6 Bulan Corona di Aceh: Polemik Jam Malam-'Ledakan' Kasus Usai Dipuji Jokowi

Agus Setyadi - detikNews
Jumat, 04 Sep 2020 12:47 WIB
Suasana sepinya kota Banda Aceh di hari pertama Ramadhan (Agus Setyadi-detikcom)
Foto Ilustrasi Kota Banda Aceh (Agus Setyadi/detikcom)
Pariwisata Lumpuh

Pandemi virus Corona berdampak besar terhadap dunia pariwisata. Dalam tiga bulan terakhir, tidak ada turis asing yang melancong ke Tanah Rencong.

Berdasarkan data dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, sejak Mei hingga Juli tidak ada seorang pun turis asing yang berwisata ke Serambi Mekah. Kondisi ini akibat pembatasan penerbangan dan pelayaran karena pandemi Corona.

"Selama pembatasan penerbangan dan pelayaran luar negeri, maka jumlah kedatangan wisatawan mancanegara pada bulan Juli pun menjadi tidak ada," kata Kepala BPS Aceh Ihsanurijal, Rabu (2/9/2020).

Pariwisata Aceh terakhir berdenyut pada Maret lalu dengan jumlah turis asing 2.389 orang. Pelancong terbanyak berasal dari Malaysia 2.047 orang, Jerman 30 turis, serta Singapura 28 turis.

Sebulan kemudian, jumlah kunjungan merosot drastis. Pada April, hanya ada satu turis yang berlibur ke provinsi ujung paling barat Indonesia.

"Jumlah wisman secara kumulatif dari Januari-Juli adalah sebanyak 10.402 orang, mengalami penurunan sebesar 35,65
persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2019," jelas Ihsanurijal.

Pemprov Gebrak Masker

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh menyebar 19.735 orang hingga ke pelosok desa untuk mengkampanyekan Gerakan Masker Aceh (Gema). Program ini bagian dari kampanye Gebrak Masker yang digaungkan Pemerintah Pusat.

"Kita melibatkan semua stakeholder. Gema ini menyasar seluruh masyarakat sampai ke tingkat rumah tangga," kata Nova dalam keterangan kepada wartawan, Selasa (1/9/2020).

Tim yang diberangkatkan tersebut bakal menggelar kampanye serentak pada Jumat 4 September mendatang. Kampanye pakai masker digelar di 3.883 mesjid serta 6.497 desa dengan pesan utamanya "Ingat COVID-Ingat Masker!"

"Pesan Gema akan disampaikan melalui khutbah Jumat dan media informasi baliho, spanduk dan poster," jelas Nova.

Nova mengatakan, program Gema dibikin karena angka kasus COVID-19 di Aceh saat ini sudah masuk kategori memprihatinkan. Tingkat penularan meningkat tajam.

"Berbagai upaya seperti pengobatan atas pasien dan pencegahan telah dilakukan. Namun upaya-upaya itu dinilai belum maksimal. Karena itu, pemerintah kemudian menggerakkan Gema, bagian gerakan Gebrak Masker yang dilakukan di seluruh Indonesia," jelas Nova.

Halaman

(agse/haf)