di Banda Neira, tapi rasanya aku sudah berabad-abad di sini. Rasanya waktu di sini tidak berlalu."

Ia menanggung bosan, merawat kangen pada orang-orang tercinta di tempat-tempat jauh. Ia menantikan kedatangan surat-surat. Kata-kata diakui mujarab untuk menjalani hidup yang masih mungkin bermakna. Jauh dari keramaian politik, surat mengembalikan orang ke ketulusan dan sentuhan-sentuhan imajinasi pelbagai hal. Sepi di Banda Neira menjadi ibarat bagi "sepi" yang dialami dalam kancah pergerakan politik kebangsaan.

Orang-orang sudah menuduh Sjahrir berselera Eropa, sulit jadi tokoh di gerakan massa dengan kemahiran memberi seruan-seruan dan mencipta imajinasi kebangsaan secara kolosal. Sjahrir, yang nama "telat" terucap atau mendapat tepuk tangan dari orang-orang.

Pada 1945, kita melulu mengingat Soekarno dan Hatta. Ingatan ke Sjahrir ada di belakang. Tiga tokoh yang biasa disapa bung itu memiliki pesona berbeda. Sjahrir mungkin nama yang tak terlalu gampang mendapat pengertian besar pada hari-hari proklamasi. Ia pun memikirkan Indonesia, menggerakkan renungan ke aksi-aksi.

Sjahrir berada di "kubu sepi". Revolusi cepat "meriah", tapi Sjahrir bergumul dengan pemikiran-pemikiran tanpa pamer pekik dan mengucap hal-hal dramatik. Di tulisan-tulisan, ia bertaruh atas nasib Indonesia. Orang-orang mengingat pemikiran itu mewujud di buku Perjuangan Kita. Risalah yang jarang terbaca di pengisahan 1945.

Dalam pergaulan bareng kaum pergerakan politik kebangsaan, Sjahrir merasa terasing gara-gara jarang mau pada seruan politik massa. Ajakan untuk berpolitik dengan keilmuan dan percakapan dianggap bertele-tele di mata orang ramai. Sjahrir pun mengerti.

Soedjatmoko (1990) menjuluki Sjahrir sebagai sosok dengan ideologi konfrontasi meski teralienasi. Di album sejarah, ia memang terasing. Pada masa berbeda, buku-buku yang berisi tulisan-tulisan Sjahrir pun sepi dari pembaca.

Sjahrir memang masih terus bermunculan sebagai kutipan di tulisan-tulisan Soedjatmoko, Rosihan Anwar, So Hok Gie, YB Mangunwijaya, dan Goenawan Mohamad. Namun, pengutipan itu tak semeriah superti orang-orang yang selalu mengingat masa lalu Indonesia dengan deretan kutipan dari Soekarno, Hatta, Tan Malaka, dan lain-lain.

Di Renungan Indonesia, kita memiliki episode-episode pengalaman dan keinginan-keinginan Sjahrir yang belum tentu diterjemahkan pada tahun-tahun revolusi. Sjahrir cenderung serius memandang dan membandingkan antara Indonesia dan Belanda di situasi yang selalu tak menguntungkan untuk tanah jajahan. Kita membaca "ajakan" yang memuat marah tanpa parade tanda seru:

Kita bisa mengubah diri kita sendiri, artinya menjadi kebal sehingga tidak marah lagi melihat perbuatan-perbuatan yang sadistis dan tanda-tanda persangkaan diri besar dari satu pihak dan dari harga diri. Kita bisa mengubah diri sendiri sehingga tidak membenci orang-orang sakit, bahkan juga orang-orang gila, hanya memberikan senyuman yang mengandung belas kasihan kepada mereka, kalau kita tidak merasa wajib atau tidak berdaya untuk menyembuhkannya.

Kalimat-kalimat politis itu tertinggal di masa lalu. Jumlah pembaca tulisan-tulisan Sjahrir mungkin sulit melampaui para pembaca buku-buku Soekarno dan Hatta. Di majalah Pantja Raja, 15 Mei 1947, LHC Horsting membuat ulasan bertaburan pujian untuk Renungan Indonesia. Kita menduga itu resensi sambutan ketimbang menantikan orang-orang membaca dan membincangkan di kesibukan revolusi. Resensi itu pantas dikenang, tanda penerbitan buku memicu tanggapan pembaca. Pujian terpenting: "Sjahrir ialah suara negara Indonesia mendengung diudara dan dimana-manapun didengarkan orang dengan teliti."

"Dengung" itu sampai ke YB Mangunwijaya (1996). Pada saat memberi kritik atas mutu kesarjanaan dan kekuasaan di Indonesia, arsitek dan novelis itu menjadikan Sjahrir sebagai contoh. Kita diingatkan tentang ketokohan Sjahrir selaku intelektual dan pemimpi yang cuma memiliki ijazah setingkat SMA. Ijazah disimpan di laci lemari saat Sjahrir menjalankan tugas sebagai perdana menteri, dan menentukan hasil sekian diplomasi demi Indonesia.

Dengung itu bisa menjadi peringatan bahwa keinginan untuk selalu mengatakan dan menulis tentang Indonesia perlu menghindari pengidolaan atau pengultusan. Sjahrir seolah mengingatkan bahwa itu tulisan, orang yang menulis, lebih berharga ketimbang tokoh yang "cerewet" dengan slogan dan nasihat.

Renungan Indonesia berasal dari masa lalu. Kini, kita berhadapan (lagi) saat Indonesia sedang memiliki kerja-kerja besar. Kerja itu keutamaan ketimbang melamunkan Indonesia. Buku ini memang bukan petunjuk untuk melaksanakan kerja-kerja abad XXI. Sjahrir tak memerankan diri jadi peramal nasib Indonesia.

Lewat Renungan Indonesia, kita justru diajak menyelami kebimbangan saat Sjahrir mengalami hari-hari di penjara dan pengasingan. Ia merenungkan Indonesia dengan tulisan. Kini perlu membacanya kembali tanpa perlu tergesa seperti meladeni segala hal yang berseliweran di koran, televisi, dan media sosial. Sjahrir mungkin ingin pembaca-pembaca itu menikmati waktu seperti masa lalu, tak harus dengan kecepatan dan tergoda melekaskan komentar-komentar picisan.

Bandung Mawardi kuncen Bilik Literasi, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019)


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com