Manuver Gatot di Barisan Oposisi: 212 Sampai KAMI

Elza Astari Retaduari - detikNews
Kamis, 27 Agu 2020 16:43 WIB
Jenderal Gatot Nurmantyo saat hadiri acara Blak-blakan detikcom
Gatot Nurmantyo (Rachman Haryanto/detikcom)
Jakarta -

Jejak Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo menjadi oposisi Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah terlihat sejak ia masih tergabung dalam kabinet sebagai Panglima TNI. Gatot terus bermanuver menjadi 'lawan' politik Jokowi hingga kini bergabung bersama Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI).

Gatot Nurmantyo ditunjuk Presiden Jokowi sebagai Panglima TNI menggantikan Jenderal (Purn) Moeldoko pada 8 Juli 2015. Moeldoko diganti karena akan memasuki masa pensiun.

Hubungan Gatot dan Jokowi awalnya terlihat manis. Namun, menjelang Pilpres 2019, hubungan hangat keduanya mulai berubah.

Gatot dituding mulai bermain politik sejak 2017. Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Universitas Padjadjaran, Bandung, Muradi menilai ada tiga manuver politik yang dilakukan Gatot saat masih menjadi Panglima TNI.

Tiga manuver yang dimaksud adalah menunggangi momentum aksi demo 4 November (411) atau 2 Desember alias 212. Aksi-aksi ini menuntut pemerintah bertindak terkait kasus penistaan agama Basuki T Purnama (Ahok).

Gatot sempat menemui massa 411 ketika Presiden Jokowi tidak hadir. Gatot mengenakan kopiah putih saat itu. Kala itu muncul tafsiran Gatot dekat dengan massa ormas Islam.

"Saya saat itu Panglima TNI, dalam situasi masyarakat jutaan, Presiden di tengahnya, blank saya, bagaimana agar kalau ada apa-apa, Presiden selamat, itu taruhan, keselamatan Presiden di tangan saya. Saya harus berikan kode, saya bagian dari umat," tutur Gatot di acara Blak-blakan detikcom, Kamis (22/3/2018).

Kemudian Gatot juga ada pada Aksi 212. Hanya, saat itu Presiden Jokowi juga hadir di tengah-tengah massa aksi. Presiden Jokowi dan jajarannya juga ikut salat Jumat bersama massa di Monas.

Massa demo 4 November sudah bergerak menuju Istana. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo ikut memantau personel gabungan di Istana.Gatot Nurmantyo saat masih menjadi Panglima TNI. (Foto: dok. detikcom)

Manuver Gatot kedua adalah dengan memberikan perintah adanya nonton bareng film G30S/PKI di jajaran TNI. Ini juga dinilai sebagai cara Gatot berpolitik saat masih menjadi prajurit.

"Saya sudah lihat dia berpolitik sejak setahun lalu. Buat saya, berat untuk mengatakan dia (Jenderal Gatot) tidak berpolitik," kata Muradi kepada wartawan, Selasa (26/9/2017).

Dalam catatan detikcom, Gatot juga pernah membuat kontroversi ketika dalam wawancara dengan sebuah stasiun televisi menyatakan diri tersinggung bila umat Islam dituding akan melakukan makar. "Kalau ada demo, jangan dianggap makar. Pasti demo akan dilakukan dengan kedewasaan masyarakat salurkan aspirasinya, dan itu sah-sah saja," ucap Gatot, 4 Mei 2017.

Selang dua pekan kemudian, Jenderal Gatot kembali membuat sejumlah pihak tercengang. Saat tampil dalam Rapat Pimpinan Nasional Partai Golkar di Balikpapan, dia membacakan puisi 'Tapi Bukan Kami Punya'. Puisi karya konsultan politik Denny JA itu berisi kritik terhadap pemerintah.

"Kalau Panglima bermaksud dengan puisi ini untuk kritik pemerintahan Jokowi, salah alamat, deh. Jangan-jangan ibarat menepuk air di dulang, tepercik muka sendiri," ujar anggota Komisi I DPR Andreas Hugo Pareira dari Fraksi PDI Perjuangan, 23 Mei 2017.

Nama Gatot juga sempat dikait-kaitkan terlibat dalam Aksi 212. Sebab, sempat muncul poster Aksi 212 viral di media sosial. Poster ajakan turun dalam aksi 21 Februari 2017 alias aksi 212 jilid II memuat foto Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai salah satu di dalamnya. Dari gambar itu, Gatot Nurmantyo terkesan memiliki peran di aksi itu.

Poster maya itu beredar di jejaring media sosial. Selain gambar Jenderal Gatot Nurmantyo, poster itu menampilkan foto imam besar FPI Habib Rizieq Syihab, Syekh Ali Jaber, Ustaz Arifin Ilham, KH Abdullah Gymnastiar, dan Ketua Umum GNPF MUI Ustaz Bachtiar Nasir. Hal tersebut dibantah TNI saat itu.

"Tidak benar dan berita bohong. Poster aksi damai Bela Islam V menampilkan gambar Panglima TNI adalah hoax," ungkap Kapuspen TNI Mayjen Wuryanto saat dimintai konfirmasi detikcom, Senin (20/1/2017).

Tonton video 'Gatot Nurmantyo Singgung Bahaya Proxy War dan Oligarki Kekuasaan!':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2 3