Manuver Gatot di Barisan Oposisi: 212 Sampai KAMI

Elza Astari Retaduari - detikNews
Kamis, 27 Agu 2020 16:43 WIB
Jenderal Gatot Nurmantyo saat hadiri acara Blak-blakan detikcom
Gatot Nurmantyo (Rachman Haryanto/detikcom)

Kelompok relawan berjibaku agar Gatot Nurmantyo bisa masuk di gelanggang Pilpres 2019. Ketua Presidium Nasional GNR Dondi Rivaldi menyatakan pihaknya siap memenangkan Gatot. GNR juga siap membantu konsolidasi agar eks Panglima TNI itu bisa mendapatkan tiket sebagai capres ataupun cawapres.

Sementara itu, RSPN mengumumkan dukungan dan mengklaim sejuta lebih alumni 212 di DKI Jakarta dan Jawa Barat menjadi anggota mereka. Mereka tak sekadar bergabung, tapi juga ikut serta dalam kepengurusan relawan di daerah masing-masing.

"Dari alumni 212 ada sekitar satu juta lebih. Mereka merasa bahwa Gatot Nurmantyo merupakan salah satu pilihan terbaik dari calon yang sudah ada," kata Ketua RSPN Rama Yumatha, Rabu (4/4/2018).

Bahkan RSPN juga melakukan lobi-lobi ke partai peserta pemilu. Mereka mendatangi sejumlah partai agar bisa mendukung Gatot Nurmantyo.

"Jadi langkah-langkah RSPN mau ke partai-partai. Sudah dilaksanakan PBB, PKS, dan akan ke PKB insyaallah. Rencana PAN, Gerindra, Demokrat, PKB sementara itu dulu, yang nonkoalisi (Jokowi) dulu," ucap Sekjen RSPN Sumiarsi kepada detikcom, Sabtu (14/4/2018).

Namun perjuangan Gatot di Pilpres 2019 tak berjalan mulus. Parpol-parpol tak ada yang memberikan dukungan untuknya. Prabowo Subianto memutuskan berduet dengan Sandiaga Uno di Pilpres 2019. Pasangan tersebut diusung oleh Gerindra, Demokrat, PKS, dan PAN. Sisa partai yang lain merapat ke Jokowi-Ma'ruf Amin.

Meski begitu, Gatot Nurmantyo tak patah semangat. Meski tak ikut di ring utama pertarungan Pilpres 2019, ia tetap memposisikan diri menjadi 'rival' Jokowi. Gatot memilih merapat ke kubu Prabowo. Hal tersebut terlihat saat Prabowo mengenalkan orang-orang yang akan membantunya di pemerintahan jika memenangi Pilpres 2019.

Gatot Nurmantyo menghadiri deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), di Tugu Proklamasi, Jakarta, Selasa (18/8/2020).Gatot Nurmantyo di deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). (Luqman/detikcom).

Pengumuman itu disampaikan Prabowo dalam pidato kebangsaannya di Dyandra Convention Center, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (12/4/2019). Gatot datang dalam acara tersebut. Selain Gatot, ada juga nama seperti Rocky Gerung hingga Fahri Hamzah.

"Saya tidak pernah cek mereka partai mana, ada yang profesional, ada yang bisa pakai dasi, ada yang nggak bisa, ada anak-anak muda juga. Tapi kita bergabung secara alamiah. Saya tidak bikin iklan dicari putra-putri terbaik, mereka datang sendiri," sebut Prabowo saat itu.

Gatot Nurmantyo mengaku datang atas permintaan langsung Prabowo. Ia sempat diminta berbicara di atas podium acara pidato kebangsaan Prabowo.

"Saya datang ke sini tidak lain karena bangsa memanggil untuk negara dan rakyat Indonesia atas telepon dari beliau, Bapak Prabowo meminta saya hadir dan bicara masalah kebangsaan di sini," ujar Gatot.

Setelah Pilpres 2019 dimenangi Jokowi, nama Gatot tak lagi banyak terdengar. Hanya, setelah Prabowo memutuskan bergabung dengan pemerintahan Jokowi, tampaknya tidak demikian dengan Gatot.

Mantan KSAD itu memilih untuk tetap menjadi oposisi Jokowi. Ini terbukti dengan parsitipasinya dalam pendirian KAMI. Ia menjadi salah satu deklarator kelompok yang melabeli diri sebagai gerakan moral itu.

Saat menyampaikan orasi, Gatot berbicara soal kondisi Indonesia akibat proxy war yang diperburuk karena berkembangnya oligarki kekuasaan. Pernyataan Gatot soal oligarki kekuasaan di acara KAMI dinilai keluar akibat kepentingan politiknya tak terakomodasi. Ada bayang-bayang kegagalan nyapres di balik kritik Gatot tersebut.

"Kemungkinan lainnya tokoh tersebut tidak terakomodasi secara politik juga amat sangat mungkin. Pak Gatot misal dulu diwacanakan, atau kabarnya diwacanakan sebagai capres, mau maju capres tapi tidak jadi maju atau tidak bisa maju, pengalaman itu yang membuat Pak Gatot mengatakan ada oligarki yang halangi beliau maju capres di tahun 2019," demikian analisis pengamat politik M Qodari.

Setelah kembali muncul, nama Gatot terus dibicarakan. Bahkan Lembaga Survei Indonesia (LSI) Network Denny JA menyebut Gatot bisa menjadi penyelamat untuk PPP di Pemilu 2024.

"Dua tokoh nasional, Jenderal Gatot Nurmantyo (GN) dan Sandiaga Salahuddin Uno (SSU) sangat potensial menjadi magnet publik yang dapat mengantar Partai Persatuan Pembangun (PPP) kembali bangkit sebagai parpol besar. Jika tak ada, PPP hanya akan menjadi kapal tua yang sebentar lagi karam," ujar Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah, dalam keterangan tertulis, Rabu (26/8/2020).

Meski begitu, Gatot mendapat sindiran dari Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Megawati menilai tokoh-tokoh KAMI punya ambisi ingin menjadi calon presiden.

"Jadi kemarin-kemarin ini ada pemberitaan ada orang kan yang membentuk KAMI, itu KAMI. Di situ kayaknya banyak banget yang kepengin jadi presiden. Saya itu mikir, lah daripada bikin KAMI seperti itu, kenapa ya nggak dulu bikin partai ya," kata Megawati saat membuka Sekolah Partai Angkatan II bagi Calon Kepala Daerah dan Calon Wakil Kepala Daerah PDIP secara virtual, Rabu (26/8/2020).

Halaman

(elz/van)