Brotoseno Bebas Bersyarat, ICW Soroti soal Justice Collaborator

Yulida Medistiara - detikNews
Kamis, 03 Sep 2020 18:27 WIB
Peneliti ICW Kurnia Ramadana (Sachril Agustin Berutu/detikcom)
Peneliti ICW Kurnia Ramadhana (Sachril Agustin Berutu/detikcom)
Jakarta -

ICW menyoroti terpidana kasus suap Raden Brotoseno yang akan bebas murni pada akhir September karena mendapatkan status bebas bersyarat sejak Februari 2020. ICW mempertanyakan status justice collaborator (JC) yang diperoleh Brotoseno sehingga bisa bebas lebih cepat.

"ICW mempertanyakan status justice collaborator (JC) yang dijadikan dalih Kementerian Hukum dan HAM untuk memberikan remisi serta pembebasan bersyarat terhadap terpidana kasus korupsi Raden Brotoseno," kata peneliti ICW Kurnia Ramadhana, Kamis (3/9/2020).

Kurnia memaparkan ada tiga aturan yang mengatur tentang pemberian JC, yakni SEMA 4/2011; Peraturan Bersama antara KPK, Kepolisian, Kejaksaan, Kemenkum HAM, dan LPSK; dan UU 31/2014. Keseluruhan aturan tersebut menyebutkan secara jelas bahwa JC tidak dapat diberikan kepada pelaku kejahatan yang digolongkan sebagai pelaku utama.

Sementara itu, Kurnia menyebut Brotoseno dinyatakan terbukti bersalah menerima suap berupa uang sebesar Rp 1,9 miliar dan 5 tiket pesawat kelas bisnis Yogyakarta-Jakarta senilai Rp 10 juta terkait penundaan pemanggilan Dahlan Iskan dalam kasus korupsi cetak sawah. Kurnia mempertanyakan siapa pelaku sebenarnya dalam kasus tersebut jika Brotoseno ditetapkan sebagai JC.

"Jika JC itu diberikan oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, tentu Korps Adhyaksa mempunyai kewajiban untuk memberitahukan kepada publik terkait dengan pertanyaan: jika Brotoseno dianggap bukan pelaku utama sehingga dapat diberi status JC, maka siapa pelaku utama dalam perkara tersebut?" ungkapnya.

Perihal JC tersebut diketahui Kurnia berdasarkan penjelasan Kepala Bagian Humas dan Protokol Rika Aprianti dalam siaran persnya. Kurnia mengatakan, dalam pernyataan pers tersebut, Brotoseno mendapatkan remisi dan hak pembebasan bersyarat berdasarkan surat dari Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan karena membantu bekerja sama dengan aparat penegak hukum atau justice collaborator.

"Karena remisi dan pembebasan bersyarat. Akan tetapi remisi dan pembebasan bersyarat tersebut dikarenakan adanya surat dari Kejari Jaksel mengatakan bahwa yang bersangkutan JC," ujarnya.

Diketahui, Brotoseno ditahan sejak 18 November 2016 dan dihukum 5 tahun penjara. Seharusnya dia bebas pada 18 November 2021.

Namun, karena Brotoseno berkelakuan baik, ia mendapatkan remisi sehingga bisa keluar lebih awal.

"Hak remisi sebanyak 13 bulan 25 hari sesuai Pasal 34A Ayat (1) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 99 Tahun 2012," ujar Rika.

Rika menjelaskan Brotoseno telah bebas bersyarat pada 15 Februari 2020 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia nomor PAS-1052.OK.01.04.06 Tahun 2019 tentang Pembebasan Bersyarat Narapidana serta pidana denda Rp 300.000.000,- subsider 3 bulan telah habis dijalankan.

Hak bebas bersyarat itu sesuai Pasal 43A Ayat (1) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 99 Tahun 2012 karena telah menjalani dua pertiga dari masa hukuman. Selain itu, Rika menyebut Brotoseno telah memenuhi syarat administratif, termasuk bersedia membantu dan bekerja sama dengan aparat penegak hukum berdasarkan surat dari Kejari Jaksel.

"Bahwa yang bersangkutan telah memenuhi syarat administratif dan substantif, termasuk telah bersedia membantu dan bekerja sama dengan aparat penegak hukum berdasarkan surat keterangan dari Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan nomor: B- 1388/0.1.14.4/Fu.1/05/2018 tertanggal 16 Mei 2018, sehingga yang bersangkutan diberi hak remisi dan hak pembebasan bersyarat," pungkas Rika.

Lihat juga video 'Sudah Move On, Inikah Sosok Kekasih Baru Tata Janeeta?':

[Gambas:Video 20detik]



(yld/dhn)