Disindir Megawati, Elektabilitas Gatot Nurmantyo Cuma 1,4%

Elza Astari Retaduari - detikNews
Kamis, 27 Agu 2020 13:33 WIB
Chairman CT Corp Chairul Tanjung (CT) menggelar acara buka puasa bersama di kediamannya, Jl Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (2/6/2018). Mulai dari BJ Habibe, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hingga Jusuf Kalla hadir.
Foto: Gatot Nurmantyo. (Grandyos Zafna/detikcom).
Jakarta -

Ketum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menyindir tokoh yang ada di Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) berambisi ingin menjadi Presiden RI. Gatot Nurmantyo yang merupakan salah satu deklarator KAMI memang sempat masuk bursa capres, namun elektabilitasnya masih kecil.

Berdasarkan survei paling anyar Lembaga survei Indikator Politik Indonesia yang dirilis pada Selasa (21/7), Gatot berada di posisi ke-9 tokoh-tokoh yang masuk bursa capres. Elektabilitas mantan Panglima TNI itu hanya 1,4%.

Posisi teratas kandidat capres untuk Pilpres 2024 versi survei Indikator adalah Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Kemudian disusul oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Menhan Prabowo Subianto.

Survei digelar pada 13-16 Juli 2020. Sampel survei ini sebanyak 1.200 responden yang dipilih secara acak dari kumpulan sampel acak survei tatap muka langsung yang dilakukan Indikator Politik Indonesia pada rentang Maret 2018 hingga Maret 2020.

Jumlah sampel yang dipilih secara acak untuk ditelpon sebanyak 5.872 data, dan yang berhasil diwawancarai dalam durasi survei, yaitu sebanyak 1.200 responden. Toleransi kesalahan (margin of error) sekitar ±2.9% pada tingkat kepercayaan 95%. Sampel berasal dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proporsional.

Survei soal capres pilihan dilakukan dengan menyodorkan 15 nama kepada responden. Pertanyaan survei adalah: "Jika pemilihan presiden diadakan sekarang, siapa yang Ibu'Bapak pilih sebagai presiden di antara nama-nama berikut ini?"

Hasilnya sebagai berikut:

- Ganjar Pranowo 16,2%
- Anies Baswedan 15%
- Prabowo Subianto 13,5%
- Sandiaga Salahuddin Uno 9,2%
- Ridwan Kamil 8,6%
- Agus Harimurti Yudhoyono 6,8%
- Khofifah Indar Parawansa 3,6%
- Puan Maharani 2%
- Gatot Nurmantyo 1,4%
- Tito Karnavian 1,3%
- Erick Thohir 1%
- M Mahfud MD 0,8%
- Airlangga Hartarto 0,3%
- Budi Gunawan 0,2%
- Muhaimin Iskandar 0,2%
- Tidak Tahu/Tidak Jawab 19,9%

Gatot Nurmantyo menghadiri deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), di Tugu Proklamasi, Jakarta, Selasa (18/8/2020).Gatot Nurmantyo (tengah) di acara deklarasi KAMI. (Luqman/detikcom).

Gatot merupakan salah satu deklarator KAMI yang disebut sebagai gerakan moral. KAMI memberikan tuntutan kritis kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) sehingga dianggap sebagai kelompok oposisi baru.

Saat menyampaikan orasi, Gatot berbicara soal kondisi Indonesia akibat proxy war yang diperburuk karena berkembangnya oligarki kekuasaan. Gatot merupakan Panglima TNI di periode pertama Presiden Jokowi, sampai akhirnya diganti oleh Marsekal Hadi Tjahjanto.

Pernyataan Gatot soal oligarki kekuasaan di acara KAMI dinilai keluar akibat kepentingan politiknya tak terakomodasi. Ada bayang-bayang kegagalan nyapres di balik kritik Gatot tersebut.

"Kemungkinan lainnya tokoh tersebut tidak terakomodasi secara politik juga amat sangat mungkin. Pak Gatot misal dulu diwacanakan, atau kabarnya diwacanakan sebagai Capres, mau maju Capres tapi tidak jadi maju atau tidak bisa maju, pengalaman itu yang membaut Pak Gatot mengatakan ada oligarki yang halangi beliau maju Capres di tahun 2019," demikian analisis pengamat politik M Qodari.

KAMI memang menuai pro dan kontra. Beberapa pihak menyoroti deklarasi KAMI di tengah pandemi virus Corona (COVID-19).

Sementara sindirian Megawati Soekarnoputri disampaikan saat membuka Sekolah Partai Angkatan II bagi Calon Kepala Daerah dan Calon Wakil Kepala Daerah PDIP secara virtual, Rabu (26/8/2020). Secara tiba-tiba, ia menyinggung soal lahirnya KAMI.

"Jadi kemarin-kemarin ini ada pemberitaan ada orang kan yang membentuk KAMI, itu KAMI. Di situ kayaknya banyak banget yang kepengin jadi presiden," kata Megawati.

Megawati kemudian menyinggung kenapa KAMI tak sekalian saja buat partai politik. "Saya itu mikir, lah daripada bikin KAMI seperti itu, kenapa ya nggak dulu bikin partai ya," tutur Presiden ke-5 RI ini.

(elz/tor)