Round-Up

Gerah Partai Ka'bah Diprediksi Karam

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 26 Agu 2020 21:34 WIB
Merayakan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72, Kantor DPP PPP, Jakarta, dihiasi dengan pemasangan bendera Merah Putih Raksasa.
Kantor PPP (Rengga Sencaya/detikcom)
Jakarta -

PPP atau Partai Ka'bah diprediksi Lembaga Survei Indonesia (LSI) Network Denny JA akan karam di Pemilu 2024 bila tak menggaet tokoh yang punya pengaruh besar ke publik. Ada dua nama besar yang dinilai bisa menjadi magnet bagi PPP, yakni Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo dan mantan cawapres Sandiaga Uno.

"Dua tokoh nasional, Jenderal Gatot Nurmantyo (GN) dan Sandiaga Salahudin Uno (SSU) sangat potensial menjadi magnet public yang dapat mengantar Partai Persatuan Pembangun (PPP) kembali bangkit sebagai parpol besar. Jika tak ada, PPP hanya akan menjadi kapal tua yang sebentar lagi karam," ujar Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah, dalam keterangan tertulis, Rabu (26/8/2020).

Toto menilai berbagai program dan sistem organisasi yang ditawarkan PPP tak akan banyak membawa efek keterpilihan jika tak ada figur moncer sebagai leader. Untuk itu, PPP harus mencari tokoh yang punya daya tarik besar.

"PPP harus mampu mencari figure ketua umum yang memiliki magnet public yang kuat," terang Toto.

"Meskipun program penting, tapi yang tak kalah penting dibutuhkan PPP saat ini adalah figur. Rentetan kasus hukum yang telah menyeret beberapa ketua umumnya masuk penjara, membuat PPP kehilangan legitimasi moral untuk jualan program sebagai daya tarik partai," sambung dia.

Seperti diketahui, dua ketua umum PPP yakni Suryadharma Ali dan Romahurmuziy terseret dalam kasus korupsi. Saat ini PPP dipimpin oleh Ketum Suharso Monoarfa yang juga menjabat sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas).

Toto menyebut, figure kuat diperlukan PPP karena partai berlambang Ka'bah ini memilih kelompok Islam sebagai captive market yang turun temurun sejak Orde Baru. Sementara ceruk yang sama sekarang sudah diambil merata partai berbasis Islam yang lain, seperti PAN, PKS, dan PKB.

"Idealnya kekuasaan bisa seperti Golkar yang tidak tergantung pada figure ketua umum karena punya sistem yang relatif kokoh dengan cengkeraman kuku birokrasi kekuasaan yang kuat dan merata. Namun, untuk PPP dalam konteks hari ini sangat rawan nasibnya jika tak segera memiliki figure yang punya kapasitas personal dan bermagnet electoral," paparnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2